Pelacur Viral, Pelacur Dunia Maya dan Pelacur Online

Sumber gambar: openwalls.com
Pelacur Viral, Dunia Maya dan Online - Beberapa hari lalu saya membaca sebuah artikel daru sebuah website ternama. Sebuah website kreatif yang punya banyak artikel meraik dan lucu, membuat para pembacanya malas untuk beranjak dari website tersebut. Artikel tersebut sedang membahas seorang Ustadz yang menghubungkan do'a dengan kenaikan kurs Rupiah terhadap Dolar.

Sedikit penasaran saya pun membaca artikel tersebut. Sebuah artikel yang menurut admin web tersebut hanya becandaan dan mengabarkan bahwa Ustadz tersebut mengajak untuk berdo'a bersama (FYI: Artikel tersebut sudah diedit oleh admin web tersebut untuk menghindari kesalah pahaman lebih lanjut). Banyak orang yang berkomentar sinis atas tulisan tersebut. Hingga ada seorang netizen yang berkomentar "Web ini sudah jadi pelacur viral, semoga sukses dan menjadi viral artikelnya".

Karena saya seorang yang latah, saya pun jadi ikut-ikutan berkomentar menggunakan istilah pelacur viral tadi. Berawal dari penasaran, saya pun tersulut emosi karena membaca artikel tersebut. Tak sepantasnya seorang pemuka agama dijadikan bahan olok-olok, bahan becanda dan kelakar. Kemudian tercetuslah ide untuk menuliskan tentang istilah pelacur viral tersebut, siapa tau akan banyak orang yang penasaran dengan istilah tersebut seperti saat saya menuliskan Pelacur Politik beberapa waktu lalu.

Jadi apakah sebenarnya pelacur viral itu? Sebenarnya saya tak paham betul soal istilah tersebut. Tapi saya akan mencoba untuk menyimpulkannya. Seperti yang kita tahu, pelacur adalah seorang wanita yang mengumbar kemolekan tubuhnya dan kecantikkan wajahnya kepada pria-pria hidung belang untuk menjajakan lubang surgawinya. Mengumbar setiap jenkal auratnya agar bisa terjual laku. Semua itu mereka lakukan demi uang, ─meskipun beberapa melakukannya demi kepuasan dan hobi toh pada akhirnya mereka mendapatkan uang juga.

Tak peduli apakah yang dilakukannya adalah zina dan haram, asal dapat uang, apapun jadi. Ya seperti itulah yang dilakukan oleh para pelacur viral. Oh ya saya belum membahas arti viral. Viral merupakan pesan yang ditulis pada media elektronik. Entah itu status facebook, line, path, twitter, blog, bahkan caption di instagram juga merupakan viral. Namun saya tidak begitu yakin, apakah asal kita menuliskan sesuatu di media digital sudah bisa disebut viral? Ataukah harus menjadi trending topik dulu baru bisa disebut viral?

Berada pada suatu masa, ketika malas sekali bertanya pada Mbah Google lantaran terlalu banyak artikel kuat dalam SEO tapi lemah dalam konten.
Posted by Aditiya Zamrud Anggar Kasih on Sunday, December 14, 2014

Pelacur viral melakukan hal yang sama agar konten yang mereka buat laris dibaca orang lain. Entah dengan cara apapun. Memperkuat SEO tanpa mempedulikan konten, memoles judul tanpa mempedulikan isi konten, bahkan sampai dengan cara kotor seperti memfitnah. Saya tidak menyalahkan orang-orang yang seperti itu, karena saya sendiri sedang melakukan hal itu. Siapa tau banyak orang yang kesasar ke blog saya ini ketika mencari tulisan pelacur dunia maya ataupun pelacur online.

Disadari atau tidak, mental masyarakat di Negeri Antah Berantah, Provinsi Media Sosial, pada umumnya adalah fokus pada judul konten dan terkadang malah tidak mau membaca isi konten yang seharusnya lebih penting untuk direnungkan. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh penulis kecil dan busuk, tak terkecuali saya. Dan cara membaca dan menulis seperti ini sudah membudaya pada masyarakat. Seperti layaknya prinsip ekonomi saja, ada permintaan juga ada penawaran.

Entah budaya seperti ini terjadi karena apa. Karena berawal dari seorang penulis pintar yang membuat judul unik lalu masyarakat terbiasa merasa hanya cukup membaca judulnya saja. Atau kah karena kebanyakan masyarakat malas membaca dan hanya suka membaca judul saja sehingga banyak penulis yang seperti itu!?

Dan, kembali menggunakan kata-kata yang sama, disadari atau tidak masyarakat di Negeri Antah Berantah, Provinsi Media Sosial, terbagi menjadi 3 kelompok saat membaca sebuah kasus. Kelompok pro, kelompok kontra, dan kelompok yang tidak peduli. Dengan perbandingan jumlah masyarakat 45% kelompok pro, 45% kelompok kontra dan 10% kelompok yang tidak peduli (Note: prosentasi jumlah masyarakat hanya perkiraan dan mungkin hanya fiktif). Sehingga menuliskan sebuah tulisan secara viral tentang sesuatu yang sedang hangat diperbincangkan, entah pro atau kontra, akan medatangkan banyak pembaca yang mendukung atau memaki.

Kita ambil saja contoh kepemimpinan Presiden Jokowi. Saya akui dalam masalah ini saya termasuk dalam kelompok minoritas 10%, kelompok yang tidak peduli dengan kepemimpinannya. Namun saat saya menulis tentang beliau, tentang mendukung kegiatan beliau, hal ini malah membuat tulisan saya sempat menjadi trending topik di Google+. Banyak orang berkomentar tidak setuju dengan tulisan saya, semakin saya menjelaskan semakin banyak yang datang berkomentar nyinyir. Saya tidak sendirian karena banyak juga orang yang berkomentar mendukung, menandakan setuju dengan tulisan saya.

Tidak percaya dengan pengalaman saya? Coba saja tuliskan apapun secara viral tentang kepemerintahan. Yang lebih cepat sebenarnya tulisan yang bernada nyinyir. Tulisan seperti itu akan cepat mengundang banyak komentar. Entah mendukung, entah menghujat. Seperti kita sedang melempar bangkai lembu dikerumunan buaya, lembu menjadi sasaran empuk para buaya.

Oh ya kembali ke topik tentang website terkenal tadi. Saya sebenarnya tidak masalah dengan konten yang seakan berusaha menarik banyak pembaca seperti itu. Tapi kalau seorang ulama yang dijadikan bahan... Saya sangat tidak menyukai itu. Saya tidak membela satu kaum atau satu ulama, tapi ulama memang tak patut menjadi bahan olok-olok seperti itu.




4 Responses to "Pelacur Viral, Pelacur Dunia Maya dan Pelacur Online"

  1. Tapi kalau hal yang dicandain atau gaya canda ustad itu aku kurang setuju. Emangnya kalau doa sebanyak itu dan disiarin televisi banyak terus terkabulkan ?
    Aku lebih suka jika seandainya ustad itu nyimpan dolar segera dilepaskan biar rupaiah menguat :)
    Aku juga bermain dengan judul aneh dan unik, pengunjungnya bisa ribuan :)
    Ah, semua bergaya viral online.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya percaya bisa terkabulkan mas karena saya percaya Tuhan itu ada dan saya percaya kekuatan do'a. Saya sih berpikiran positif, ini adalah komentar seorang ustadz jadi wajar kalau seperti itu. Tapi kalau seorang ahli ekonomi yang berkomentar seperti itu? Baru saya tidak setuju :)

      Hapus
  2. tidak lucu juga ya kalau sang ustad yang dijadikan bahan candaan
    nyatanya juga di edit itu artikelnya
    mas soal pelacur di tulisan ini kok menunjuk ke wanita ya, setau saya
    bukan hanya wanita yang melacurkan diri, maaf loh ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya... Tulisannya terlalu stereotipe ya hahahaha... Hmmm.. Jadi pelajaran baru buat saya nih...

      Hapus