The Balinice - Empat Hari Tiga Malam Penuh Warna: Bayang Keindahan

Selat Bali
Akan selalu ada pelangi setelah hujan, namun tak akan pernah ada pelangi ketika mendung belum pergi.
Tak akan pernah ada keindahan ketika kelam masa lalu masih menutupi.

"Wah 25-28 Desember 2014 nanti kita libur panjang nih mas, kita enaknya liburan kemana?" ujar Lily, gadis cantik temanku sekantor, yang pekerjaannya selalu membutuhkan tenaga dan pikiran berlebih. Nampak raut mukanya merindukan melihat keindahan alam untuk kembali menyegarkan pikirannya.

Aku pun menawarkan Yogyakarta sebagai pilihan liburan kami. Namun tiket kereta dari Jember ke Yogya sudah habis terjual. Aku pun teringat akan sebuah janji sebuah liburan nekat bersama +Anggar Nur Herman Syah tahun lalu di Bali, Liburan Gila Ala Insinyur Pikun (2013): Bali. Terahir kali kami liburan nekat ke Bali, kami berjanji selanjutnya kami akan menuju Lombok. Kenapa tidak direalisasikan pada liburan kali ini saja? Namun setelah ku pikir ulang, Lombok terlalu jauh jika aku membawa seorang gadis berlibur mengendarai sepedah motor.

Setelah menimbang segala resiko yang ada serta segala keasyikkan yang akan kami peroleh, kami memutuskan untuk berlibur berkeliling Bali saja. Ditambah lagi sepupu Lily yang sedang bekerja di Bali siap menjadi tur guide kami. "Ini akan menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan di penghujung tahun 2014, di temani seorang gadis cantik", pikirku. It'll be nice trip! Itulah mengapa aku menuliskan Balinice pada judul cerita ini alih-alih Balinese.

Lily Bersama Spupunya
Koordinasi dengan spupuku segera ku lakukan. Lily juga melakukan hal yang sama, dia berkoordinasi dengan spupunya yang berkerja di Bali agar membantu mencarikan hotel tempat kami menginap. Dan yang paling berat adalah meminta izin pada Umi (Ibu-Lily). Lily masih takut meminta izin pada Umi karena dalam rencana perjalanan ini dari kami bertiga, hanya Lily yang perempuan. Lily memang tak mempermasalahkan ini, tapi dia takut Umi akan mempermasalahkannya. Harus mencari satu orang lagi, dan itu harus perempuan. Selain sebagai teman Lily di Bali nanti, juga sebagai teman ngobrol Angga di perjalanan, karena rencananya kami ke Bali mengendarai speda motor. Aku berboncengan dengan Lily, lalu Angga berboncengan dengan siapa? Kira-kira siapa!?

Aku dan Lily mencoba membujuk Vina, teman sekantor kami. Ternyata Vina memang meiliki rencana liburan ke Bali pada liburan tahun baru nanti. Dia juga stuju dalam perjalanan nanti akan berboncengan dengan Angga. Akhirnya dia mau memajukan lebih cepat liburannya ke Bali. Rencana kami terdengar oleh Ratih, teman sekantor kami juga. Ratih juga ingin ikut dengan pacarnya. Semakin banyak yang ikut, semakin asyik! Semakin mudah pula meminta izin pada Umi. Lily memberanikan diri meminta izin pada Umi, dan izin itu pun diberikan. (Aku yang ingin dibilang) Sebagai lelaki yang bertanggung jawab, aku juga meminta izin pada Umi agar diizinkan membawa anak perempuannya berlibur ke Bali. Hanya untuk memastikan bahwa beliau memang memberikan izin pada kami untuk berlibur ke Bali. Yeah beliau mengizinkan! It'll be nice trip in Bali.

Peta Rencana Perjalanan di Bali
Peta Rencana Perjalanan di Bali
Seminggu sebelum perjalanan liburan ke Bali, izin dari orang tuaku sudah, dari orang tua Angga sudah, dari orang tua Lily sudah, dan dari semua orang tua teman-teman yang akan mengikuti liburan ini sudah kami kantongi masing-masing. Sambil membayangkan keindahan dan kebahagiaan yang akan kami dapat, kami merencanakan tempat-tempat yang akan kami tuju di Bali nanti. Meskipun nanti akan diantar oleh spupu-Lily, setidaknya kami harus siap wish-list masing-masing. Agar tak bingung saat terpisah di jalan, aku mencari software pendukung yang bisa digunakan sebagai navigasi kami nanti.

Aku dan Angga memilih software Find My Friends! dari Family Safety Production. Software ini memungkinkan kami saling memantau posisi kami masing-masing melalui hubungan internet dan GPS. Namun amat disayangkan, yang bisa menginstal software ini hanya aku dan Angga, yang lainnya belum bisa. tak apa lah yang penting bisa.

Semangat dan bayangan keindahan terus membayang dalam benak kami semua. Dalam otak kami terus bergaung "Bali Bali Bali Bali kami datang". Euforia itu tak bisa kami bendung. Segala persiapan sudah kami matangkan. Rencananya kami berangkat dari Jember mengendarai speda motor pada tanggal 25 Desember 2014 pukul 03:00 WIB. Sampai akhirnya pada malam sebelum keberangkatan...

Angga berjanji akan datang pada sore hari sebelum keberangkatan. Namun sampai adzan magrib Angga tak juga datang. Setelah siap dengan segala sesuatu yang akan ku bawa ke Bali nanti, aku pergi ke rumah Lily untuk lebih mematangkan rencana kami dan sekali lagi berpamitan pada Umi. Sedang asyik mengobrol di rumah Lily, HPku berdering. Ternyata ada sms dari Budhe (Ibu-Angga). Sms yang keceriaanku sirna, membuat wajahku pucat. "Dit kamu dimana? Pakdhe ngamuk, Angga gak boleh keluar, nggak boleh ikut ke Bali".

Seperti baru tersengat aliran listrik 220 volt. Aku coba menenangkan diri dan membalas sms Budhe, "Kata Angga gakpapa pergi ke Bali, kok sekarang tiba-tiba nggak boleh?". Segera Budhe menjawab smsku, "Nggak tau Pakdhe, Budhe lho gakpapa".

Aku segera mencoba menghubungi Angga via telepon. Namun tak diangkat. Beberapa saat kemudian, dia sms. "Maaf ya, aku nggak boleh ke Bali sama bapak". Aku sudah seperti orang gila saat itu. Tak bisa berpikir jernih. Semua rencana dan persiapan sudah susah payah kami siapkan. Semua bayang keindahan sudah terlanjur tercetak dalam benak kami. Apakah rencana liburan ini harus gagal begitu saja!? Hilang dalam waktu singkat!? Hanya akan menjadi bayang keindahan selamanya!? Bayang yang tak bisa jadi nyata?

Arghhh!!! Ya Allah... Aku harus apa!?

Rencanan besar nan indah ini hanya akan menjadi bayang-bayang keindahan ataukah bisa menjadi nyata? Bersambung...


2 Responses to "The Balinice - Empat Hari Tiga Malam Penuh Warna: Bayang Keindahan"

  1. wahjajdi peansaran selanjutnya apa ya...

    BalasHapus
  2. Wah...wah asyiknya. Aku yang dari dulu pengen ke bali aja nggak pernah kesampaian kak.

    BalasHapus