Review Film Jangkrik Bos dan Kelahiran Kembali Sang Legenda Komedi

The Legend Reborn

Jangkrik Bos! - Lahirnya kembali sang legenda komedi menjadi trending topik di sosial media dalam beberapa hari ini. Dono, Kasio dan Indro yang tergabung dalam Warkop DKI terlahir kembali di era yang super modern, 2016. Warkop DKI adalah grup lawak legendaris Indonesia. Berawal dari sebuah siaran radio Prambors yang kemudian bermain film dan membuat nama mereka melegenda.

Pada 18 Desember 1997, Warkop DKI kehilangan salah satu personilnya, Drs. Kasino Hadiwibowo, alias Kasino, karena tumor otak. Meski diliputi duka dan kehilangan yang sangat mendalam, Dono dan Indro masih terus berkarya dalam sebuah sinetron yang ditayangkan di stasiun televisi swasta Indonesia.

Kemudian pada 30 Desember 2001, Warkop DKI kembali kehilangan salah satu personilnya, Drs. H. Wahyu Sardono, alias Dono, karena kanker paru-paru yang dideritanya. Sehingga tersisa Indro saja. Meskipun Indro terus berkarya, namun sejak saat itu Warkop DKI seakan mati suri meskipun film-film warkop DKI tak pernah absen ditayangkan disetiap libur nasional di televisi swasta Indonesia.

Kini di tahun 2016, Sang Legenda Komedi diusahakan lahir kembali dengan usaha yang sangat luar biasa yang secara langsung dibawah panduan Indro Warkop. Dengan Abimana Aryasatya sebagai Dono, Vino G. Bastian sebagai Kasino dan Tora Sudiro sebagai Indro.

Sejak mendengar kabar akan "dilahirkan"nya kembali trio legendaris ini di era modern saya sudah mulai berfikiran negatif, "Ah biarlah Sang Legendaris menjadi legenda, kalau dilahirkan kembali ya jadi merusak sisi legendarisnya. Seperti menghidupkan mayat hidup saja".

Namun sesosok malaikat membisikkan ditelinga kanan saya, "Hey ayolah ini hanya sebuah film, sebuah wadah untuk berkreasi dan berkarya. Mengenalkan kembali sosok legenda tak pernah ada salahnya".

Maksud pemikiran negatif saya diatas sebenarnya juga ada sisi positifnya lho (narsis). Saya berpikir bahwa dunia perfilman Indonesia itu sudah hebat dan sangat kreatif. Jadi tak perlu membuat ulang sebuah legenda, tapi membangun sebuah legenda baru. Membuat ulang sebuah legenda seperti ini, seakan meremehkan keahlian para penulis, sutradara, aktor dan aktris Indonesia, meremehkan tak bisa membuat sebuah legenda baru. Hidup dan Jayalah perfilman Indonesia!

Saya sadar betul bahwa satu pemikiran negatif saya itu tidak akan menghambat kreatifitas Om Indro dan kawan-kawan untuk terus berkarya. Hingga akhirnya film tersebut rilis pada 8 September 2016. Rasa penasaran pun muncul. Kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan "Semirip dan selucu apa jika dibandingkan dengan sang legenda".

Film Jangkrik Bos mengambil latar yang mirip dengan film Warkop DKI berjudul Chips yang diproduksi tahun 1982--dan--disutradari oleh Iksan Lahardi [id.wikipedia.org]. Berbeda dengan film Chips, Jangkrik Bos disutradarai oleh Anggy Umbara.

Chips Reborn

Chips, yang merupakan singkatan dari Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial, adalah sebuah perusahaan petugas pelayanan masyarakat swasta yang melayani khusus di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat (semacam polisi swasta). Dono, Kasino dan Indro adalah anggota dari Chips. Ada-ada saja tingkah kocak mereka perbuat sehingga membuat ketiga orang ini diseret pada sebuah pengadilan. Didakwa bersalah mereka pun dituntut untuk membayar ganti rugi sebesar 8 Milyar Rupiah atau (jika tidak bisa membayar dalam satu minggu) mereka akan dipenjarakan. Mereka pun mencari akal agar bisa membayar uang ganti rugi tersebut. Segala daya upaya mereka yang kocak mereka lakukan demi mendapat uang tersebut.

Awalnya saya pikir film Jangkrik Bos merupakan remake dari film Chips. Ternyata bukan. Hanya mengadopsi awal cerita dari film Chips saja. Ceritanya sama-sama mengangkat kegilaan Kasino yang memeras atasannya dengan kode "Jangkrik bos!" karena sempat memergoki atasannya sedang bermain wanita. Tapi plot cerita sangat berbeda.

Secara keseluruhan film ini memang konyol dan lucu. Terbukti hampir seluruh penonton di bioskop tertawa terbahak-bahal hampir tidak berhenti sepanjang film ini. Teman saya, yang juga seorang blogger, Vindy Putri, menuliskan pada blognya bahwa dia tertawa sampai menangis (vindyputri.com [2016]: Warkop DKI Reborn - JANGKRIK, Boss! - Aku Tertawa Sampai Menangis).

Saya bilang hampir seluruh penonton tertawa terbahak-bahak, karena memang tidak seluruh penonton tertawa melihat film ini. (Mungkin hanya saya saja) Saya kurang menikmati film ini. Saya tidak bisa tertawa lepas melihat film ini (bohong kalau saya tidak tertawa sama sekali melihat film). Lucu memang, tapi terkadang saat yang lain tertawa, saya bertanya dalam diri saya, "Lucunya tuh dimana?".

Saya memang memiliki selerah humor tersendiri (berbeda dengan orang kebanyakan). Tapi biasanya, saya selalu tertawa jika melihat para legenda ini, Warkop DKI, diputar di stasiun televisi swasta. Meski berkali-kali melihatnya saya selalu tertawa. Saya rasa tingkat kelucuannya sudah berbeda jauh. Tapi saya bersyukur karenanya. Para Legenda tetap legenda karena tidak bisa diganti dengan siapapun.

Masalah kemiripan karakter, jelas Abimana Aryasatya, yang memerankan Dono, juaranya. Abimana berhasil memerankan karakter Dono dengan baik meskipun gigi aslinya tidak tongos. Dia seakan dirasuki arwah Dono ketika memerankan karakter Dono meskipun tidak bisa 100% menyamai karakter tersebut. Sedangkan Vino, hampir berhasil memerankan karakter Kasino.

Yang sedikit kurang menonjol adalah Tora Sudiro. Dalam memerankan karakter Indro, Tora sedikit kurang total. Saya yakin bahwa Tora mampu berakting seperti Indro, tapi Tora seperti dibayang-bayangi oleh karisma Indro yang masih hidup dan kuat sampai sekarang. Dan memang dalam film ini diceritakan bahwa Tora terus dibayang-bayangi oleh sosok Indro.

Jelas bahwa, legenda tetaplah legenda. Tak akan ada yang bisa menggantikan 100% secara otentik. Dan akting tetaplah akting. Semua aktor atau aktris bisa saja memerankan siapapun tapi akan kesulitan membawakan karakter siapapun. Karena setiap aktor dan aktris memiliki karakter masing-masing.


Sumber gamber: www.bintang.com | www.cinemags.id




2 Responses to "Review Film Jangkrik Bos dan Kelahiran Kembali Sang Legenda Komedi"

  1. Aku juga kadang pas liat orang tertawa juga heran. lucunya di mana coba?

    BalasHapus
  2. Nahhh... blom nonton nih..
    kemarin ke bioskop, antriannya naudzubillah...

    BalasHapus