Windows 10 Rilis: Serasa Terjajah Teknologi

sumber: blogs.windows.com
Windows 10 Rilis: Serasa Terjajah Teknologi - Saya mengingat pertama kali mengenal komputer saat saya masih kecil. Ketika itu keluarga saya masih tinggal di sebuah perkampungan kecil di Banjarmasin. Saya diperkenalkan tetangga saya sebuah mesin canggih miliknya. Ingatan saya kurang baik untuk mengingat masa itu, komputer merk apa dan menggunakan operating system apa saya sudah lupa. Yang jelas saat itu saya melihat tetangga saya itu sedang asyik mengklik untuk mewarnai suatu gambar 2 dimensi. Sejak saat itu saya selalu memimpikan untuk memiliki komputer.

Beberapa tahun berlalu, sampai saya bersekolah di SMP 1 Jember, tahun 2001, akhirnya saya kembali mengenal teknologi komputer. Teknologi komputer yang saya kenal saat kelas 1 dan 2 SMP masih menggunakan operating system DOS jauh dibawah OS Windows yang seharusnya saat itu sudah beredar luas. Tapi tak apa lah yang penting saya bisa belajar komputer.

Kelas 1 SMP yang saya pelajari adalah WordStar yang (bisa dibilang) merupakan versi jadul Microsoft Word (meski beda pengembang). Seperti Ms Word, WordStar adalah software pengolah kata yang dikembangkan oleh MicroPro International. Naik kelas 2 SMP pelajaran komputer yang saya terima adalah Lotus 123 yang juga menggunakan platform DOS. Lotus 123 mirip dengan Excel yang berfungsi untuk mengolah angka dalam bentuk tabel. Banyak rumus yang digunakan dalam software ini.

Di kelas 2 SMP saya mulai mengenal game komputer yang sedang hit saat itu, tahun 2002, Counter Strike. Game multiplayer satu ini merupakan game yang berhasil membuat saya kecanduan. Hampir setiap hari sepulang sekolah saya berlari berebut kursi dengan teman lain di sebuah rental komputer yang menyediakan game multiplayer. Perlahan saya pun mengenal banyak game seperti Red Alert 2, Diablo, Empire hingga akhirnya saya mengenal game online seperti Ragnarok.

Minat saya terhadap komputer memaksa saya untuk belajar terus dan terus. Tidak memiliki komputer tidak lantas membuat semangat belajar saya kendur. Di rumah seorang sahabat, Ja'far Helmi, saya banyak belajar soal komputer. Tak hanya disana, di rumah sepupu saya Reza juga saya diajarkan cara-cara instal game. Hal ini membuat saya cukup mahir dalam instalasi komputer di usia saya yang masih belasan. Sebuah kemampuan yang cukup langka saat itu terlebih saya masih belum punya komputer.

Komputer pertama saya dibelikan ayah saat saya kelas 1 SMA. Sebuah komputer Pentium III dengan RAM 128 MB dan hardisk 10 GB ber-operation system Windows 98. Sebuah barang mewah buat saya saat itu. Namun perlahan kebutuhan saya dengan game dan software-software pendukung saya sekolah membuat saya menginginkan komputer yang jauh lebih baik. Saya sangat menginginkan sebuah komputer berprocessor Pentium IV dengan RAM 1 GB.

Dengan sedikit memaksa, akhirnya ayah membelikan komputer baru di tahun ke-2 saya kuliah. Komputer sesuai keinginan saya, Pentium IV ber-RAM 2 GB dan VGA NVidia 512 MB. Serasa teknologi berada dalam genggaman rasanya. Segala software saya coba, beberapa game pun sempat nangkring dalam komputer tersebut, meskipun hanya bisa coba satu persatu. Jika selesai satu lalu uninstall dan install yang lain. Hal ini terjadi karena harddisk pada komputer kesayangan saya itu hanya 40 GB. Tapi hal ini tidak menyurutkan kebahagiaan saya menggenggam teknologi.

Namun ternyata teknologi tak pernah bisa digenggam erat. Dia terus bergerak menggeliat dan melompat. Software dan game baru selalu meminta performa komputer yang lebih tinggi. Processor yang lebih tinggi lah, RAM yang lebih lah, VGA yang lebih mumpuni lah, dan yang paling membuat saya geram adalah kapasitas harddisk yang semakin besar. Argh...

Saya sampai bingung sebenarnya software berkembang mengikuti teknologi komputer yang sudah ada atau komputer yang harus berkembang mengikuti permintaan software-software yang sudah ada. Pertanyaan ini mirip sekali seperti pertanyaan "Lebih dulu mana ayam dan telur?".

Sebenarnya saya sudah nyaman dengan komputer saya yang ber-operation system Windows XP itu. Saya juga sudah tidak mempedulikan lagi game-game baru yang penting saya masih nyaman menggunakan komputer saya. Namun dipertengahan 2014 lalu ada berita bahwa Microsoft tidak lagi mendukung Windows XP. Sehingga mau tidak mau saya harus menggunakan operation system diatas XP, Windows 7. Namun saya tidak lagi menggunakan komputer lama saya. Saya memilih menggunakan laptop adik yang sudah tidak terpakai lagi. Karena harddisk komputer lama saya yang kurang mumpuni.

Tapi Windows kembali mengeluarkan produk barunya, Windows 8. Ah haruskah saya mengikuti perkembangan jaman teknologi dengan mengejar perangkat yang compiliable dengan Windows 8? Pelan-pelan saya mulai menabung untuk mendapatkan perangkat itu. Namun kini Microsoft baru saja merilis Windows baru, Windows 10. Haruskah saya mengejarnya juga? Haruskah saya terus bergonta-ganti perangkat teknologi? Namun jika saya tidak mengikuti perkembangan teknologi, bisakah pekerjaan saya terselesaikan dengan baik?

Ah... ini seperti penjajahan di era modern. Penjajahan yang tak tampak dimana para manusia terjajah dengan suka rela mengikuti kemauan para kaum penjajah karena memang tak ada pilihan lain.


0 Response to "Windows 10 Rilis: Serasa Terjajah Teknologi"

Posting Komentar