Membanggakan Anak Secara Berlebihan, Jumawa Terselubung

Sebuah Pantai di Bali
Sebenarnya tulisan ini bisa dibilang repost bisa dibilang juga tidak. Karena memang aku pernah mengungkit-ungkit masalah satu ini pada sebuah post berjudul Kebanggaan Semu, tapi post tersebut tidak membahas tentang permasalahan ini secara khusus.

Dari kecil hidupku memang tak mudah, Tapi tak bisa dikatakan sulit juga. Hanya seorang anak manusia yang sedikit suka foya-foya sebenarnya. Aku mengatakan tidak mudah karena sejak kecil aku sudah terbiasa dengan pembandingan-pembandingan dari orang tuaku atas diriku dengan anak orang lain. Entah itu kebaikannya atau keburukannya. Anak tetangga yang begini lah anak tetangga yang begitu lah, anak tetangga yang berprestasi lah, anak tetangga yang berkelakuan tidak baik lah, dan lain sebagainya. Dan dari kecil aku selalu membenci hal itu.

Seperti yang pernah aku ungkapkan pada post Kebanggaan Semu orang tuaku adalah tipe orang yang terlalu berlebihan membanggakan anak-anaknya. Membanggakan prestasi anak-anaknya disekolah sejak dari SD, SMP, SMA, sampai kuliah. Mereka tak pernah bosan menceritakannya pada orang lain. Aku sangat tidak suka perlakuan seperti itu. Karena menurut pengalamanku sejak kecil yang terlalu banyak mendengar perbandingan anak orang dengan diriku. Terkadang aku sebal ketika orang tuaku baru pulang dari suatu tempat dan baru mendapat cerita tentang betapa berprestasinya anak teman mereka itu. Kembali dibanding-bandingkan, kembali diminta untuk berprestasi seperti orang lain.

Aku tidak suka orang tuaku terlalu membangga-banggakan anak-anaknya secara berlebihan didepan banyak orang seperti ini. Karena bukan tidak mungkin akan muncul anak-anak yang bernasip sama sepertiku masa kecil, setelah orang tuanya pulang mendengarkan cerita dari orang tuaku mereka mendikte anaknya agar berprestasi pula. Akan muncul anak-anak lain yang penuh dendam mencari prestasi, dan akan muncul anak-anak yang tidak menjadi apa yang mreka inginkan.

Bukannya aku tidak pernah membicarakan hal ini kepada orang tua lalu seenaknya share tulisan ini keblog ini. Atau kebanyakan orang bilang "Keluarga kok ngomongnya dibelakang, ungkapkan secara langsung lah". Aku pernah mengungkapkannya secara langsung, tapi lagi-lagi kata-kata mutiara yang mereka ucapkan, membuatku mati kutu tak berdaya hanya bisa membagikan pengalaman jelek ini.
"Kita ini orang miskin, nggak punya harta yang pantas dibanggakan, cuma punya anak-anak yang pintar dan calon sukses saja yang pantas dibanggakan."
Padahal dari sini kita bisa tarik kesimpulan bahwa ada kecenderungan, atau bakat untuk orang tuaku menjadi orang-orang yang sombong dan tinggi hati. Aku memang belum pernah menjadi orang tua, tapi sampai kapan pun aku adalah seorang anak. Selagi statusku masih belum merangkap-rangkap (jadi anak ditambah lagi jadi orang tua atau mungkin nanti sampai jadi kakek dan seterusnya), aku punya logika yang sedikit mbulet.
  1. Kita tidak boleh membanggakan diri kita sendiri, membanggakan harta yang kita punya, berbuat sombong atas harta yang kita punya.
  2. Anak dititipkan kepada orang tua sebagai harta yang harus dijaga.
  3. Jika anak adalah harta bagi orang tua, pantaskah meraka membanggakan hartanya? Pantaskah mereka menyombongkan harta mereka?
  4. Kesombongan hanya merenggangkan tingkat sosial yang sebenarnya tidak pernah bertingkat (setara).
  5. Jadi anak itu apa? Harta yang perlu disombongkan kemana-mana? Diceritakan kemana-mana betapa hebatnya dia?
Dalam Al Qur'an surat Al Qashash ayat 83, "Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa". Dan dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda: "Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun hanya sebesar atom." Ada seorang laki-laki berkata: "Sesungguhnya seseorang itu suka memakai pakaian yang bagus dan sandal/sepatu yang bagus pula." Nabi Muhammad saw kembali bersabda: "Sesungguhnya Allah itu indah, suka pada keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesame manusia." (HR. Muslim).

Aku takut dengan membanggakan anak secara berlebihan akan menimbulkan kesombongan yang luar biasa, jumawa yang tida akhir, jumawa yang terselubung. Sedikit-sedikit bercerita tentang anaknya yang membanggakan pada orang lain, "Anakku itu... bla bla bla bla". Tak ada untungnya bukan? Yang lebih kutakutkan adalah jika apa yang diceritakan orang tuaku pada orang lain itu ditangkap dengan salah. Dan saat aku bertemu dengan orang yang mendapat cerita tersebut lalu beliau menilaiku dengan tinggi dan ternyata apa yang aku tunjukkan tidak sesuai dengan ekspektasinya yang sudah terlanjur tinggi itu, maka matilah aku.

Ada contoh lain yang ku ambil dari sebuah cerita iklan yang pernah tayang di pertelevisian Indonesia. Betapa bagusnya cerita dari iklan ini sehingga 2 produk membuat iklan dengan cerita yang sama tapi dengan bahasa yang berbeda. Iklan yang berbahasa Indonesia ini mungkin adalah plagiat atau bagaimana aku tak tau, karena memang hanya sempat tampil beberapa waktu saja (sebentar) lalu menghilang dari peredaran. Aku tak akan membahas iklan lain yang berbahasa asing, aku akan bercerita tentang iklan yang ber-Bahasa Indonesia saja. Dan ini bukan ajang promosi iklan, tapi memang ceritanya yang bagus.

Pesan yang ku dapat dari iklan ini sangat jelas. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Sesukses apapun kita, sebangga apapun orang tua kita akan penghasilan dan pekerjaan kita, tapi jika kita jarang sekali mengunjungi mereka maka kebanggaan itu hanya akan menjadi kebanggaan semu yang tak memiliki arti apa-apa. Kebanggaan orang tua kepada anaknya tidak diucapkan secara berlebihan, tapi secara langsung yang ditunjukkan oleh anaknya sendiri. Ini jauh lebih elegan ketimbang si orang tua harus menceritakan kesana-kemari tentang betapa bangganya dirinya pada anaknya dengan segudang prestasinya. Seperti apa iklannya? Coba lihat vidio dari Youtube berikut.


Ini semua pemikiranku saat statusku masih seorang anak, saat masih belum pernah merasakan jadi orang tua. Lalu apakah nanti saat aku menjadi orang tua pemikiranku akan berbeda? Aku tak tau, aku tak mau menebak apa isi masa depan. Kita lihat saja nanti.


5 Responses to "Membanggakan Anak Secara Berlebihan, Jumawa Terselubung"

  1. hihi sama mas aku jg tidak suka disombongkan, mmang karena nggak ada yg perlu disombongkan :D baru tau arti jumawa, biasanya denger aja tp nggak paham haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya walaupun ada yang perlu tapi aku tetep nggak suka disombongkan Mbak Wulan...

      Hapus
  2. trima kasih sdh diingatkan. baarakallahu lakum.

    BalasHapus
  3. saya pun paling tdk suka orang tua di depan saya membanggakan anaknya yg sukses lah apalah. itu smua hanya titipan.. jika aalloh mengambil semuanya maka dia tak bisaa berbuat apa2.

    BalasHapus