Unforgettable Journey: Tour de Kawah Ijen

Air Terjun Blawan (Dekat Kawah Ijen)
Air Terjun Blawan (Dekat Kawah Ijen)
"Le, Ibu minggu depan mau ke Kawah Ijen sama teman-teman Ibu, reuni, mau lihat api biru disana. Kamu mau ikut le?" kata ibu sepulang dari acara kumpul bareng alumni Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Jember Angkatan 1983.

"Ikut!" kujawab dengan penuh semangat. Meskipun pernah sekali kesana, aku belum pernah menyaksikan api biru di Kawah Ijen yang katanya cuma ada 2 di bumi ini, satu lagi di Islandia. Apa lagi ada fasilitas penginapan gratis, siapa yang tidak tergiur?

Aku mengajak seorang spupuku yang masih duduk di kelas 1 SMP untuk bertualang bersama. Dia senang dan ingin sekali ikut tapi bertepatan dengan liburan di Kawah Ijen ini dia ada ujian kenaikan tingkat (sabuk) seni beladiri silat. Aku pun mengajak partner travelingku +Anggar Nur Herman Syah yang kebetulan pulang kampung.

Rencananya adalah aku berangkat dari rumah mengendarai sepeda motor bareng Angga, sedangkan ayah dan ibu berangkat dengan menumpang mobil salah satu teman ibu. Karena masih belum pasti penginapan mana yang akan ditempati, kami menentukan paltuding Kawah Ijen sebagai meeting point. Aku dititipin sekotak nasi, ayam, sosis, sebotol saus, sebotol air mineral, dan sebotol air ION (meskipun mirip, yang jelas bukan merk Ponari Sweat) sebagai bekal ayah dan ibu.

Ditengah perjalanan aku mendapat sms dari adikku, +Aqidatur Riska Puspitasari, "Mas telpon aku". Waktu ku telpon ternyata dia bersama temannya, dan pembimbing Kerja Prakteknya di BATAN sedang menuju Kawah Ijen juga. Adikku, Onya (teman adikku), dan Pak Sony memang sedang ada acara di Jember sejak Sabtu, 29 Maret 2014, sedang kunjungan kerja di salah satu sawah BATAN hasil kerja sama dengan Dinas Pertanian. Kami pun janjian bertemu di paltuding Kawah Ijen juga.

Sampai paltuding Kawah Ijen, ternyata sinyal handphone menghilang entah kemana. Aku dan Angga kebingungan mencari sinyal untuk mengubungi Ibu dan adikku. Kami pun berinisiatif turun lagi mencari sinyal, tapi karena bensin kami yang sudah menipis, kami memutuskan untuk jalan kaki saja. Sambil menyusuri aspal kami terus memperhatikan handphone kami. Tak terasa kami sampai di air terjun belerang di dekat paltuding Kawah Ijen. Disana sinyal kembali utuh, aku langsung menelpon adikku.

Aku pun menunggu disana, tak berusaha naik lagi karena mobil yang ditumpangi adikku masih muat 2 orang lagi. Jadi aku dan Angga bisa numpang. Kemudian aku telpon ibu, ternyata beliau menginap di penginapan Blawan. Sambil menunggu aku mendengarkan seorang pengunjung bertanya kepada penjaga parkiran di sekitar air terjun itu jarak dari air terjun itu ke partuding berapa kilo, katanya sih kurang lebih 4KM. Aku pun tersedak air liur sendiri, masa sih aku tadi jalan 4KM!?

Didalam mobil aku menatap tajam jalan yang kami lalui. Ternyata memang jauh, tapi kalau dibilang 4KM ya tidak mungkin lah, pasti kurang dari itu. Sampai paltuding Pak Sony mengajak untuk makan siang terlebih dahulu, aku memilih untuk memakan bekal bawaan ibu. Sekalian mengurangi beban yang kami bawa. Di tempat aku dan Angga makan, ada sekumpulan keluarga yang berisi ibu-ibu tertawa nyinyir melihat kami, karena kami ke gunung membawa bekal seperti itu. Kami tak malu, karena memang karena kami lapar dan ini adalah salah satu penghematan, saat bertraveling ria kami berprinsip "Tak usah malu-malu, toh hari ini saja kita bertemu, esok tak akan bertemu lagi".

Kawah Ijen
Kawah Ijen
Dari Kiri: Pak Sony, Onya, Adikku, Aku, Angga
Pendakian dimulai pukul 14.00 dan sampai diatas kawah pukul 15.15. Selama perjalanan naik, aku takjub dengan semangat dan kekuatan Pak Sony. Umur beliau yang tak lagi muda, tapi semangat dan kekuatannya sungguh luar biasa. Aku sendiri sempat ngos-ngosan, tapi melihat semangat beliau, aku jadi malu sendiri dan ikut bersemangat juga.

Setelah puas berfoto dan menikmati keindahan kabut disana (saat itu kabut sedang menyelimuti sebagian kawah dan sekitarnya), Pukul 16.30 kami mulai menuruni gunung dan sampai paltuding lagi sekitar pukul 17.30. Dan menyepakati akan bertemu ayah dan ibuku di penginapan. Ternyata rombongan ayah dan ibu tidak jadi menginap di penginapan Blawan karena disana sedang penuh dan berpindah menuju penginapan di daerah Kalisat Jampit.

Pendakian Kawah Ijen Malam Hari
Ternyata disana ibu sedang tidak enak badan kareng kecapaian setelah mengikuti beberapa acara yang diadakan oleh para peserta reuni. Beliau tidak jadi ikut naik gunung malam hari, cuma ayah yang masih ngotot ikut meskipun sudah ku peringatkan medannya seperti apa dan kekuatan ayah seperti apa. Pendakian malam hari dijadwalkan pukul 1 pagi.

Api Biru Kawah Ijen Dari Kejauhan
Api Biru Kawah Ijen Dari Kejauhan
Meskipun dijadwalkan pukul 1 pagi dan persiapan dimulai sejak pukul 12 malam di penginapan, kami mulai mendaki sejak pukul 2 pagi dan ini merupakan kali ke-2 aku dan Angga mendaki untuk hari itu. Karena jarak dari penginapan ke paltuding memakan waktu 30 menit lebih. Diluar dugaanku ternyata para bapak dan ibu keluarga alumni SMEA Jember lulusan 1986 ini ternyata kuat juga. Terbukti 90 menit mereka berhasil sampai di atas dan menikmati api biru yang terkenal itu. Melihat banyak pengunjung yang menuruni lereng menuju mendekati kawah, aku dan Angga tertarik untuk ikut turun juga. Tapi melihat jam sudah pukul 4 sudah terlalu terlambat untuk kami turun, lagi pula masing-masing dari kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga peserta reuni. Sehingga cuma bisa mengambil foto dari kejauhan saja.

PTPN XII Pabrik Kopi Kebun Blawan
PTPN XII Pabrik Kopi Kebun Blawan
Kami diatas mengobrol dan bercanda bersama sambil menunggu matahari terbit. Setelah matahari terbit kami menuruni gunung bersama. Ditengah perjalanan menuruni gunung, aku mendengar seorang ibu peserta reuni nyletuk bercanda "Ah susah-susah naik gunung cuma liat api yang seperti kompor gas? Tau gitu mending liat kompor gas tengah malam saja". Kontan peserta lain tertawa bersama.

Air Terjun ke-2 di Blawan
Tujuan selanjutnya adalah berendam air panas di Blawan. Tapi aku dan Angga lebih tertarik dengan air terjun dan goa kapur disana. Kami ingin sekali ikut berendam sebenarnya, tapi apa daya kami tidak membawa baju atau celana ganti. Kesempatan itu kami gunakan untuk mengeksplore daerah Blawan. Disana terdapat 2 air terjun dan 1 goa mini. Air terjun pertama yang kami kunjungi sangat deras, sehingga terdapat pagar penghalang agar pengunjung tidak terlalu mendekat. Sedangkan air terjun kedua cukup kecil tapi susah untuk digapai. Itupun Angga menemukannya secara tidak sengaja saat mendatangi goa kapur. Aku tak berani ikut melihat ke goa kapur karena sudah terlalu capek dan letaknya harus menuruni tangga yang sedikit menakutkan bagiku.

Goa Kapur Blawan (Bekas Tempat Pertapaan)
Meskipun sangat kelelahan, mendaki Ijen 2x dalam sehari, pada liburan ini aku sangat puas. Sungguh pengalaman yang tak akan terlupa. Berkenalan dengan bapak dan ibu yang baik dan memiliki tenaga serta semangat yang luar biasa. Rasa capek yang pasti akan terus teringat sampai nanti, dan yang pasti tidak boleh dilupakan adalah betapa indahnya Kawah Ijen namun kurang menarik saat sun set atau pun sun rise. Unforgettable Journey: Tour de Kawah Ijen, akhirnya hampir semua tempat wisata di sekitar Kawah Ijen jalur Bondowoso sudah kami kunjungi, tinggal 2 spot lagi dan kami juga penasaran ada spot wisata apa di jalur Banyuwangi? Dan semoga menjadi pengalaman yang tak terlupakan juga bagi para peserta reuni SMEA Jember lulusan tahun 1986.

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Unforgettable Journey Momtraveler’s Tale



8 Responses to "Unforgettable Journey: Tour de Kawah Ijen"

  1. Aduuuh, saingan nambah whahahaha... mantap nih ke Ijen asal nggak ijen-ijen... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saingan buat apa Mbak? Saingan GAnya ta? hahahaha

      Hapus
  2. hiks ...aku pengen banget ke Ijen belum kesampean juga :(
    makasih ya, sudah terdaftar sebagai peserta :)

    BalasHapus
  3. this is one of Indonesia's paradise. so awesome moment

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes (ngomong apa saya nggak ngerti hahaha)

      Hapus
  4. ahahaha...liat api kompor gas aja jauh2, iiih jadi gemes ama ibu yg itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan emang mirip to Mbak Uniek :D

      Hapus