Sarapan di Nasi Tempong Mbok Wah

Angkot Kuning Banyuwangi
Sarapan di Nasi Tempong Mbok Wah adalah sarapan terjauh kami yang pernah kami coba. Mungkin akan ada yang ngebatin, "Ih ndeso, sarapan di Mbok Wah aja sampe diheboh-hebohkan". Ini bukan tentang Mbok Wahnya, tapi ini tentang bagaimana kami sekeluarga memutuskan bepergian menggunakan transportasi umum di tengah pandemi.

Apakah kami tidak takut dengan pandemi ini? Tentu saja takut, terlebih kedua orang tuaku pernah positif Covid-19 seperti yang pernah ku ceritakan pada postingan blog pada 27 Januari 2021 lalu, Pengalaman Keluarga Terpapar Virus Corona.

Lalu kenapa masih nekat bepergian menggunakan transportasi umum? Setelah pengalaman kedua orang tuaku pernah positif Covid-19 tentu kami tidak sembrono dalam memutuskan perjalanan ini. Kami terus memantau grafik kasus positif Covid-19 di Jember dan Banyuwangi yang menurun sehingga membuat kami memberanikan diri untuk melakukan perjalanan ini. Ditambah aku, orang yang paling gampang sakit di keluarga kami, sudah mendapat 2 dosis vaksin Covid-19.

Jadi setelah dapat vaksin sudah boleh sok-sokan jalan-jalan keluar kota? Bukan begitu juga, tulisan ini juga bukan ajang pamer privilege mendapat vaksin Covid-19. Tentu setelah vaksin tetap tidak boleh seenaknya jalan-jalan kesana kemari. Pertimbangan besar kami adalah grafik kasus positif Covid-19 di Jember dan Banyuwangi yang menurun. Menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer, memakai masker, menjaga jarak dengan penumpang lain serta berusaha menjauhi kerumunan terus kami usahakan selama perjalanan.

Kereta Kelinci
Kereta Kelinci
Anakku, Alzi, suka sekali dengan kereta api. Sudah beberapa kali dia meminta untuk naik kereta api, kami hanya mengajaknya untuk naik odong-odong dan kadang naik kereta kelinci yang ada di sebuah taman dekat perumahan tempat kami tinggal. Dan suatu hari Alzi merengek, "Aku mau naik kereta yang ada gerbongnya yang diatas rel".

Aku pun menjanjikan, "Nanti kalau situasi sudah memungkinkan". Entah dia paham atau tidak maksud perkataanku, tapi dia mengangguk.

Beberapa kali Alzi menagih janjiku untuk naik kereta sungguhan, beberapa kali juga aku alihkan naik kereta kelinci di taman sambil memantau kasus Covid-19 di Jember, Banyuwangi dan Nasional. Dan akhirnya kami memutuskan untuk mewujudkan keinginan Alzi untuk naik kereta api beneran pada 3 April 2021.

Berhubung keadaan ekonomi keluarga kami sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, kami memilih rute Kereta Api paling murah, yaitu Kereta Pandanwangi jurusan Banyuwangi. Rencana ini ku ceritakan kepada kedua orang tuaku, mereka juga ingin ikut menemani cucu naik kendaraan favoritnya. Aku mengajak juga adikku, suami dan anaknya serta 2 orang sepupuku.

Setelah menceritakan rencana tersebut, aku langsung ke Stasiun Jember untuk melihat jadwal Kereta Pandanwangi. Dari jadwal di stasiun, sebenernya aku dan istri berencana naik kereta Pandanwangi dari Jember jam 5.30 dan pulang naik kereta Probowangi dari Banyuwangi Kota jam 15.00. Tapi karena rombongan kami banyak, jadi kami berencana naik kereta Pandanwangi dari Jember jam 5.30 sampai Stasiun Banyuwangi Kota jam 7.50 dan pulang ke Jember naik kereta Pandanwangi dari Stasiun Banyuwangi Kota jam 10.00. Waktu kami hanya 2 jam di Banyuwangi.

Awalnya bingung menentukan rencana selama 2 jam di Banyuwangi kami akan melakukan apa, karena gak mungkin cuma diam aja di stasiun selama 2 jam. Aku memutuskan, setelah sampai stasiun kami menuju ke Nasi Tempong Mbok Wah yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Banyuwangi Kota.

Total kami ber-10 naik kereta. Tapi karena Alzi dan keponakanku masih dibawah 3 tahun, jadi kami hanya membeli 8 tiket kereta dengan harga Rp8.000 pertiket. Tidak ada pemeriksaan rapidtest baik antibodi, antigen ataupun GeNose C19.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Alzi naik Kereta Api. Saat Alzi umur 2 bulan dia sudah naik kereta api menuju Banyuwangi. Umur 9 bulan kembali naik kereta api menuju Yogyakarta dan saat umur 18 bulan naik kereta api menuju Malang tapi semua itu Alzi belum menikmati perjalanannya karena dia masih terlalu kecil.

Sekarang umurnya menginjak 32 bulan, dia sudah memiliki banyak keinginan, sudah mengerti perkataan orang lain, sudah hafal banyak lagu, sudah bisa berargumen, sudah memiliki ingatan yang sangat tajam, sudah mengerti janji dan banyak hal lagi yang aku bahkan terheran-heran atas perkembangannya tersebut. Bahkan di umur 32 bulan ini, Alzi sudah memiliki sebuah cita-cita, "Alzi ingin jadi Masinis, Ayah", ujar Alzi setiap ditanya mau jadi apa saat dewasa kelak.

Alzi sangat bersemangat naik kendaraan favoritnya itu. Awalnya dia hanya diam bengong melihat pemandangan di jendela kereta, sebuah pemandangan yang belum pernah dia nikmati. Tak lama dia mulai mengoceh dengan berbagai macam pertanyaan yang secara sepontan dia sebutkan saat melihat sesuatu. Sesekali dia menyanyikan lagu Naik Kereta Api. Bahagia terpancar dari wajah mungilnya.

Social distancing diberlakukan dalam kereta tersebut. Kursi kereta masih seperti kursi kereta ekonomi pada umumnya, saling berhadapan dengan komposisi 6 dan 4. Tapi kursi yang biasanya untuk 6 orang hanya diisi 4-5 orang saja sedangkan kursi untuk 4 orang hanya diisi oleh 2 orang saja.

Tepat pukul 7.50 kami sampai di Stasiun Banyuwangi Kota dan berencana memesan taxi melalui aplikasi online. Belum sempat aku membuka HP, seorang pengemudi angkot menawarkan angkotnya kepada Ayahku.

"Mau kemana, Pak?", tanya supir angkot.

"Ke Warung Mbok Wah, Pak", jawab ayahku.

"Berapa orang? Mau naik angkot, Pak?", tanya supir angkot.

"8 orang. Angkotnya lewat sana, Pak?", kata ayahku.

"Gakpapa, Pak. Saya antar sesuai tujuan bapak dan keluarga", jawab supir angkot.

"Berapa?", ayahku kembali bertanya.

"Per orang 5 ribu, Pak", ujar supir angkot.

Ayahku menghampiriku menawarkan kami sekeluarga naik angkot saja. Aku dan semua anggota rombongan dengan senang hati setuju dengan rencana itu. Karena harganya juga tidak jauh dengan harga taxi online yang akan kami pesan. Selain itu kami tidak perlu repot keluar area stasiun terlebih dahulu untuk mencari taxi online.

Setelah kuingat-ingat sudah hampir 12 tahun aku tida naik angkot semacam ini. Angkot di Banyuwangi mirip dengan angkot yang ada di Jember. Warnanya kuning, di Jember disebut Lin. Entah di Banyuwangi disebut apa, aku tidak sempat menanyakan ke supir angkotnya karena terlalu sibuk bercengkrama dengan keluargaku. Perjalanan menuju Mbok Wah hanya membutuhkan waktu 5 menit.

Sesampainya disana, kami ditawari akan di jemput oleh angkot tersebut dan kami setuju dijemput jam 9.30. Ternyata Nasi Tempong Mbok Wah baru buka jam 9.00, meski begitu beberapa masakan sudah matang dan sudah menerima pesanan. Ya boleh lah, yang penting sambal tempongnya ada, yaitu sambal dengan cabai segar dipadu dengan tomat dan terasi serta aroma jeruk limau rasanya luar biasa. Pilihan lauknya pun beraneka macam.

Sayangnya saat kami hendak makan, Alzi rewel ingin naik kereta lagi. Padahal jadwal kereta pulang masih 2 jam lagi. Sehingga aku gak sempat mengambil foto saat di Rumah Makan Nasi Tempong Mbok Wah. Akhirnya kami semua bergantian makan sambil membujuk Alzi.

Tepat jam 9.30 jemputan kami datang. Kami langsung menuju stasiun untuk menunggu kereta yang akan kami tumpangi. Jam 10.04 Kereta Pandanwangi jurusan Jember tiba, kami segera naik kedalam kereta. Selama perjalanan pulang Alzi semakin aktif bertanya dan bernyanyi Naik Kereta Api dengan lantang. Dan kali ini dia tidak tidur selama perjalanan. Jam 12.30 kami sampai di Jember.

Belum ada Komentar untuk "Sarapan di Nasi Tempong Mbok Wah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 2