Ada Apa Dengan GA? Dari Genetic Algorithm Sampai General Affair

Wajan Bolic with Genetic Algorithm Controll
Dulu Genetic Algorithm dan Kini General Affair - Sebenarnya ada apa ya dengan huruf G dan A ini? Kenapa dalam 2 tahun ini berhasil menyatroni hidupku. Berawal dengan ide gila menggerakkan antena wajan bolic secara otomatis mencari sinyal yang optimal dengan algoritma genetik, lalu bekerja sama dengan beberapa general affair dari beberapa perusahaan ternama yang berbeda, dan kini aku sendiri menjadi general affair. Dan keduanya sama-sama disingkat menjadi, G. A. (baca: Ji E).

Skripsiku berjudul Perancangan Pengendali Arah Horisontal Wajan Bolik Menggunakan Algoritma Genetika untuk Mendapatkan Sinyal Wi-Fi yang Optimal. Ide ini muncul akibat tuntutan dalam mencari internet murah dan cepat. Ide gila dari seorang pecandu game online. Sebagai seorang pecandu game online tuntutan untuk memiliki internet murah sangatlah tinggi jika tidak mau hidup di warnet dan meng-kaya-kan si pemilik warnet. Meskipun sebenarnya sensasi bermain game di rumah dan di warnet sangatlah berbeda.

Idenya mudah, bagaimana cara menggerakkan antena wajan bolik sampai mendapatkan arah yang tepat dengan kekuatan sinyal yang optimal secara otomatis. Dan hipotesisnya adalah setiap arah horisontal antena memiliki kuat sinyal yang berbeda.

Ada banyak metode sistem kontrol kecerdasan buatan yang kupelajari saat kuliah. Ada logika fuzzy, jaringan saraf tiruan, dan algoritma genetika. Namun algoritma genetika atau dalam bahasa Inggris genetic algorithm dan lebih sering disebut dengan G. A. (baca: ji e) yang menurutku akan cocok digunakan sebagai sistem pengendali antena ini.

Algoritma genetika adalah algoritma yang dikembangkan dari proses pencarian solusi menggunakan pencarian acak, ini terlihat pada proses pembangkitan populasi awal yang yang menyatakan sekumpulan solusi yang dipilih secara acak. Berikutnya adalah pencarian dilakukan berdasarkan proses-proses teori genetika yang memperhatikan pemikiran bagaimana memperoleh individu yang baik. Perkembangan generasi dalam sebuah populasi yang alami, secara lambat laun mengikuti prinsip seleksi alam atau “siapa yang kuat, dia yang bertahan (survive)”. Algoritma ini bekerja dengan sebuah populasi yang terdiri dari individu-individu, yang masing-masing individu mempresentasikan sebuah solusi yang mungkin bagi persoalan yang ada. Dalam kaitan ini, individu dilambangkan dengan sebuah nilai fitness yang akan digunakan untuk mencari solusi terbaik dari persoalan yang ada[1].

Buatku, algoritma genetika merupakan sistem kendali kecerdasan buatan yang paling mudah dari pada logika fuzzy ataupun jaringan saraf tiruan. Karena hanya melibatkan logika-logika tanpa melibatkan banyak rumus. Berbeda dengan kebanyakan orang yang mengatakan bahwa genetic algorithm merupakan sistem kendali cerdas yang paling sulit. Kontan salah satu dosen sempat meremehkanku, apakah aku bisa mengerjakan judul yang ku ajukan sendiri itu. Aku hanya bisa memastikan, meski yang ku kerjakan adalah sistem kendali kecerdasan buatan, tapi kecerdasanku bukanlah kecerdasan buatan.

Perlu waktu beberapa minggu agar proposal skripsiku di-acc. Bahkan setelah di-acc aku harus menunggu 3 bulan agar bisa seminar proposal. Alasannya menunggu jadwal padahal saat itu persyaratan sudah terpenuhi. Syarat minimum peserta yang akan melakukan seminar proposal pun telah terpenuhi 10 orang. Karena jengkel dengan birokrasi kampus yang menyebalkan itu aku pun memenuhi tawaran salah satu om ku untuk ikut berkerja dengannya sebagai teknisi maintenace PT. ICON+ Servo 7 Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso.

Saat bekerja di PT ICON+ Servpo 7 Jember, Banyuangi, dan Bondowoso aku sangat akrab dengan general affair dari beberapa perusahaan pelanggan jaringan PT ICON+. Aku pun menganggap pekerjaan sebagai G. A. sepertinya keren. Aku pun mulai berandai-andai, "Andai aku menjadi G. A.".

Hampir 7 bulan aku bergelut dengan pekerjaan ini, namun ada satu masalah yang memaksaku untuk hengkang dari pekerjaan ini ditambah lagi skripsiku yang tak kelar-kelar. Setelah keluar dari pekerjaan itu aku langsung berkonsentrasi penuh dalam pengerjaan skripsi itu. Butuh waktu 6 bulan untuk menyelesaikan skripsi itu sampai akhirnya Mei 2013 aku dinyatakan lulus.

Setelah wisuda Juli 2013 lalu, aku pun mencari kerja. Panggilan wawancara dari sana-sini tapi tak ada yang berhasil aku duduki. Sampai akhirnya seorang guru SMAku menawariku sebuah lowongan pada posisi Frontliner di Erha Skin Jember. Sebenarnya aku ogah menjadi frontline, tapi berhubung ini tawaran dari guruku aku pun menghormatinya dengan pasrah. Kepasrahan itu berujung manis. HRD Erha Clinic Indonesia menghubungiku untuk menawariku posisi yang lain yaitu general affair.

General Affair (GA) merupakan supporting unit dalam sebuah perusahaan yang bertugas untuk mendukung perusahaan dalam menjalankan operasionalnya dengan mengurusi segala urusan perusahaan. Bertanggungjawab atas pengadaan barang dan jasa yang mendukung seluruh aktivitas operasional kantor dan melakukan pemeliharaan asset fisik kantor serta bekerjasama dengan seluruh bagian dalam perusahaan untuk melakukan pengelolaan anggaran atas biaya pengadaan barang/jasa, pemeliharaan serta biaya-biaya lain yang terkait. Bisa dikatakan GA melayani seluruh unit kerja di perusahaan sebagai suport unit. Berikut adalah tugas pokok seorang general affair[2].
  1. Building & Assets Management
  2. Pengurusan kendaraan perusahaan (car maintenance) dan fasilitas pool (pool car management)
  3. Asuransi (Insurance Management) / jaminan kesehatan/hari tua
  4. Penguruasan berbagai perijinan dan kehumasan (Operasional : ijin usaha, TDP, Akte, Ijin Domisili, dsb)
  5. Pengurusan Penggunaan Tenaga Kerja Asing
  6. Outsourcing Management / Labour Supply / Tenaga Kerja Kontrak (Bagaimana melakukan, memilih dan membuat kerjasama outsourcing)
  7. Pengadaan dan Pengelolaan Alat Tulis Kantor (ATK)
  8. Kurir (Messenger)
  9. General Services : General Facility (transportation, communication : IT)
  10. Penanganan listrik, air, dll.
  11. Penanganan limbah perusahaan
  12. Pengelolaan Kantin, Laundry dan Mess Perusahaan
  13. Pemeliharaan Kesehatan, Safety dan Pelaksanaan K3 bagi seluruh karyawan
  14. Pelaksanaan keamanan (Satpam / Security), ketertiban dan kebersihan
  15. Pengelolaan cleaning service & office boy / office girl
  16. Pelaksanaan event khusus
  17. Customer Services, Receptionist dan Operator Telepon, serta keluar-masuk tamu
  18. Hubungan Eksternal : lembaga pemerintah (Pemda/Pemkab/Kecamatan/Kepolisian), lembaga masyarakat/tokoh masyarakat, tetangga, bahkan mungkin preman?
  19. Penanganan tamu penting (tamu VIP, VVIP, Instansi Pemerintah, Auditor Perusahaan, Demonstrasi / Unjuk Rasa, dll)
Meskipun terlihat kompleks dan rumit, namun dalam pengerjaannya GA selalu berkoordinasi dengan divisi-divisi lain. Dua bulan sudah aku bekerja sebagai general affair. Panggilan baru telah lekat bersamaku, Pak Ji E. Dalam dua bulan ini hatiku belum mantap menjalani pekerjaan ini. Bahkan semua nomor telpon penting, seperti nomor kantor, nomor karyawan lain, nomor vendor, dan nomor-nomor atasan di Jakarta tak pernah ku simpan dalam telpon genggamku. Dua bulan aku jalani sebgai GA, aku sadari bahwa ini pekerjaan yang ku cari. Pekerjaan yang tidak monoton, setiap harinya selalu berbeda pekerjaan yang dijalani. Kini aku pun sadar, mungkin ini adalah jawaban Allah atas do'aku saat bekerja di PT. ICON+ dulu. Atau mungkin pekerjaan ini adalah jodohku karena kalau diingat-ingat GA menjadi hal penting dalam hidupku, penentu kelulusanku saat kuliah dulu. Selain itu ada banyak ilmu yang kudapat setiap hari pada posisi ini. Kini aku sudah mantap.


Sumber referensi:
  1. Suyanto, 2007. Artificial Intelligence: Searching, Reasoning, Planning and Learning, Indonesian Version. Bandung: Penerbit Informatika.
  2. RBS International Training - General Affair


4 Responses to "Ada Apa Dengan GA? Dari Genetic Algorithm Sampai General Affair"

  1. Dulu pas SMK gue juga pernah bikin wajan bolic! X)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat berarti anda kreatif dalam mencari sinyal :D

      Hapus
  2. Wajan Bolic, itu alat yang suka nyedot wi-fi orang yah, maling dong ? haram dong ? gak berkah dong ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang tidak berkah itu ya komentar ini hahahaha cuma bisa berpikiran negatif. Kalau gratis kenapa harus nyolong? Kalau tidak mencuri ya bukan maling.

      Hapus