Dimanapun Pasti Ada Anak Mas, Tapi Mereka Tak Pernah Menyadari

sumber gambar: kaskus.co.id
Dimanapun Pasti Ada Anak Mas, Tapi Mereka Tak Pernah Menyadari - Post ini tak akan membahas tentang makanan ringan zaman dulu. Tak akan membahas soal banyak post tentang makanan ringan ini dan ber-tagline "Jika dulu anda pernah memakan makanan ini, masa kecil anda bahagia", meskipun sampai sekarang aku tak mengerti apa hubungan antara kebahagiaan dan konsumsi masa lalu. Post ini berawal pada cerita seorang temanku yang tak akan ku sebut namanya, karena bisa jadi ini adalah aib baginya. Tapi ada sebuah masalah yang perlu direnungkan dan ku bagi.

"Aku males dirumah bro, aku merasa terkucil. Orang tua cuma merhatiin adik sama kakak saja, cuma mereka saja yang orang tuaku pikirkan, aku seperti anak terbuang", ujar temanku itu beberapa waktu lalu, saat kami berkumpul dengan teman-teman yang lain. Aku hanya terdiam tak berkomentar. Aku merasa kami bernasib sama tapi tak ingin kuungkapkan, aku lebih memilih mencari topik lain dari pada mengomentari atau mendukung masalahnya ini, teman-temanku yang lain pun memilih hal yang sama denganku. Tapi saat temanku itu pulang, aku jadi kepikiran masalah itu. Aku merasa ada kesamaan diantara kami semua yang ada disana saat itu.

Tiba-tiba hatiku mencelos, "Hah sama!? Apanya yang sama denganmu bro?". Aku terheran, temanku yang bercerita tadi bukan termasuk orang introvert ataupun orang pemurung. Dia orang yang ceria, tak menyangka ada masalah di balik otaknya yang brilian itu. Bahkan aku sering melihat hidupnya lebih asyik dari padaku, dia lebih beruntung dari padaku.

"Rumput terlihat lebih hijau, tapi siapa tahu kalau itu palsu?"

Mungkin kata-kata itu yang pass untuk keadaan saat ini. Aku juga sering berpikir bahwa kehidupan adikku lebih enak dan lebih baik karena dimanja oleh kedua orang tuaku. Apapun selalu dituruti. Apa lagi keberuntungannya yang sangat besar itu. Aku sempat merasa bernasib sama dengan temanku itu. Tapi... nanti dulu... Ternyata merenungkan masalah orang lain itu lebih mudah dari pada merenungkan masalah orang lain. Dari memikirkan masalah temanku itu, aku sadar bahwa aku salah besar!

Awalnya aku hanya ingin menyalahkan temanku itu, temanku lebih beruntung dari padaku. Tapi kemudian aku berpikir. Temanku memang salah, tapi aku juga salah bukan? Membanding-bandingkan apa yang kita dapat dari orang tua, membanding-bandingkan apa yang orang tua berikan pada anak-anaknya. Aku melihat temanku itu anak mas dari orang tuanya, adikku adalah anak mas dari orang tuaku.

Adikku memang anak mas orang tuaku, tapi aku juga anak mas orang tuaku kok. Aku tak pernah sadar bahwa hidupku lebih enak dan lebih manja dari pada adikku. Argh kalau saja sejak lama ku menyadari hal ini, hidupku pasti sudah lama bahagia tanpa membanding-bandingkan apa yang orang tuaku berikan pada adikku.

Aku juga anak mas, tapi aku tak pernah menyadari itu. Mereka semua juga anak mas, tapi mereka tak pernah menyadari itu. Semua anak mas tak akan pernah menyadari bahwa mereka adalah anak mas.


4 Responses to "Dimanapun Pasti Ada Anak Mas, Tapi Mereka Tak Pernah Menyadari"

  1. bener banget mas. lebih banyak bersyukur aja. biar kita tau adilnya hidup

    BalasHapus
  2. Iyaaaa... dulu pernah jadi topik hangat waktu SD. Kalo ada temen yang ngga pernah belajar, tapi nilainya bagus terus berarti dia anak emas. Ih, padahal emang dia aslinya pinter hahaha salah deh semuanya.
    Jadi, semua orang pasti ada yang menganak-emaskan gitu kan?

    BalasHapus
  3. jajanan anak maaas! kangeeen...!

    iyaaa... kadang ngerasa kalau ortu pilih kasih, tapi sebenarnya enggak. guru selalu kasih nilai bagus ke salah satu anak, dia anak emas, padahal emg dia asli pinter :p Hihi ...
    kenapa dipilih kata 'emas' ya? kenapa gak anak berlian aja? (brilian)

    BalasHapus