Hujan di Penghujung Agustus dan Praktik Syirik Perdukunan Pawang Hujan


Hujan dan Pawang - Indonesia, sebuah negara yang dikenal dengan sebutan negara yang gemah ripah loh jinawi atau negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa, hanya memiliki dua musim saja. Musim kemarau dan musim hujan.

Kekayaan alam Indonesia dipengaruhi oleh letak geografis Indonesia yang sangat strategis. Diapit oleh dua samudra, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, dan dilalui oleh dua pegunungan, yaitu Pegunungan Mediterania dan Pegunungan Sirkum Pasifik. Indonesia juga memiliki cukup banyak gunung berapi yang berstatus aktif, itulah sebabnya tanah di Indonesia subur dan gembur.

Secara astronomis Indonesia terletak pada 6⁰ Lintang utara - 11⁰ Lintang selatan serta 95⁰ bujur timur - 141⁰ bujur timur. Dengan begitu Indonesia dilalui oleh garis khatulistiwa. Karena itu Indonesia termasuk negara yang beriklim tropis.

Adanya pergerakan angin muson barat dan angin muson timur yang menjadikan Indonesia menjadi negara yang memiliki dua musim (kemarau dan hujan). Angin muson barat terjadi pada bulan Oktober sampai bulan April yang sifatnya basah, oleh karena itu Indonesia mengalami musim hujan. Sedangkan angin muson timur terjadi pada bulan April sampai dengan bulan Oktober yang sifatnya kering, sehingga Indonesia mengalami musim kemarau.

Secara teori ilmu pengetahuan alam dan geografi, Indonesia akan mengalami musim kemarau pada bulan April sampai bulan Oktober. Dan sekarang, di penghujung Agustus, seharusnya Indonesia masih dihembus oleh angin muson timur. Dan itu semua hanya perhitungan manusia.

Manusia hanya bisa memperhitungkan, namun segala sesuatunya hanya Allah yang bisa menentukan. Jika perhitungan manusia hari ini akan cerah, namun jika kehendak Allah akan hujan, maka jadilah hujan. Begitu pula sebaliknya, jika perhitungan manusia hari ini akan hujan, namun jika kehendak Allah akan cerah, maka jadilah cerah. Bahkan jika Allah berkehendak, maka bisa saja salju turun di Bumi Pertiwi Indonesia.

Selain memiliki kekayaan Alam, Indonesia juga dikaruniai dengan kekayaan kepercayaan, budaya dan agama. Salah satu kepercayaan yang melekat di kebanyakan masyarakat Indonesia adalah praktik perdukunan. Ada banyak jenis dukun di Indonesia, mulai dari dukun melahirkan yang membantu persalinan (kehidupan) sampai dukun santet yang membantu membunuh orang (kematian). Salah satu yang paling eksis adalah dukun hujan (pawang hujan).

Praktik perdukunan sangat dikutuk oleh Islam karena termasuk kedalam praktik syirik. Syirik adalah segala perbuatan yang bersifat menyekutukan Allah. Menyekutukan Allah bukan hanya perkara menyembah selain Allah. Tapi mempercayai bahwa pertolongan selain dari Allah itu ada.

Contohnya pawang hujan. Orang berbondong-bondong mendatangi pawang hujan yang dipercaya dapat mengendalikan hujan. Tujuannya banyak. Yang paling banyak datang jelas yang meminta tidak hujan agar acara yang akan dilakukannya berjalan lancar. Ada pula yang sebaliknya, meminta turun hujan agar acara orang yang tidak disukainya berantakan.

Ini jelas sekali syirik karena meminta pertolongan selain kepada Allah. Dalam Islam, meminta hujan memliki cara sendiri dengan berdo'a kepada Allah dan melakukan sholat istisqo. Sholat istisqo adalah sholat meminta hujan. Cara mengerjakannya adalah dengan berniat sholat istisqo dan berjama'ah dilapangan serta harus ada khotbah seperti layaknya sholat ied.

Tidak hanya pelaku perdukunanny saja, dukun/pawang hujan dan orang yang datang ke dukun, yang dimasukkan kedalam golongan syirik. Tapi menurut seorang ustadz pada sebuah khobah sholat Jum'at, "Jika ada orang yang mengatakan 'lho kok hujan, pasti pawang hujannya kurang kuat atau kurang pintar' juga termasuk syirik. Bahkan orang-orang yang percaya bahwa menggantung sesuatu akan menjauhkan daerahnya dari hujan juga termasuk syirik".

Tidak hanya mereka yang menjadi dukun atau datang ke dukun, tapi orang-orang yang juga percaya bahwa orang lain menggunakan dukun juga ikut syirik. Kita harus ingat betul segala sesuatunya di datangkan oleh Allah. Hujan adalah sebuah rezeki yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia. Bukan sesuatu yang bisa dikendalikan oleh seorang manusia yang menyebut dirinya pawang. Juga orang-orang yang percaya bahwa menusuk cabe merah dengan lidi lalu diletakkan di tempat tertinggi suatu rumah maka akan menjauhkan dari hujan, termasuk kedalam golongan syirik.

Lalu bagaimana dengan hujan buatan? Hujan buatan berbeda dengan praktek perdukunan. Karena hal tersebut merupakan ikhtiar seorang manusia agar suatu tempat yang telah kering berkepanjangan bisa mendapat hujan. Hal tersebut menggunakan perhitungan-perhitungan empiris yang tidak menggunakan ilmu perdukunan. Dan para ilmuan tidak pernah mengklaim bahwa hujan buatan adalah hujan sungguhan, tapi hanya buatan.

Semoga kita dijauhkan dari praktek syirik saat hujan turun. Minimal menghindari untuk mengatakan, "Ah pada acara ini turun hujan, pasti gak pake pawang hujan".




Note:
Sumber gambar: http://quotesgram.com/img/fun-rainy-day-quotes/7090222/




0 Response to "Hujan di Penghujung Agustus dan Praktik Syirik Perdukunan Pawang Hujan"

Posting Komentar