Mempelajari Kemenangan Dari MotoGP 2015 yang Tidak Pernah Saya Lihat

Sumber: MRCI by Liputa6.com
Mempelajari Kemenangan Dari Moto GP 2015 - Entah cabang olahraga mana yang saya suka. Banyak orang yang mempertanyakan gender saya karena saya kurang menyukai olahraga. Bahkan sepak bola yang sebagian besar orang suka, saya juga tidak suka. Beberapa minggu ini saya melihat recent update di sosial media dan BBM, banyak sekali teman saya yang menulis tentang dukungan atau kecewa terhadap pebalap Moto GP pada status mereka.

Tapi yang saya herankan yang muncul di status teman-teman saya hanya ada 4 nama pebalap, Valentino Rossi, Jorge Lorenzo, Marc Marquez dan Dani Pedrosa. Apakah kejuaraan dunia Moto GP hanya diikuti oleh 4 orang pebalap tadi? Entahlah saya memang tak pernah melihat langsung acara tersebut di televisi hanya melihat update status dari teman-teman saya.

Saya senang membaca update status teman-teman saya mengenai Moto GP 2015 karena hanya memunculkan dukungan kepada pebalap favoritnya, tidak seperti para fans sepak bola yang dengan gampang nyinyir terhadap lawan. Tapi hal itu terjadi hanya sampai 25 Oktober 2015, seri balap Moto GP Sepang, Malaysia. Terdapat kabar tidak mengenakkan dari perhelatan tersebut. Dikabarkan telah terjadi konspirasi pada balap Moto GP di Sepang.

Kontan sosial media menjadi ramai saling tuding siapa yang salah dan siapa yang benar. Tak ada lagi segmen Jokower atau Prabower. Yang ada hanya siapa pendukung Valentino Rossi dan siapa pendukung Jorge Lorenzo tidak peduli pakah dia sebenarnya Prabower atau Jokower. Amat disayangkan sebuah perhelatan olahraga yang harusnya menjunjung tinggi suportif namun yang terjadi hanya saling tuding dan saling tunjuk.

Tidak hanya para suporter, si pebalap pun mulai menyalahkan orang lain dan keadaan. Seperti yang saya kutip dari Liputan6.com, Pembalap Movistar Yamaha Valentino Rossi sepertinya masih belum menerima kegagalannya menjadi juara dunia MotoGP 2015. Ia kini menyebut rider Repsol Honda Marc Marquez sebagai bodyguard Jorge Lorenzo. "Itu adalah hari memalukan di dunia olahraga. Saya tidak bisa memahami kenapa Honda membiarkan Yamaha menang, atau setidaknya membiarkan pembalap Honda yang menang," kata Rossi seperti dilansir Corriere dello Sport, Selasa (10/11/2015). "Pedrosa sempat berusaha menyalip. Tapi ketimbang menyalip Lorenzo, Marquez justru mengalangi rekan setimnya sendiri. Dia jelas seperti bodyguard Lorenzo," sambung Rossi.

Kemudian banyak sekali dukungan untuk Rossi. Mulai dari membuat petisi sampai meme. Meme yang sangat menggelitik adalah meme yang saya pajang diatas, "Rossi mengajarkan kita, juara tidak harus nomor satu. Juara adalah dia yang menang di hati penonton". Ya saya setuju dengan kata-kata itu, hanya jika kalau Rossi tidak menyalahkan siapapun.

Saya pun teringat petuah guru saya saat SD, "Juara adalah orang yang tidak menyalahkan siapapun, apapun atau keadapan apapun saat dia kalah". Namun yang terjadi Rossi malah seperti menyalahkan pebalap dari Honda, Marc Marquez. Andai saja Rossi tidak menyalahkan siapapun dan legowo dengan kekalahannya (meskipun memang benar dicurangi), dia patut diberi gelar juara sejati.



6 Responses to "Mempelajari Kemenangan Dari MotoGP 2015 yang Tidak Pernah Saya Lihat"

  1. Iya yah, ada pelajaran yang bisa diambil dari ini. Masuk akal juga. Nggak kepikiran sama gue.

    BalasHapus
  2. Entahlah, sebagai fans Rossi gue hanya bisa pasrah dan menerima hasil akhir, lumayan kesal sih, tetapi life must go on.

    Tetapi kenapa ya sikap lorenzo yang mengacungkan jempol kebawah saat rossi ngangkat piala, bikin eneg. -_-

    Salam kenal masbro ;) pertama kali posting disini ;)

    BalasHapus
  3. Meski bukan penikmat MotoGP, tapi saya sepakat dengan meme diatas. Gak selalu yang juara dibanggakan. Kadang malah yang kalah yang dielu-elukan. Karena didalamnya ada sebuah proses yang membanggakan. :)

    Salam hangat dari Bondowoso..

    BalasHapus
  4. Saking keselnya tuh kayanya.
    Tapi biar bagaimanapun hasil akhir sudah ditentukan, move on ajalah gak usah tuding menuding lagi. Kejuaraan taun depan dimulai dari nol

    BalasHapus
  5. Keadaan kayak gitu kalau menurut saya wajar. Menurut saya rossi bukan menyalahkan, tapi lebih menuntut keadilan atas apa yg terjadi di sirkuit tanding.

    BalasHapus
  6. Gara-gara ini kasus ini, banyak banget yang jadi motogp addict dadakan ya hahaha

    BalasHapus