Saya Indonesia, Saya Cinta Rupiah

Cinta Rupiah

Cinta Rupiah - "Aku cinta rupiah, biar dolar dimana-mana. Aku suka rupiah, karena aku anak Indonesia. Aku cinta rupiah, biar dolar merajalela. Aku suka rupiah, karena ku tinggal di Indonesia", masih ingat kan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi cilik era '90an Cindy Cenora? Lagu yang dirilis 17 Maret 1998 ini sangat populer di telinga anak era '90an saat itu karena liriknya yang mudah diingat dan membangkitkan cinta anak-anak pada rupiah ditambah saat itu sedang masa-masa krisis moneter.

Pada lagu Cindy Cenora tersebut juga terdapat lirik, "Mau beli baju, pakai rupiah. Jajannya juga, pakai rupiah". Uang memang tak bisa membeli kebahagiaan, namun untuk bahagia kadang kita perlu beli baju, beli makan, beli rumah, beli pulsa dan beli apapun harus menggunakan uang. Kenapa harus menggunakan uang? Uang adalah benda yang dapat diterima oleh umum sebagai alat tukar yang digunakan dalam transaksi jual-beli yang memiliki standar pengukur nilai yang sah dan dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara berupa kertas, emas, perak atau logam lain yang di cetak dengan bentuk dan gambar tertentu[1].


Zaman dulu, manusia belum membutuhkan uang, karena apapun yang dibutuhkan sudah ada di alam. Manusia berusaha memenuhi kebutuhan dengan mengambil langsung dari alam sekitar dengan cara berburu, memancing dan lain sebagainya. Untuk itu, manusia sering berpindah-pindah tempat tinggal agar kebutuhannya bisa selalu terpenuhi.

Pemikiran manusia lambat laun semakin berkembang sehingga kebutuhannya juga semakin meningkat. Manusia mulai memikirkan cara-cara sederhana agar dapat memenuhi kebutuhan hidup. Lalu mulailah terjadi pertukaran barang yang didapatkan oleh masing-masing orang kepada orang lain agar semua kebutuhan dapat terpenuhi. Misalnya beberapa buah apel dari hutan di tukarkan dengan seekor ikan hasil memancing disungai. Sistem seperti ini dikenal dengan sistem barter.

Namun transaksi menggunakan sistem barter terdapat beberapa kendala, salah satunya adalah tidak adanya standar nilai tukar untuk menentukan perbandingan harga. Sehingga terkadang ada pihak-pihak yang merasa dirugikan karena pertukaran dianggap tak sebanding dengan apa yang didapatkan, namun pertukaran harus dilakukan karena kebutuhan hidup harus terpenuhi.

Akhirnya mulai ditemukan alat tukar yang lebih sederhana, benda-benda yang disepakati memiliki standar nilai tukar tertentu seperti kerang, kayu, batu, permata sampai dengan senjata sebagai alat tukar. Dan terus berkembang sehingga terdapat uang seperti yang kita kenal sekarang ini.

Uang memiliki peranan penting dalam kegiatan ekonomi, sehingga mendorong setiap negara memiliki mata uang masing-masing dengan nilai tukar yang berbeda-beda pula dan memiliki bentuk, gambar serta bahan yang berbeda pula.

Rupiah, berasal dari bahasa sansekerta yaitu rupya yang memiliki arti koin perak[2], merupakan mata uang resmi Indonesia. Itu berarti, segala kegiatan jual-beli di Indonesia harus menggunakan mata uang Rupiah.

Letak Indonesia yang strategis, diapit dua samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik yang merupakan jalur perdagangan, ditambah dengan hasil rempah-rempah yang melimpah, membuat Indonesia menjadi primadona perdagangan di mata Dunia. Sebelum Indonesia dikuasai oleh penjajah, di Bumi Pertiwi telah berkembang banyak kerajaan-kerajaan. Pada masa itu, belum ada mata uang pasti yang digunakan karena banyaknya kerajaan yang memimpin. Namun, masyarakat sudah menggunakan uang dalam bentuk sederhana.

Pada abad ke-15 Bangsa Eropa sedang berupaya memperluas wilayah penjelajahannya di berbagai belahan dunia, termasuk Asia dan Nusantara. Sejak jatuhnya Konstantinopel ke tangan kekuasaan Turki Usmani (1453). Penjelajahan tersebut dipelopori oleh Spanyol dan Portugis yang kemudian diikuti oleh Belanda, Inggris dan Perancis.

Tahun 1511 Bangsa Portugis berhasil menguasai Malaka. Mereka terus bergerak ke arah timur menuju sumber rempah-rempah di Maluku. Di sana Portugis menghadapi bangsa Spanyol yang datang melalui Filipina. Beberapa saat kemudian bangsa Belanda juga berusaha menguasai sumber-sumber komoditi perdagangan di Jawa dan Nusantara dengan mengibarkan bendera VOC. Hingga akhirnya berhasil menguasai Nusantara selama 350 tahun.

Era penjajahan Belanda, masyarakat Indonesia mulai mengenal mata uang yang digunakan oleh Kerajaan Belanda. Pada 24 Januari 1828, pemerintah Hindia Belanda mendirikan bank sirkulasi dengan nama De Javasche Bank (DJB). Selama berpuluh-puluh tahun bank tersebut beroperasi dan berkembang berdasarkan suatu oktroi dari penguasa Kerajaan Belanda.

Kekaisaran Jepang mulai memperluas wilayah kekuasaannya saat Perang Dunia II meletus. Hingga di Indonesia, Jepang berhasil mengusir Pemerintah Belanda dan menduduki Indonesia sebagai bagian dari wilayah jajahan Jepang. Perlahan namun pasti, mata uang Indonesia berubah sesuai dengan kebijakan Pemerintah Jepang selama 3,5 tahun.

Setelah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Kemudian dibentuk Jajasan Poesat Bank Indonesia (Yayasan Bank Indonesia) yang kemudian melebur dalam Bank Negara Indonesia sebagai bank sirkulasi berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.2/1946.

Namun demikian situasi perang kemerdekaan dan terbatasnya pengakuan dunia sangat menghambat peran BNI sebagai bank sirkulasi. Pada tanggal 30 Oktober 1946, pemerintah dapat menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) sebagai uang pertama Republik Indonesia. Periode ini ditutup dengan Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 yang memutuskan DJB sebagai bank sirkulasi untuk Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Bank Negara Indonesia sebagai bank pembangunan[3].



Setelah kita mengetahui sejarah panjang rupiah, pasti di hati kita timbul rasa cinta terhadap rupiah. Lalu kenapa kita harus cinta rupiah? Perlukah alasan untuk mencintai rupiah? Tentu saja perlu.
  1. Rupiah merupakan salah satu simbol kedaulatan Indonesia
    Seperti yang telah kita ketahui diatas, setiap negara memiliki mata uangnya masing-masing sesuai dengan pengakuan dunia. Untuk mendapatkan pengakuan tersebut perlu perjalanan yang sangat panjang. Seperti halnya rupiah, rupiah merupakan salah satu simbol bahwa Indonesia berdaulat.

  2. Rupiah adalah simbol perekonomian Indonesia
    Segala transaksi jual-beli barang atau jasa yang terjadi di Indonesia harus menggunakan rupiah. Itu berarti segala kegiatan perekonomian di Indonesia memerlukan rupiah.

  3. Rupiah juga alat pemersatu bangsa
    Belakangan ini masyarakat mudah sekali dipecah belah dan diadu domba. Selisih pendapat selalu muncul setiap ada permasalahan, entah pro atau kontra. Namun rupiah mampu mempersatukan bangsa. Meski tidak tertuang dalam sumpah pemuda, namun, jauh setelah sumpah pemuda dibacakan, rakyat Indonesia juga sepakat memiliki mata uang satu, Rupiah. Tak ada selisih paham bahwa segala kegiatan transaksi jual beli di Indonesia harus menggunakan Rupiah.

  4. Cinta Rupiah adalah salah salah satu cara membela Bangsa tanpa mengangkat senjata
    Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa rupiah adalah simbol kedaulatan Indonesia dan perekonomian Indonesia. Dengan cinta rupiah itu berarti kita juga menjaga kedaulatan Indonesia serta menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan negri ini.

  5. Dengan cinta rupiah kita membantu menghemat anggaran belanja negara
    Untuk mencetak uang memerlukan persiapan yang panjang. Setidaknya terdapat tujuh tahapan di Bank Indonesia yang harus dilakukan sebelum mencetak uang. Mulai perencanaan seperti mengamati perkembangan perekonomian secara makro kemudian Bank Indonesia melakukan pengadaan bahan berupa kertas dan lain-lain lalu diserahkan ke PERURI untuk dicetak menjadi uang. Tidak hanya itu, penyebaran rupiah baru ke masyarakat juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Karena distribusi tersebut harus menggunakan tingkat keamanan yang baik.


Tentu seru sekali bisa membela Indonesia tanpa belajar menggunakan senjata atau turun ke medan perang. Bagaimana cara mencintai rupiah? Ada beberapa cara untuk mencintai rupiah, yaitu:
  1. Gunakan rupiah dalam setiap transaksi jual beli
  2. Jangan diremas
  3. Jangan dilipat
  4. Jangan dicoret
  5. Jangan distaples
  6. Jangan dibasahi
  7. Gunakan non-tunai

Ada bayak jenis uang non-tunai yang bisa digunakan seperti beberapa diantaranya adalah kartu debit, kartu kredit dan e-money, atau disebut uang pastik oleh Heru Susanto dan Nataniel Kristian Susantoputra dalam buku mereka Bijak Memberdayakan Uang Plastik. Menggunakan uang plastik juga bisa merepresentasikan cinta kita kepada rupiah. Dengan menggunakan uang plastik, kita juga membantu agar semakin sedikit rupiah-rupiah yang rusak.

Bagaimana jika menemukan uang rupiah yang sudah rusak? Uang yang sudah rusak, terlanjur lusuh, di coret, di staples, dilubangi, terpotong atau robek, bisa kita tukar ke bank-bank terdekat atau bisa juga ke Bank Indonesia asal masih memenuhi standar uang rupiah. Untuk uang lusuh masyarakat bisa menukarkan ke bank selama ciri-ciri rupiah tersebut masih dapat dikenali. Namun jika keadaaan uang sudah sangat lusuh atau robek, terpotong, dapat ditukarkan ke Bank Indonesia. Syarat penukaran uang robek yaitu diatas dua pertiga (75%) uang yang tersisa.

Jika seluruh masyarakat Indonesia sudah cinta rupiah tentu rupiah akan semakin kuat. Setidaknya, cinta rupiah akan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa serta dapat membantu menghemat pengeluaran negara.

Saat rupiah semakin kuat maka nilai tukar rupiah terhadap valuta asing juga akan menguat. Dampaknya adalah harga impor bahan baku akan turun sehingga biaya produksi barang-barang yang membutuhkan bahan baku impor akan menurun. Dan kestabilan perekonomian pun bisa tercapai.

Teringat kata-kata yang diucapkan oleh Ben Affleck, pemeran Bruce Wayne pada film Justice League (2017), "Aku tak memiliki kekuatan super apapun, aku hanya kaya!". Indonesia akan menjadi super jika semua masyarakat cinta rupiah dan rupiah terus menguat. Ditambah dengan kekayaan Indonesia yang berlimpah, seharusnya bisa membuat Indonesia bersama rupiah menjadi super di mata dunia.

Yuk cinta rupiah, agar rupiah semakin kuat dan Indonesia semakin hebat!







Sumber
[1] Uang - KBBI
[2] Rupiah - wikipedia.org
[3] Sejarah Pra Bank Indonesia Bagian 1, 2 dan 6 - www.bi.go.id

Sumber gambar:
  1. Red brush - www.freepik.com
  2. Boss and employee - www.freepik.com
  3. Smiley character and finance elements - www.freepik.com
  4. Money bag background design - www.freepik.com
  5. Set of three armor knights - www.freepik.com
  6. Fred Flintstone - wikipedia.org
  7. Barney Rubble: wikipedia.org



8 Responses to "Saya Indonesia, Saya Cinta Rupiah"

  1. cinta rupiah cuman
    kalau akhir bulan rupiah menjauhiq
    #ehh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. keceeee aku suka ulasannya
    apalagi animasinya
    ngena bangettttt
    memang banyak yang gak peka sama rupiah
    padahal klo kita balik ke zaman flinstone mah jadi susah kan...

    BalasHapus
  3. Wah.. aku baru tahu lho ada lagu Cinta Rupiah juga pada era 90-an padahal generasi itu .. hehehe
    Siapp.. saya juga cinta rupiah

    BalasHapus
  4. ilustrasinya mantep saya suka, cinta rupiah dimulai dari memberlakukan uang kita dengan baik, no staples, no remas, no lipat, no basahi,

    BalasHapus
  5. kalau tidak kta siapa lagi yg hrs mencintai rupiah ya

    BalasHapus
  6. Cara penjelasannya bagus, nggak bikin bosan.

    Dari sejarahnya sudah terlihat kalau usahanya sangat panjang dan alot. Sudah tentu kita harus cinta terhadap rupiah itu sendiri. Meskipun sekarang, udah banyak orang yang saat ini yang kurang peduli terhadap mata uang negara.

    Mari, cintai rupiah!

    BalasHapus
  7. Sebagai org yg kerja di bank, dan pubya akses ke uang2 baru di kantor, aku slalu memastikan uang dlm dompetku mulus, halus, ga lecek hahahaha.. Kyknya lgs berasa geli, kalo liat uang diremes, kusut apalagi jorok :p. Paling sebel kalo duit udh bagus2, ehhhh kembaliannya jelek :p. Lgs deh besoknya di kantor, aku tuker lg ama uang yg mulus :D

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 2