Perang Satu Ayat


Perang Satu Ayat - Mungkin bagi sebagian orang kejadian 30 September lima puluh satu tahun lalu masih segar di ingatan meski tak sedikit pula yang melupakannya. Gerakan 30 September atau juga dikenal dengan sebutan Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) dan Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di saat tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta.

Tentu saja saya belum lahir pada tahun tersebut. Namun menurut buku sejarah yang saya baca di bangku sekolah dan juga menurut cerita Ayah, gerakan tersebut dipelopori oleh suatu kelompok komunis yang ada di Indonesia pada saat itu.

Menurut cerita Ayah, masyarakat Indonesia yang sedari dulu memiliki tingkat religius tinggi bisa dikelabui dan diseret untuk ikut menjadi anggota komunis. Ada banyak cara yang dilakukan, salah satu yang paling diingat oleh ayah adalah dengan cara-cara pendekatan religius. Salah satunya mereka mengutip satu Ayat Al Qur'an,
Maka celakalah orang yang shalat.
Surat Al-Ma’un Ayat 4
Jika dilihat sekilas, terlihat bahwa ayat ini mengutuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Hal ini bisa menjadi senjata yang ampuh untuk menjerumuskan orang awam dan orang yang kurang mengenyam pendidikan serta mudah percaya.

Jika kita perhatikan, pada ayat 4 dan 5 Surat Al-Ma'un terdapat tanda لا (laa) yang artinya tidak boleh berhenti tanpa mengulang kecuali terletak pada akhir ayat. Jika terletak pada akhir ayat, maka tanda ini akan berfungsi sebagai tanda koma seperti pada penulisan latin. Itu artinya pada ayat 4 dan 5 Surat Al-Ma'un tidak boleh dipotong satu ayat dan seharusnya diartikan,
Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.
Surat Al-Ma’un Ayat 4-5
Jadi yang celaka bukan orang yang shalat, tapi orang-orang yang lalai mendirikan shalat. Jika dilihat lebih detail lagi, Surat Al-Ma'un membicarakan tentang orang yang mendustakan agama. Ada 5 tanda orang yang mendustakan agama, yaitu orang yang menghardik anak yatim, orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, orang yang lalai mengerjakan shalat, orang yang berbuat riya dan orang enggan menolong dengan barang yang berguna. Maha Suci Allah dengan segala firman-Nya.

Mengartikan ayat suci Al Qur'an tidak bisa persatu ayat atau separuh-separuh. Harus dihayati dan benar-benar difahami tanda bacanya. Meskipun secara harfiah satu ayat mengartikan sesuatu, namun kita juga harus memahami arti ayat sebelum dan sesudahnya untuk bertabayyun. Apakah arti yang dimaksud seperti apa yang kita mengerti atau tidak.

Sudah lewat lima puluh satu tahun Gestapu dan sudah selama itu pula lah seharusnya masyarakat Indonesia belajar dan move on dari peristiwa ini. Namun ternyata lima puluh satu tahun bukan waktu yang cukup untuk membuat masyarakat kita belajar.

Di era ini, era sosial media modern, sepertinya sudah sangat lumrah jika terjadi perselisihan dan kemudian menjadi sebuah perdebatan yang tak ada habisnya. Kubu yang satu ingin menang sendiri, dan kubu yang lain tidak mau kalah sendiri.

Cukup banyak trik dan intrik yang digunakan untuk medapatkan hasil yang diinginkan. Termasuk dengan cara mengutip satu ayat suci Al Qur'an. Cuma bermodal satu ayat membuat perasaan melambung tinggi dan merasa menjadi paling benar. Kalau sudah seperti ini, kubu yang lain akan mencari satu ayat Al Qur'an yang seakan membenarkan argumennya. Meskipun sebenarnya kedua ayat tersebut tidak ada kaitannya apa lagi saling sanggah.

Sama-sama berargumen, sama-sama memegang satu ayat, sama-sama tidak mau kalah dan sama-sama ingin menang sendiri. Maka terjadilah perang satu ayat.

Parahnya kini kita sedang dihadapkan pada satu masalah dimana masyarakat tidak mempercayai dengan satu ayat Al Qur'an meskipun mayoritas ulama mengatakan tidak ada salah tafsir dengan pemotongan ayat tersebut. Perang satu ayat pun bergulir, saling mempertanyakan tafsir dan makna ayat tersebut. Saling mengolok-olok saling mencaci dan mencerca bahkan tak segan menghina para ulama yang dianggap salah tafsir.


4 komentar untuk "Perang Satu Ayat"

  1. Bener banget, Bro. Gua paling kesel kalo udah ada orang bawa-bawa agama ke dalam politik. Dan mengutip ayat tertentu untuk menekan pihak lainnya. Padahal, dia gak melihat situasi penggunaan ayat tersebut.

    BalasHapus
  2. ketika pembelajarannya hanya setengahnya maka g sempurna dan hasilnya rancu
    hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya bro, ketika ada orang yang menggelontorkan suatu ayat, kita harus berhati-hati dan terus belajar bukan langsung tidak percaya atau langsung percaya.

      Hapus