Demi Mengajarkan Anak Menabung, Aku Merogoh Kocek Terlalu Dalam Untuk Mainan Anak

mainan-truk-sampah
Mengajarkan anak menabung sejak usia dini adalah perkara wajib bagi orang tua. Tujuannya agar anak bisa lebih mengenal arti uang dan mengenal konsep pengelolaan keuangan sejak dini. Kali ini aku akan bercerita tentang mengajarkan Alzi tentang menabung. Entahlah apakah ini terlalu dini untuk usia Alzi yang masih 32 bulan atau tidak. Rencana mengajarkan menabung pun terjadi begitu saja secara spontan. Aku yakin tidak ada yang sia-sia dalah kehidupan ini.

Cerita berawal saat kami berbelanja kebutuhan bulanan di sebuah pusat perbelanjaan di Jember, Roxy. Saat belanja kami selalu membagi tugas, aku menjaga Alzi sedangkan Ibun, panggilan kami kepada istriku, berbelanja semua kebutuhan kami untuk 1 bulan kedepan. Beberapa bulan ini, Alzi suka sekali bermain hotwheels disebuah toko mainan yang terdapat di Roxy. Toko mainan tersebut menyediakan sebuah track hotwheels yang bebas dimaikan oleh pengunjung.

Seperti biasa, sesampai di Roxy kami semua menuju ke toserba untuk menemani Ibun berbelanja. Ibun membawa troli besar, sedangkan Alzi membawa troli kecil lalu kami berpencar. Ibun belanja kebutuhan bulanan, sedangkan aku dan Alzi belanja kebutuhan cemilan sebulan kami, meski selalu habis dalam beberapa hari saja.

Setelah Alzi mendapat semua cemilan yang diinginkannya, kami langsung antri untuk membayar dan menuju tempat bermain hotwheels. Biasanya, Alzi anteng bermain hotwheels tanpa meminta apapun sampai Ibun datang menjemput kami dan kami pulang. Tapi kali ini berbeda. Tiba-tiba dia ingin berkeliling toko mainan dan menemukan mainan truk sampah berwarna hijau.

"Aku ingin truk sampah, ayah!", ujar Alzi tiba-tiba.

Aku terdiam sebentar lalu melihat harganya, saat itu aku melihat angka Rp109.900 untuk sebuah mainan berukuran 20cm x 8cm x 6 cm (tertulis) berbahan diecast, menurutku saat itu harga yang setara. Aku hanya menjawab, "Nanti ya kalau ayah punya uang".

"Tapi aku ingin truk itu", jawab Alzi.

Aku terdiam sejenak, menimbang untuk membelikan Alzi mainan tersebut. Tapi ku pikir tak baik jika langsung membelikan saat itu juga. Ada 2 alasan aku tidak langsung menuruti permintaannya itu. Pertama, aku dan Ibun belum memperhitungkan perencanaan keuangan kami dalam satu bulan kedepan. Kedua, aku merasa kalau permintaan Alzi dituruti dengan mudah, nanti di kemudian hari dia akan seenaknya meminta sesuatu kepada kami. Aku pun membujuknya untuk bertemu dengan Ibun di toserba untuk membicarakan hal ini. Dia menyetujuinya.

Melalui pesan singkat, aku memberitahu Ibun tentang keinginan Alzi. Aku juga dengan cepat berkoordinasi cara menjawab permintaannya saat kami bertiga bertemu. Ternyata Ibun sudah hampir selesai, kami betemu dikasir. Alzi langsung memeluk Ibun.

"Alzi abis dari mana? Abis main hotwheels ya?", tanya Ibun mencoba mengalihkan perbincangan. Kemudian mereka ngobrol banyak hal, aku menggantikan posisi Ibun di kasir. Alzi lupa tentang keinginannya membeli mainan. Lalu secepat mungkin kami mengajaknya untuk pulang karena semua kebutuhan kami sudah kami dapat.

Saat kami berjalan menuju parkiran tiba-tiba Alzi berkata, "Ibun, aku ingin mobil truk sampah".

"Iya, nanti ya kalau ayah punya uang kita beli truk sampahnya", jawab Ibun sesuai dengan jawabanku sebelumnya.

"Ayah, aku ingin mobil truk sampah", kata Alzi sambil mengalihkan pandangannya kepadaku.

"Iya, nanti ya. Tidak sekarang. Ayah mau kumpulkan uang dulu buat beli itu", jawabku.

"Tapi aku ingin...", rengek Alzi.

Ibun langsung menggendongnya sambil mengatakan bahwa kita tidak bisa membelinya sekarang. Kita butuh waktu untuk membeli. Meski hampir menangis, kami berhasil membawanya sampai sepeda motor dan kami langsung menuju rumah. Dalam perjalanan menuju rumah Alzi tertidur dipangkuan Ibun.

Oh ya, tentang truk sampah... Alzi mengenal kendaraan itu dari sebuah video murottal Al Qur'an yang sering Alzi tonton sejak dia masih kecil. Video tersebut memiliki suara bacaan Al Qur'an Juzz 30 tapi tampilan videonya adalah film kartun yang menampilkan berbagai macam kendaraan seperti mobil, truk, bis, pesawat, kereta dalam berbagai macam bentuk dan warna. Kami tak menyangka kalau Alzi sangat mengingat bentuk truk sampah yang ada dalam video tersebut.

Sesampai dirumah, aku dan Ibun mendiskusikan tentang pembelian mainan ini. Kami sepakat akan membelikan mainan tersebut dengan syarat Alzi mau menabung. Itu pun jika besok Alzi mengingat dan masih meminta mainan truk sampah. Kami sangat berharap dia lupa akan keinginannya itu.

Ternyata perkiraan kami meleset. Saat aku masih di kantor, melalui pesan singkat Ibun bercerita bahwa Alzi masih mengingat keinginannya untuk memiliki mainan truk sampah. Aku tersenyum kagum dengan keinginannya yang kuat tapi masih terkendali. Kami pun mulai menjalankan rencana kami untuk mengajarkan menabung kepada Alzi.

"Zi, kalau Alzi ingin punya mainan truk sampah, Alzi harus rajin menabung. Tidak banyak beli permen. Kalau dapat uang dari Ibun, Ayah, Oma, Opa, Onty, Om atau mbah, langsung ditaruh di celengan. Tidak untuk beli permen", kata Ibun sambil menunjukkan celengan lama kami, tempat kami biasa menyimpan uang koin kembalian belanja.

Awalnya Alzi bingung dengan kata-kata bingung. Alzi tampak tidak mengerti dengan arahan yang diberikan Ibun kepadanya. Tidak menyerah, Ibun langsung mempraktikkan memasukkan uang koin kedalam celengan. Dia langsung nyengir melihat kegiatan yang baru diketahuinya tersebut.

Alzi minta uang lagi dan langsung memasukkannya kedalam celengan. Minta lagi, lagi dan lagi dan terus memasukkan uang kedalam celengan. Meskipun sadar bukan seperti ini yang kami harapkan, setidaknya dia tau bagaimana cara memasukkan uang koin. Hari berikutnya, saat Alzi meminta mainan truk sampah, Ibun mengulangi ucapannya dan kali ini sambil memberikan alzi uang koin untuk ditabung.

Diumur 2 tahun Alzi sudah mengerti arti membeli sesuatu di toko. Dia suka sekali membeli permen di toko dekat rumah. Dengan mengendarai sepeda kecilnya dia sudah berani pergi untuk membeli sendiri permen di toko yang jaraknya 1 blok dari rumah kami. Tentu saja dengan pengawasan kami dari jauh tanpa sepengetahuannya.

Ternyata mengajarkan anak berumur 32 bulan untuk menabung tidak segampang perkiraan kami. Ketika Alzi minta uang buat beli permen dan diarahkan untuk menabung, dia malah merengek-rengek. Kami terus berusaha agar dia tetap mau memasukkan uang kedalam celengen. Akhirnya kami memberinya 2 uang koin, yang 1 untuk menabung yang 1 boleh untuk beli permen. Dia setuju.

Hampir setiap hari Alzi meminta untuk beli mainan truk sampah. Setiap Alzi meminta, Ibun selalu menjawab dengan kata-kata yang sama. Sampai suatu malam, saat kami pillow talk dan Alzi sudah tidur, Ibun berkata, "Yah sepertinya sudah waktunya beli truk sampah deh. Sudah hampir 3 minggu sejak Alzi memintanya dan Alzi sudah terlalu sering minta. Nanti kita hitung uangnya bertiga. Kalau pun gak cukup, ayah tambahin ya. Kalau harganya cuma seratusan ribu pasti nambahinnya cuma sedikit. Aku yakin tabungan Alzi ada banyak kok".

Aku setuju, dengan syarat nunggu Alzi meminta baru kita bersama-sama melakukan rencana tersebut. Hingga disuatu Minggu siang, "Ibun ayok beli truk sampah di Roxy" kata Alzi.

"Yuk, kita hitung hasil tabungan Alzi dulu. Karena Alzi rajin menabung, pasti uangnya cukup buat beli truk sampah", kata Ibun.

Kami bertiga menghitung dan hasilnya hanya lima puluhan ribu. Kami langsung membungkusnya kedalam kantung plastik. "Ini uangnya, nanti Alzi yang bayar ke tante kasirnya ya", kata Ibun dan Alzi mengangguk setuju.

Setelah mandi sore, kami berangkat menuju Roxy untuk membeli mainan truk sampah. Raut kegembiraan terpancar jelas di wajah Alzi. Sesampainya di Roxy, dengan semangat Alzi langsung menuju toko yang dituju.

Sesampai ditoko, aku langsung berbicara dengan kasir, "Mbak nanti kalau anakku bayar mainan pakai uang koin diterima aja ya. Itu hasil dia menabung. Nanti bayarnya pakai ini aja". Sambil menyerahkan kartu kreditku kepada kasir.

Aku dan ibun menemani Alzi mencari mainan yang diinginkannya. Kami sengaja membebaskan dia untuk mencari. Ketika dia memilih mainan lain selain yang dia inginkan sebelumnya, kami akan mengingatkannya bahwa yang dia inginkan adalah mainan truk sampah. Bukan yang lain.

Ternyata kami kembali dibuat kagum olehnya. Keinginannya sangat kuat, ingatannya tajam. Dia hanya mencari mainan truk sampah yang sangat dia inginkan dan membawanya ke kasir. Aku dan Ibun melihat kembali harga mainan truk sampah yang tertera pada price tag. Betapa terkejutnya kami, ternyata aku salah melihat harga. Harga mainan tersebut bukan Rp109.900 tapi Rp199.000 (dua ratus ribu kurang seribu rupiah).

Menurutku harga yang lumayan mahal, mengingat setelah ku periksa ternyata bukan 100% diecast, juga tidak memiliki engine, gearbox dan lainnya. Kalau ditoko mainan lain, pasti sudah dapat mainan dengan remote kontrol. Ibun langsung melotot ke arahku, meski kecewa dan menahan marah, dari matanya aku mengerti bahwa mainan ini tetap harus kami beli mengingat proses kami sudah sejauh ini. Tidak jadi membeli artinya membuat Alzi kecewa, kami takut Alzi malah trauma untuk menabung. Akhirnya, demi mengajarkan anak menabung, aku merogoh kocek terlalu dalam untuk membeli mainan anak, Rp200.000.

Kebiasaan menabung ini masih tetap kami tanamkan ke Alzi setiap hari. Meskipun dia belum memiliki target membeli mainan lain.

Belum ada Komentar untuk "Demi Mengajarkan Anak Menabung, Aku Merogoh Kocek Terlalu Dalam Untuk Mainan Anak"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 2