Jangan Lagi Ada Kata Sehari Tanpa Internet Hidupku Hampa


Sehari tanpa internet aku akan... Tetiba teringat diriku sekitar 4 atau 5 tahun lalu. Ketika itu aku masih berpikiran sederhana, "Sehari tanpa pacar aku biasa, sehari tanpa uang aku pun sudah terbiasa, tapi sehari tanpa internet hidupku hampa". Dan pemikiranku untuk internet saat itu masih sempit, masih tentang game online. Memiliki pemikiran seperti itu bukan berarti aku tak memiliki pacar meskipun memang jarang sekali punya uang banyak. Saat itu pacarku berada di Bogor dan aku sendiri berada di Jember, kontan internet sangat penting bagiku sebagai penunjang komunikasi, selain digunakan untuk game online tentunya.

Lamunanku seketika buyar ketika aku mengetik kata pacar pada kalimat terakhir. Ah ya aku dan dia sudah tak lagi menyandag status 'in relationship' sejak lama, dua atau tiga tahun lalu. Meski begitu kami masih tetap berhubungan baik layaknya teman biasa. Saat masih berhubungan dulu, bahkan jauh hari sebelum kami berpisah, aku diajarkan olehnya sebuah prinsip, "Jika sebuah hubungan dimulai dengan pertemanan, dimulai dengan baik-baik, dan berakhir dengan baik-baik, kenapa kita tak bisa kembali menjadi teman yang baik-baik pula?". Ah sudahlah sudahi saja membahas tentang sang mantan ini. Bisa-bisa posting ini malah mendapat label galau versi gagal move on.

Bisa dikatakan bahwa dulu aku adalah pecandu internet akut. Candu ini dimulai sejak aku mengenal mIRC dan friendster saat masih SMA dulu. Kemudian mengenal game online, Ragnarok, candu itu menggerogotiku semakin dalam.

Game online memang candu yang nikmat. Salah satu bentuk candu internet. Candu yang trennya terus berkembang, selalu ada sesuatu yang baru, level maksimal, monster, peta, senjata, aksesoris, dan lain-lain. Belum lagi game-game baru yang terus bermunculan bak memanjakan para pecandu game yang terus haus akan sesuatu hal yang baru.

Meskipun RMT, Real Money Trading, sangat dilarang oleh setiap developer game, tapi nyatanya pengawasannya sangat minim. Sehingga tidak sedikit pemain game online yang menjual atau membeli barang game dengan mata uang asli. Dalam game memang sudah disediakan mata uang yang digunakan untuk bertransaksi. Beberapa orang menginginkan cara instan sehingga memilih membeli mata uang tersebut dengan uang asli (rupiah). Bagi pemain game yang jago, ini merupakan kesempatan mendapatkan uang yang baik.

Aku sendiri pernah melakukan RMT, baik sebagai penjual maupun pembeli. Hal inilah yang membuatku semakin menjadi kecanduan. Dengan game online aku memang mendapatkan sedikit pengasilan, tapi penghasilan itu hanya cukup digunakan untukku bermain game online lagi dan mencari sedikit penghasilan lagi. Atau bisa digambarkan bahwa penghasilanku sama dengan pengeluaranku saat itu. Dalam sistem ekonomi bisa dikatakan aku merugi karena tak mendapatkan untung apa-apa. Tapi dalam benakku aku tak merasa rugi sama sekali. Karena meskipun aku tak mendapatkan sisa penghasilan, tapi setidaknya aku bisa bermain game online secara gratis dan menambah banyak teman.

Tin Can Antena | dokumen pribadi
Berinternet ria, atau online saat itu merupakan hal wajib bagiku, entah itu sekedar main game atau mencari informasi-informasi lain meskipun sebenarnya aku tak memiliki koneksi internet murah dirumahku sendiri. Lama-lama aku mulai jengah dengan keadaan seperti itu. Aku pun berpikir bahwa aku harus memiliki internet murah. Saat itu pilihanku hanya satu, telkomsel flash. Namun sayang sekali, rumahku dikota kecil ini diapit oleh rumah-rumah bertingkat di bagian timur, barat, selatan, dan utara. Satu-satunya cara adalah membuat antena tambahan, dan ku pilih tin can antena karena mudah dan murah.

Setelah internet lancar, hari demi hari aku berkutat dengan game online dirumah sendiri. Bak raja dirumah sendiri aku lupa waktu. Pagi, siang, malam ku habiskan waktu hanya didepan komputer. Keluar rumah hanya saat kuliah, dan itupun kalau ingat ada jadwal kuliah. Bahkan saat jaringan internet terganggu, aku merasa hidupku tak berwarna, tak bergairah, hidupku hampa. Aku pun jarang berinteraksi dengan keluargaku.

Internet memang bagai pisau bermata dua. Jika digunakan dengan benar bisa menjadi senjata yang ampuh, tapi jika salah maka akan melukai tangan kita sendiri. Secara teori, saat itu internet memang menjalankan fungsi sosialnya untukku. Mengenalkanku pada teman-teman baru dari berbagai penjuru Indonesia, tapi tanpa kusadari internet telah menjauhkanku dari keluarga, saudara, dan teman-teman lamaku. Dengan kata lain internet telah mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat.

Aku merasa sudah melupakan salah satu fungsi kemanusiaanku. Menurut Elly M. Setiadi dkk. (2008:48), "Manusia dalam kehidupannya memiliki tiga fungsi, sebagai makhluk Tuhan, individu, dan sosial-budaya yang saling berkaitan. Di mana kepada Tuhan memiliki kewajiban untuk mengabdi pada Tuhan, sebagai individu harus memenuhi segala kebutuhan pribadinya, dan sebagai makhluk sosial-budaya harus hidup berdampingan dengan orang lain dalam kehidupan yang selaras dan saling membantu.".

Seperti yang ku ungkapkan diatas, secara teori memang internet telah menjalankan fungsinya sebagai perangkat sebuah proses sosial dengan baik. Secara teori bentuk umum dari sebuah proses sosial adalah adanya interaksi sosial. H. Booner (dalam Setiadi, dkk., 2008:90) memberikan rumusan interaksi sosial bahwa interaksi sosial adalah hubungan antara dua individu atau lebih dimana kelakuan yang satu memengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya. Apakah interaksi di dunia maya saja cukup?

Aku memang melakukan fungsiku sebagai makhluk individu dengan baik, tapi ku rasa aku tak melakukan fungsiku sebagai makhluk sosial dengan baik. Aku terkurung dalam dunia maya. Meskipun kenalan dan temanku semakin banyak, tapi aku seperti tak mengenal lagi keluarga dan temanku yang lain, begitupun sebaliknya, mereka tak lagi mengerti aku.

Kelakuanku berubah total, emosiku labil tak terkendali, aku jadi seorang yang jauh lebih pendiam dari sebelumnya. Didunia nyata bisa dikatakan bahwa aku adalah manusia pasif, tapi didunia maya, terutama dalam dunia game online, aku menampilkan aku yang berbeda. Aku menjadi sosok pribadi yang aktif dalam karakter yang ku mainkan dalam game online. Aku yang pemalu bisa lebih sering mengungkapkan unek-unekku di dunia maya. Aku menjadi seseorang yang hebat dan kuat. Tapi, seperti yang sudah ku ungkapkan diatas, lama-kelamaan aku merasa ada yang salah dengan diriku. Aku semakin menjauh dengan keluargaku. Aku semakin menjadi seorang introvert.

Seperti kata Drs. Djoko Widagdho, dkk (2001:170), yang mengaktakan "Ada 2 penyebab keterasingan, pertama karena sifat-sifat atau sikap yang tidak dapat diterima oleh masyarakat dan kedua karena perbuatannya sendiri". Aku merasa terasing dirumahku sendiri, di daerahku sendiri, di kotaku sendiri. Terasing dari keluarga, saudara, teman, dan sahabat dekatku. Aku terasing akibat perbuatanku sendiri dengan lebih memilih dunia maya.

Pengendali Arah Horisontal Wajan Bolik
untuk Mendapatkan Sinyal Wi-Fi yang Optimal | dokumen pribadi
Aku sadar bahwa ini salah, aku harus keluar dari keterasingan ini. Perlahan aku mencoba mendobrak dunia candu ini. Tapi ternyata aku sudah terjun terlalu dalam. Agaknya susah untukku keluar dari dunia candu ini. Aku malah mengerjakan skripsi tentang internet, Perancangan Pengendali Arah Horisontal Wajan Bolik Menggunakan Algoritma Genetika untuk Mendapatkan Sinyal Wi-Fi yang Optimal. Sebagai gerbang untuk menggunakan internet murah bahkan gratis.

Kini aku tak ingin menjadi pengguna internet yang konsumtif. Aku ingin menjadi pengguna yang produktif. Berpegang pada kata-kata dari Pramoedya Ananta Toer, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.", dan sebuah Hadis Riwayat Muslim yang mengatakan, "Jika manusia meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga hal; Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya". Aku ingin berbagi ilmu dan pengalaman hidup dalam blog ini.

Aku tak peduli meskipun aku membagikan pengalaman pahit seperti pengalaman kecanduan game online ini. Aku tak ingin ada orang lain memiliki pengalaman pahit sepertiku apa lagi mereka adalah orang-orang terdekatku. Aku tak ingin mereka kehilangan gairah hidup saat tak ada internet sehari saja. Menurut psizkologizone.com kecanduan game online atau kecanduan internet memiliki gejala yang sama dengan kecanduan narkoba atau alkohol.

Seperti yang dikutip oleh psikologizone.com dari seorang dokter kepala bagian psikiatri, psikosomatis dan psikoterapi di rumah sakit Rhein-Jura, Michael Bender, "Abad ke 21, baik di bidang kerja maupun secara pribadi, orang tidak bisa lepas dari internet". Kemudian ia melanjutkan, "Penderitanya menunjukkan gejala yang sama seperti pecandu minuman keras atau narkoba. Banyak yang menyadari, mereka mengabaikan aktifitas sosial dan kegiatan waktu luangnya. Tapi tidak mampu keluar dari jeratan dunia virtual. Mereka tidak bisa lagi mengendalikan konsumsinya akan internet". Jika gejala dan dampaknya sama, ini merupakan hal yang sangat mengerikan dan tak bisa didiamkan begitu saja.


Memang tak bisa dipungkiri bahwa internet bisa memudahkan kehidupan sehari-hari seperti mempercepat komunikasi dan informasi karena internet dapat menyatukan fungsi dari semua alat telekomunikasi konvensional seperti surat, telefon, televisi, radio, koran, majalah, serta media komunikasi dan informasi lainnya. Namun apa jadinya jika ternyata internet memiliki dampak negatif seperti berikut ini.
  1. Bisa menyebabkan kecanduan
    Dengan kecanduan internet dampak yang paling parah adalah menjauhnya dari dunia sosial sesungguhnya. Kecanduan internet sebenarnya bisa menjadi dampak positif jika digunakan secara positif juga dengan tetap bersosialisasi dan berkomunikasi dengan masyarakat sekitar.

  2. Konten internet yang luas dan bebas
    Konten internet yang banyak terkadang memuat konten negatif seperti pornografi, perjudian, tindak kekerasan, penipuan, bahkan sampai konten yang berisikan pencucian otak pun ada.

  3. Membuat introvert semakin pendiam dan tertutup
    Para individu yang terbiasa dengan kehidupan yang tertutup akan semakin tertutup dengan kesehariannya di internet, meskipun tak jarang pula mereka akan terlihat lebih aktif di dunia internet. Kadang saat berkumpul dengan teman-teman yang lain, malah terlalu asyik dengan gadgetnya yang terhubung dengan internet.

  4. Mengganggu kesehatan
    Perilaku apapun yang berlebihan tentu akan mengganggu kesehatan, tak terkecuali internet. Dengan terlalu lama berada didepan komputer akan membuat badan jarang bergerak atau berolah raga. Kadang pecandu tingkat akut bisa lupa makan dan tidur.

  5. Bercampur baurnya budaya dunia
    Jika pandang sebelah mata bercampur-baurnya budaya akan terlihat bagus. Tapi sebenarnya, dengan masuknya suatu budaya dan berkembang, mau tidak mau budaya yang sudah berakar pada daerah tersebut akan menghilang. Yang tentu saja sebuah budaya tertentu tidak akan cocok dengan kultur daerah tertentu. Misalnya saja budaya barat tak akan cocok dengan budaya Indonesia.
Tentu kita tidak menginginkan anak atau keluarga kita mendapatkan dampak buruk dari internet bukan? Untuk itu orang tua di abad 21 ini harus mengerti tentang internet. Tidak hanya kegunaan-kegunaan internet saja. Karena semua kegunaan internet bisa berbalik menjadi kemudaratan jika tidak digunakan dengan benar dan tanpa pengetahuan yang baik. Orang tua harus mewaspadai dampak negatif dari internet, bukan berarti internet itu berbahaya, tapi jika tidak dalam pengawasan orang tua, bukannya menjadi salah satu referensi pendidikan, tapi internet malah merusak pikiran anak.

Yang paling penting adalah orang tua selalu membangun komunikasi dengan anak, sehingga anak bisa selalu terbuka dengan orang tua. Dengan begitu orang tua bisa lebih mudah mengawasi anak-anaknya. Sebagai salah satu contoh yang bisa ditiru aku ambilkan sebuah cerita dari serial komedi Amerika, Trophy Wife. Diane Buckley seorang wanita karir yang sibuk, dia selalu menyempatkan untuk mengawasi anak-anaknya dalam pergaulan dan pendidikan. Meskipun sudah berpisah rumah dengan anak dan suaminya (karena sudah bercerai), Diane mencoba mengawasi pendidikan anak-anaknya melalu skype, dan dia membuat akun facebook dengan nama samaran yang digunakan untuk mengawasi pergaulan anak-anaknya diinternet. Cukup cerdas wanita yang satu ini.

Jadi orang tua di abad 21 diharapkan sudah tidak lagi buta internet dan lebih mengerti tentang internet agar tidak ada lagi anak kita di masa sekarang yang mengatakan "Sehari tanpa internet hidupku hampa". Ayo bersama Telkomsel berantas buta internet untuk Indonesia genggam internet.

Sehari tanpa internet? Aku akan berinteraksi dengan keluarga dan teman-teman disekitarku.


Referensi:
  1. Setiadi, Elly M., Dra. M. Si. dkk., 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana.
  2. Widagdho, Djoko, Drs. dkk, 2001. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
  3. Psikologi Zone - Kasus Kecanduan Internet Meningkat di Jerman (diakses pada 17 April 2014).

Artikel terkait:
  1. Kehidupan Sosial Pecandu Game Online
  2. Berbagi Sedikit Tentang Skripsiku - Pengendali Arah Horizontal Wajan Bolik Untuk Mendapatkan Sinyal Wi-Fi yang Optimal



18 Responses to "Jangan Lagi Ada Kata Sehari Tanpa Internet Hidupku Hampa"

  1. sehari tanpa internet? hmm.. syusyah >.< emng sih kdg libur gak pegang laptop sehari-2 hari tp ya sama aja tetep pegang HP mulu, padahal yg dibuka ya socmed lagi socmed lagi errrr,,, wajan boliknya boleh pinjem nggak tuh hehe :p sukses ngontesnya mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya memang susah Mbak Wulan, gpp sih sering ngesocmed, tapi diimbangi sama sosial di sekitar selain socmed ya :)

      Hapus
  2. Semenit tanpa internet aja susah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wogh bro, lebih parah dari candu yang pernah saya alami ini mah @_@

      Hapus
  3. Wah.. Sudah ikutan lomba ini ya..
    Saya baru aja mau nulis.
    Eh, btw.. Goog luck ya, untuk lombanya.

    Salam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas soalnya memang temanya menarik, Sehari tanpa internet. Kebetulan aja ada pengalaman.

      Hapus
  4. Gue juga nggak tau gimana rasanya sehari tanpa internet. Orang inbox hape gue aja isinya juga cuman sms dari operator -___-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya main-main aja sama temen-temen sekitar, tapi kebanyakan teman-teman saya sih waktu ngumpul pada asik sama gadgetnya masih-masing termasuk saya hahaha...

      Hapus
  5. Wah gue beberapa menit aja udah mati gaya :(

    BalasHapus
  6. wih keren artikelnya mas... follback ya mas

    BalasHapus
  7. untungnya saya cuman sebulan kena candu maen game online. Sekarang mah, seminggu gak ada internet juga biasa aja asal hape tetep bisa nerima sms jarkoman kuliah :3hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha saya bertahun-tahun terjebak dunia game online :D

      Hapus
  8. Hhahaha...bener nih, gue juga termasuk orang yang gak bisa jauh dari yang namanya internet, apalagi kerjaan juga menggunakan internet :D
    Intinya internet itu baik kalo gak disalahgunakan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyak benar sekali kalau disalah gunakan malah jadi pisau bermata dua :)

      Hapus
  9. sehari tanpa internet bagi gue, kayak jalan di tempat yang gelap gulita. bukan semata-mata sekedar mau browsing atau sosial media-an, tapi lebih ke arah pekerjaan.. semua kerjaan bisa terlantarkan.

    kalau udah pakai intenet, pakai yang bijak, diajarkan ke adik2 supaya ngga cuma tau main game online aja.. :D

    semoga menang ya,,, amiiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Susah sih mas kalau kerjanya full pakai internet ya... sebenernya yang bikin gelap gulita bukan nggak ada internet mas :) Tapi nggak ada listrik. Percuma dong ada internet tapi nggak ada listrik hahahaha...

      Hapus