Basa-Basi yang Basi


Basa Basi yang Basi - Kata ibu berbasa-basi itu penting untuk mendapat banyak teman dan jaringan, penting karena bisa membuka sebuah pembicaraan. Tapi buatku basa itu adalah sesuatu yang berasa pahit seperti sabun dan basi itu adalah sebuah ungkapan untuk merepresentasikan makanan yang sudah lama dan berbau tidak sedap. Jadi menurutku basa-basi itu sabun yang berbau tidak sedap. Karena itu aku tak pernah pandai dalam berbasa-basi.

Seiring berjalannya waktu, aku pikir basa-basi itu memang terkadang penting. Yang aku tangkap dalam pikiranku, basa-basi adalah (1) kalimat prolog (pengantar) dalam sebuah percakapan sebelum kita mengutarakan percakapan utama, (2) percakapan yang diselpin saat terdapat momen canggung, (3) percakapan yang berisi sesuatu yang kurang penting, obrolan santai.

Berangkat dari pemikiran itu, aku ingin mempelajari basa-basi biar bisa jadi orang yang asik saat mengobrol. Tapi sebelumnya aku harus menghindari beberapa basa-basi yang basi, basa-basi yang sering kali membuat moodku untuk ngobrol jadi hilang, basa-basi yang membuatku berpikiran bahwa basa-basi itu tidak penting. Berikut adalah basa-basi yang basi.
  1. Eh sama siapa?
    Pertanyaan model seperti ini ujung-ujungnya yang dibahas adalah perihal pacar, kekasih, istri, atau pasangan hidup. Kalau pertanyaan 'pacar/istrinya mana' sih biasa, tapi kalau pertanyaan seperti ini, "Eh wisuda mana pasangannya? Kayak waktu sekolah aja ambil raport cuma ditemenin ortu", itu sih perlu dilempar pake podium tempat rektor pidato. Memangnya belum punya pasangan itu hina? Buatku sih lebih hina udah foto-foto wisuda sama seseorang, tapi tau-taunya putus. JLEB. Penting ya berbasa-basi seperti ini? BASI!

  2. Kapan lulus?
    Biasanya untuk memperhalus basa-basi seperti ini, "Udah lulus belum?". Basa-basi seperti ini paling dibenci oleh makhluk-makhluk yang menyebut dirinya mahasiswa tingkat (tiada) akhir. Hal ini pernah aku alami sendiri dan aku tuliskan pada tulisan yang berjudul Aku Juga Pengen Cepet Lulus pada blog ini. Pertanyaan yang menjustifikasi seperti ini seakan-akan yang diberi pertanyaan seperti itu tidak memiliki niatan untuk lulus. Semua mahasiswa juga pengen cepet lulus. Penting ya berbasa-basi seperti ini? BASI!

  3. Udah kerja?
    Biasanya diperhalus pake, "Kerja dimana sekarang?". Pengangguran itu memang sesuatu yang sangat hina. Tapi nggak usah lah ya diperjelas lagi. Stres nyari kerjaan nggak usah lah ditambahi dengan stres mendapat pertanyaan seperti itu dimana-mana. Penting ya berbasa-basi seperti ini? BASI!

  4. Kapan nikah?
    Secara teori nikah itu memang perkara gampang, asal ada lelaki dan perempuan yang akan menikah, wali/orang tua dari pihak perempuan, dan saksi, pernikahan sudah bisa dilakukan.Tapi konon katanya prakteknya sulit! Pra dan pasca nikah itu sulit. Bagi beberapa orang yang sudah mapan dan belum juga menikah, basa-basi seperti ini juga membuat beberapa orang keki dan malas berkomunikasi dengan orang lain. Penting ya berbasa-basi seperti ini? BASI!

  5. Kapan punya anak?
    Kenapa nggak sekalian tanya, "Kamu mandul ya? kok belum juga punya anak?" Penting ya berbasa-basi seperti ini? BASI!

  6. Eh sekarang gemukkan ya?
    Aku baru tau kalau basa-basi yang satu ini terasa basi setelah melihat tayangan The Coment edisi Extra Large Comunity - Big is Beautiful di salah satu televisi swasta. Katanya basa-basi seperti itu kurang sopan karena termasuk sedikit penghinaan. Penting ya berbasa-basi seperti ini? BASI!

  7. Mau minum apa?
    Akan terasa pas kalau basa-basi seperti ini digunakan saat memang dirumah ada banyak jenis minuman atau bar table sendiri. Tapi kalau cuma ada air putih doang, penting ya berbasa-basi seperti ini? BASI!

  8. Masih pacaran sama si 'Anu'?
    Basa-basi seperti ini biasanya dilontarkan oleh seseorang yang bertemu teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Yang membuat basi adalah ketika betanya seperti itu taunya dibelakang si korban sudah ada pacar yang lain dan belum sempat dikenalin karena keburu berbasa-basi. Penting ya berbasa-basi seperti ini? BASI!

  9. Sekolah dimana?
    Basa-basi seperti ini biasanya dilontarkan teman orang tua(ku) yang tidak pernah bertemu. Waktu dijawab 'udah kuliah' atau bahkan jawab 'udah lulus kuliah', basa-basi berikutnya yang dilontarkan adalah 'oh sudah TUA ya?' atau 'aku kira itu yang perempuan tadi mbaknya, nggak taunya malah adikknya'. Ayolah, secara fisik aku memang kecil, kurus, tapi apakah secara tampang tidak ada kedewasaan sama sekali terpancar diwajahku? Syukur sih, itu tandanya aku dikaruniai wajah yang imut. Tapi basa-basi seperti ini sangat tidak penting. Sepertinya orang-orang ini tidak pernah membaca sebuah kata-kata super, "Age is just number, Young is forever and Mature is character". Penting ya berbasa-basi seperti ini? BASI!
Itu adalah segelintir basa-basi yang basi dengan sudut pandang negatif. Sebenarnya jika bisa berpikiran positif basa-basi seperti ini bisa jadi tidak basi. Tapi seringkali berpikiran positif tak semudah memejamkan mata. Lalu bagaimana basa-basi yang sopan dan tidak basi? Setidaknya tidak nylekit? Tak tau lah, aku masih belum paham dengan basa-basi.

Sumber gambar: Nattasha Nauljam Fanpage


19 Responses to "Basa-Basi yang Basi"

  1. Wah artikelnya menarik. Kira-kira basa-basi ga ya? wkwkwkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Basa-basi juga mas, tapi basa-basi yang bagus :D

      Hapus
  2. young is forever and Mature is character. keren kak.

    BalasHapus
  3. Poin 6 emang sensitif banget dan cuma orang Indonesia yang masih menggunakannya plus punya teknik dalam penyampaiannya. Hahaha menurut gue yang paling basi emang poin nomor 7, yakni menanyakan "mau minum apa?" itu seperti basa-basi orang asing yang bilang "cuaca hari ini cerah yah". Tapi yang lain, menurut aku sih, bukan basa-basi hehehe emang kepo aja jadi straight to the point, cuma bahasanya dibikin alus XDD #Sotoy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kepo kan nggak beda jauh sama basa-basi :D
      Asal yang di kepoin nggak sakit hati sih oke.

      Hapus
  4. Menarik sekali tulisannya, Mas. Dalam banyak hal, saya setuju dengan apa yang sampean sampaikan. Oh ya, ada satu lagi kata basa-basi yang basi—setidaknya menurut yg berada di prantauan seperti saya—yaitu "kapan pulang?"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya tu paling nggak enak, padahal lagi nggak ada duit buat pulang, ada duitpun nggak ada hari libur.

      Hapus
  5. menarik nih topic yang di bahas kali ini:D kadang basa basi itu penting juga dan kadang nyebelin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak semuanya penting, nggak semuanya juga nggak penting.

      Hapus
  6. Ada yang ketinggalan kayaknya :
    "IPK semester ini berapa?"

    BASI!! POKOKNYA B.A.S.I
    *diucapkan sambil muncrat-muncrat*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya yang itu lupa nggak ditulis. SETUJU BASI BANGET!

      Hapus
  7. Poin ke 8 itu yang pernah jadi masalah buat saya mas.
    Pernah ditanyain teman lama yang waktu itu saya sudah ganti pacar.. Ngambek deh dianya..
    Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan serem juga ya mas kalo pacarnya ngambek :D

      Hapus
  8. basa-basi kadang perlu apalagi jika ketemu teman lama hehe "mencairkan suasana*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi... kalau terlalu lama basa-basinya malah jadi basi :D

      Hapus
  9. Saya seringkali menemukan point 1,6,8, mbak :). Tapi, memang kalau tanpa basa basi, bingung juga memulai pembicaraan.
    Salam hangat dari Surabaya, mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kok mbak sih... saya laki-laki :/
      Iya memang tanpa basa-basi susah memulai pembicaraan, tapi bagaimana ya basa-basi yang tidak 'nylekit'?

      Hapus
  10. Kadang yang basi itu enak selama tidak kadaluwarsa

    BalasHapus