Menjadi Manusia Tidak Perlu Banyak Bersyukur

Sujud Syukur Timnas
sumber gambar: www.koran-sindo.com
Menjadi Manusia Tidak Perlu Banyak Bersyukur - Jum'at, 11 September 2015, saya mengantar adik saya ke Surabaya mengendarai sepeda motor. Lalu pulang ke Jember dengan menggunakan jasa angkutan umum, bus antar kota. Perjalanan terasa asik karena sebangku dengan seorang pria paruh baya yang tak segan berbagi cerita dengan saya. Banyak bahasan yang saya dapat, namun yang ini saya bagikan kali ini dan membuat saya terkesima, beliau mengatakan "Manusia tidak perlu banyak bersyukur".

Awalnya saya sempat tertegun dengan kata-kata bapak tadi. Namun setelah beliau menjelaskan panjang lebar, saya pun menganggukan kepala saya tanda setuju dengan teori bapak yang-saya-lupa-menanyakan-namanya itu (yang selanjutnya dalam artikel ini saya sebut Bapak Budi). Kurang lebih demikian bahasan tersebut.

Seperti yang kita tahu arti syukur adalah rasa terima kasih kepada Allah Sang Maha Pencipta. Namun seperti apakah bentuk rasa terima kasih itu? Apakah cukup dengan berkata "Alhamdulillah" saat mendapat nikmat atau rezeky? Cara bersyukur paling sederhana memang dengan menyebut dan memuji nama Allah dengan tulus dan ikhlas.

Namun yang perlu kita sadari, nikmat dan rezeky yang Allah berikan sangatlah berlimpah. Kita tak bisa menghitungnya satu per satu. Mulai dari hidup, bisa bernafas, sehat, bahkan memiliki paras tampan atau cantik juga merupakan rezeky yang secara khusus Allah berikan kepada setiap manusia. Untuk itu kita perlu menyebut nama Allah di setiap hela nafas kita.

"Pertanyaannya adalah sanggupkah manusia melakukan itu? Menyebut nama Allah di setiap hela nafasnya?", ujar Pak Budi.

Ada sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim: Rasul pernah shalat sampai-sampai kedua kakinya bengkak (karena lamanya shalat), maka Aisyah berkata padanya, "kenapa kau melakukan semua ini ya Rasulallah? Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang?". Maka Rasul menjawab: "Apa tidak pantaskah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?".

"Rasul mengajarkan kita bersyukur tidak hanya dengan lisan tapi perbuatan", ujar Pak Budi. "Jadi sebenarnya kita tak perlu banyak bersyukur tapi kita harus pandai bersyukur. Banyak bersyukur hanya di lisan saja tanpa ada perbuatan yang menyatakan rasa syukur itu sendiri, lalu buat apa? Kita harus pandai mengaplikasikan rasa syukur itu sendiri", tambah Pak Budi.

Menurut Pak Budi, cara paling mudah menyikapi atau mensyukuri nikmat dan rezeky adalah dengan merawat rezeky yang kita dapat. Akan lebih baik jika rezeky tersebut kita gunakan untuk membantu sesama makhluk Allah. Contoh paling sederhana adalah menjaga kesehatan merupakan bentuk syukur atas kesehatan yang telah Allah berikan. Tidak hanya itu, merawat rambut yang indah, wajah yang tampan atau cantik pun merupakan bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan. Khusus untuk bagian tubuh alangkah baiknya mensyukuri dengan merawatnya saja, bukan untuk dimanfaatkan dan dibagikan kepada orang lain dengan dalih bersyukur.

"Contoh pandai bersyukur yang lain adalah dengan terus berfikir memanfaatkan rezeky yang Allah berikan di jalan Allah untuk membantu sesama makhluk Allah. Misalnya jika kita mendapatkan uang satu juta, kita seyogyanya berfikir uang tersebut busa digunakan untuk apa saja yang berguna untuk diri kita sendiri dan orang lain. Tidak untuk dibuat berfoya-foya", ujar Pak Budi.

Dengan pandai bersyukur, memanfaatkan semua nikmat dan rezeky yang Allah berikan di jalan Allah tanpa membuangnya secara mubazir (foya-foya), seperti misalnya saja memanfaatkan setiap hela nafas kita untuk menebar kebaikan maka kita secara otomatis selalu bersyukur kepada Allah tanpa harus banyak bersyukur.

Allah sudah menjanjikan kepada manusia yang tertulis pada Al Qur'an surat Ibrahim ayat 7, ".... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Jadi tak perlu banyak bersyukur sebenarnya, tapi yang kita butuhkan adalah pandai bersyukur, pandah memanfaatkan nikmat yang telah Allah berikan. Jika kita pandai bersyukur, Allah akan terus menambah nikmat yang kita dapat.




4 Responses to "Menjadi Manusia Tidak Perlu Banyak Bersyukur"

  1. Pak Budi cerdas sekali. Alhamdulilah udah dapet satu lagi ilmu yang bermanfaat :D

    BalasHapus
  2. Bersyukur dalam perbuatan juga hati tentunya :) bener juga sih, yang namanya bersyukur emang ga boleh diumbar", apalagi sengaja diucapin demi 'perhatian' dari orang lain. Well, salam ya buat Pak Budi kalau ketemu lagi. :D

    BalasHapus
  3. terima kasih untuk ilmunya

    BalasHapus