Himbauan Hari ke-16 Ramadhan Kontradiktif Dengan Makna Ramadhan

sumber gambar: pdmjogja.org
Himbauan Hari ke-16 Ramadhan Kontradiktif Dengan Makna Ramadhan - Hari ini, 3 Juli 2015 atau tepat tanggal 16 Ramadhan 1436, seorang security di tempat saya bekerja memberi himbauan pada segenap karyawan yang ada, pada briefing pagi tadi. "Hari ini hari ke-16 Ramadhan, lebaran sudah dekat. Harap teman-teman selalu waspada dengan barang-barang pribadi seperti motor dan helm. Motor harap dikunci ganda demi keamanan, karena─ sekali lagi─ lebaran sudah dekat. Banyak orag yang lupa diri. Maling-rampok-begal berkeliaran dimana-mana", ujar pria yang akrab disapa Pak Yasin itu.

Ramadhan, bulan seribu ampunan, bulan penuh berkah. Saking banyaknya keutamaan bulan Ramadhan serta peluang untuk bertaubat kepada Allah SWT, hingga bulan Ramadhan sering dikiaskan dengan perumpamaan tamu yang istimewa. Setaip muslim pasti menantikan kedatangannya. Dan selalu memohon agar tahun depan masih diberi umur panjang agar dapat bertemu dengan bulan mulia ini.

Bulan Ramadhan mempunyai beberapa nama lain. Nama-nama itu sebenarnya merefleksikan makna keberkahan Ramadhan. Nama-nama bulan Ramadhan juga menyatakan berkah dan maghfirah yang dapat diraih pada kondisi dan suasana paling baik selama satu tahun ke belakang dan ke depan (Ramadhan tahun depan seandainya masih bisa diberi umur)[1].
  1. Syahr al-Qur’an (bulan Al Quran), karena pada bulan inilah Al Quran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, kitab-kitab suci lain: Zabur, Taurat, dan Injil, juga diturunkan pada bulan yang sama.

  2. Syahr al-Shiyam (bulan puasa wajib), karena hanya Ramadhan merupakan bulan di mana Muslim diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Dan hanya Ramadhan, satu-satunya, nama bulan yang disebut dalam Alquran. (QS al-Baqarah [2]: 185).

  3. Syahr al-Tilawah (bulan membaca Alquran), karena pada bulan ini Jibril menemui Nabi SAW untuk melakukan tadarus Alquran bersama Nabi dari awal hingga akhir.

  4. Syahr al-Rahmah (bulan penuh limpah an rahmat dari Allah SWT), karena Allah menurunkan berbagai rahmat yang tidak dijumpai di luar Ramadhan. Pintu-pintu kebaikan yang mengantarkan kepada surga dibuka lebar-lebar.

  5. Syahr al-Najat (bulan pembebasan dari siksa neraka). Allah menjanjikan pengampunan dosa-dosa dan pembebesan diri dari siksa api neraka bagi yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharap ridha-Nya.

  6. Syahr al-’Id (bulan yang berujung/ berakhir dengan hari raya). Ramadhan disambut dengan kegembiraan dan diakhiri dengan perayaan Idul Fitri yang penuh kebahagiaan juga, termasuk para fakir miskin.

  7. Syahr al-Judd (bulan kedermawanan), karena bulan ini umat Islam dianjurkan banyak bersedekah, terutama untuk meringankan beban fakir dan miskin. Nabi SAW memberi keteladanan terbaik sebagai orang yang paling dermawan pada bulan suci.

  8. Syahr al-Shabr (bulan kesabaran), karena puasa melatih seseorang untuk bersikap dan berperilaku sabar, berjiwa besar, dan tahan ujian.

  9. Syahr Allah (bulan Allah), karena di dalamnya Allah melipatgandakan pahala bagi orang berpuasa.
Sebenarnya makna puasa di bulan Ramadhan tidak hanya menahan lapar dan haus saja, namun segala bentuk nafsu negatif harus ditahan dibulan ini. Bahkan sesuatu yang nyata halal dilakukan, seperti makan makanan yang halal, minum minuman yang halal, bahkan bercampur dengan suami atau istrinya yang jelas-jelas halal dilakukan, namun di bulan Ramadhan haram untuk dilakukan (red: siang hari, saat berpuasa). Hal ini semata-mata untuk melatih manusia mengendalikan segala hawa nafsu duniawinya dan memberi kesempatan manusia untuk mengumpulkan bekal untuk hari akhir nanti.

Himbauan yang disebutkan Pak Yasin diatas, serasa tidak relevan dengan makna Ramadhan. Justru hal ini kontradiktif dengan makna Ramadhan. Bukankah bulan mulia ini seharusnya digunakan untuk memperbaiki diri dan mengumpulkan amal sholeh? Lalu kenapa justru banyak orang yang lupa diri melakukan tindak kejahatan dengan mencuri harta orang lain? Ataukah justru makna Ramadhan bagi mereka (para pencuri) telah bergeser menjadi "Ah ini kan bulan penuh ampunan, jadi lebih baik kita melakukan kejahatan sejahat-jahatnya toh nanti bakal diampuni di bulan penuh ampunan ini"!? Tanda tanya besar bersarang di kepala saya.

Setelah merenungkannya secara mendalam. Saya pun ber-suudzon. Mungkin hal ini akibat pergeseran nilai agama oleh nilai tradisi. Tradisi berlebaran bermewah-mewah, bermegah-megah dan menghamburkan harta. Tradisi harus berkunjung ke rumah sanak-saudara dan tetangga dengan penampilan yang harus baru─ berbaju baru. Rumah yang dikunjungi pun harus terlihat baru, lebih kinclong dengan cat baru atau perabotan baru, harus menyediakan aneka panganan, kue, snack, dan lain sebagainya. Dan dapat dipastikan pengeluaran untuk berlebaran seperti itu membutuhkan uang yang berlebih pula. Sehingga membuat orang yang berpenghasilan pas-pasan dengan pekerjaan yang seadaanya memutar otak untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Bukankah berlebaran, berkunjung kerumah sanak-saudara dan tetangga─ berkunjung, mengunjungi, dan dikunjungi─ tidak memerlukan penampilan, baju atau rumah yang baru? Bukankah makna lebaran justru melahirkan jiwa kita yang baru setelah berpuasa sebulan penuh? Hanya jiwa (batin) kita yang harus baru, bukan badan atau penampilan kita secara lahiriyah yang harus baru.

Wallahu alam bishawab.
Jazakumullah khairan katsiran. Wa jazakumullah ahsanal jaza.


Sumber:
[1]Nama-nama Ramadhan: www.republika.co.id


1 Response to "Himbauan Hari ke-16 Ramadhan Kontradiktif Dengan Makna Ramadhan"

  1. setuju. entah kenapa di setiap hari raya kriminalitas justru semakin meningkat. mungkin benar, ada hubungannya dengan perayaan yang berlebihan.

    BalasHapus