Kalau Pro Jangan Terlalu Tolol Jika Kontra Jangan Terlalu Goblok

Pro dan Kontra

Pro dan Kontra - Terhitung sudah 783 hari sejak pemilihan Presiden Republik Indonesia, 9 Juli 2014, hingga sekarang 30 Agustus 2016. Namun perdebatan mana yang lebih baik antara Joko Widodo dan Prabowo masih saja terjadi. Nampaknya kubu Prabowo selalu kontra dengan apapun yang dilakukan oleh Jokowi. Mereka selalu mendebat yang buruk-buruk tentang Jokowi. Sedangkan para pendukung Jokowi akan mati-matian membela Jokowi.

Dan sepertinya masing-masing bersepakat untuk menutup sebelah mata. Pendukung Jokowi hanya melihat yang baik-baik saja dan yang buruk (kesalahan) sengaja tidak dilihat. Sedangkan pendukung Prabowo hanya melihat yang buruk-buruk saja dan yang baik sengaja tidak dilihat.

Setali tiga uang, masyarakat kita tidak hanya membahas tentang pemilu presiden 2014 saja. Apapun yang muncul ke permukaan pasti menimbulkan pro dan kontra. Dari hal spele, seperti kasiat makanan dan minuman, sampai ke sebuah acara seperti Jember Fashion Carnaval bahan urusan agama pun tak luput menjadi bahasan pro dan kontra.

Perdebatan siapa yang lebih baik antara pro dan kontra semakin gampang ditemui. Debat kusir yang tidak akan pernah memiliki titik temu pasti menjadi bumbu perdebatan tersebut. Yang pro tidak mau kalah, yang kontra tidak ingin mengalah. Sama-sama ingin menang.

Lucunya, ingin sama-sama menang, ingin sama-sama benar tapi menggunakan cara yang tolol dan goblok. Disini bukan berarti saya sebagai penulis artikel ini adalah orang yang paling pintar di antara pro dan kontra. Namun faktanya memang begitu.

Agar teorinya terlihat benar, agar lawannya terlihat kalah, segala sesuatu dilakukan. Termasuk membuat teori-teori baru, dalil-dalil baru yang sama sekali tidak benar, malah membodohi masyarakat. Masyarakat yang awalnya tak tahu apapun, jadi ikut terseret kedalam teori-teori bodoh yang menyesatkan.

Masyarakat awam pun kebingungan, mana yang sebenarnya benar dan mana yang cuma berpura-pura ingin benar. Sementara, ingin mencari jawaban sendiri dasar keilmuan mereka tidak mencukupi untuk hal tersebut.

Bahkan baru-baru ini, ternd yang sedang berkembang adalah auto-judgement. Hal ini mengacu pada opini yang dibuat oleh seseorang, apakah opini tersebut mendukung ataukah opini tersebut malah menjatuhkan. Jika opini kita mendukung, maka auto-judgement akan mengelompokkan kita menjadi pihak pro. Sedangkan jika opini kita menjatuhkan, maka auto-judgement akan mengelompokkan kita menjadi pihak kontra.

Contohnya begini, terdapat suatu statement tentang Agama. Bagi yang beropini mendukung, maka dia akan dikelompokkan menjadi orang yang beragama secara otomatis. Dan bagi yang beropini sedikit melenceng karena mazhab dan perbedaan pemahaman, maka secara otomatis akan dikelompokkan menjadi orang murtad.

Contoh lain adalah masalah pemilu presiden tahun 2014. Jika Presiden terpilih, Jokowi, mengeluarkan sebuah kebijakan maka statemen pro dan kontra akan segera menghiasi kehidupan bermasyarakat. Bagi yang mendukung jelas masuk kedalam bagian pro. Namun lucunya jika ada masyarakat yang mengkritisi kebijakan tersebut dengan keilmuan yang ada dengan memikirka segala aspek positif dan negatif, maka orang tersebut sengan otomatis akan disebut sebagai "barisan sakit hati".

Barisan sakit hati adalah sebutan untuk kelompok yang mendukung Prabowo. Disebut-sebut bahwa pendukung Prabowo sedang sakit hati karena yang didukung tidak jadi terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia.

Jangankan orang yang tidak tahu apa-apa, bahkan orang yang berawal menjadi pendukung Jokowi saja, jika memiliki statement yang bertentangan dengan para pendukung Jokowi maka dia akan secaar otomatis disebut barisan sakit hati.

Entah sampai kapan saling tuding menuding dan saling menjatuhkan seperti ini akan berahir dengan damai. Air, Api, Tanah, dan Udara, dahulu keempat negara hidup dengan damai, namun semuanya berubah saat negara api menyerang. Hanya Avatar yang mampu mengendalikan keempat elemen yang dapat menghentikannya. Namun saat dunia membutuhkannya dia menghilang.

Mungkin polemik antara pro dan kontra akan berhenti ketika Avatar muncul kembali. Dan selama Avatar belum muncul, sebaiknya kurangi teori-teori tolol dan goblok yang membodohi masyarakat.



Note: sumber gambar: http://www.harianbernas.com/berita-20039-Saling-Tunjuk-Tidak-Menyelesaikan-Masalah.html




0 Response to "Kalau Pro Jangan Terlalu Tolol Jika Kontra Jangan Terlalu Goblok"

Poskan Komentar