Polemik Pertelevisian Tak Ubahnya Polemik Rokok

Nonton TV
Polemik Pertelevisian Indonesia - Foto diatas diambil dari salah satu situs berita, ANTARA News. Pada situs tersebut sedang dipampang sebuah tulisan berjudul, Suka nonton TV (bukan) pertanda bodoh. Menarik sekali bahasan yang diangkat dalam situs yang satu ini. Diakhir artikel dituliskan bahwa "Hubungan TV dan kebodohan penaka hubungan langit dan bumi. Jauh sekali keterkaitannya". Banyak sekali argumen yang ditulis dalam artikel itu. Salah satu yang ku suka adalah, "Aku tak suka nonton TV tapi suka melototi adiknya, monitor," ucap yang lain. Maksudnya, monitor komputer, yang tentu saja bisa dipakai menghadirkan acara TV lewat saluran bermoda audio visual streaming. Kemudian akupun bertanya-tanya, apakah adiknya televisi ini (baca: monitor) lebih baik daripada kakaknya? Apakah si adik ini bisa menjamin moral suatu bangsa? Kemudian argumen lainnya megatakan, "Suka menikmati si kakak bukannya bodoh tapi tak kritis memilih tema. Mereka belum melek media.". Bukankah si adik menyajikan tema yang lebih banyak bahkan tema yang merusak moral pun banyak?

Itu sih tergantung bagaimana si pengguna adik
Kenapa tidak kita balikkan, "Itu sih tergantung bagaimana si pengguna kakak"? Bukan bermaksud membolak-balikkan fakta. Tapi ini masalah membela yang satu dan melukai yang lain padahal esensi mereka sama saja. Sebenarnya perdebatan tentang pro dan kontra televisi itu sama saja dengan perdebatan tentang pro kontra rokok.
  1. Anti rokok bilang rokok tak ada gunanya, tak baik buat kesehatan. Yang suka merokok bilang, rokok bisa menghibur kami, dan rokok tak membuat kami sakit. Tak pernah ada sakit rokok, yang ada adalah sakit gula. Hampir mirip dengan itu, anti pertelevisian mengatakan bahwa banyak acara televisi yang tidak guna, banyak yang merusak moral. Pecinta televisi akan mengatakan bahwa televisi hiburan termurah kami, masalah moral dan akhlak itu urusan kami.
  2. Anti rokok bilang, tutup pabrik rokok. Yang suka rokok bilang, petani tembakau yang sebanyak itu mau dikasih makan apa? Lagipula negara ini bisa bangkrut tanpa rokok, sebaian besar subsisi berasal dari cukai rokok. Mirip-mirip sedikit lah, ya meskipun beda nasip artis dan petani bagaikan langit dan bumi.
Tak akan pernah selesai perdebatan yang seperti itu. Karena tak ada garis batas yang tegas. Banyak sekali yang menuliskan tentang pertelevisian ini dan itu, tapi aku suka beberapa kesimpulan yang dituliskan oleh teman-teman. Contohnya,
  1. Mbak Efi Fitriyyah dalam blognya, catatan-efi.blogspot.com, "Kondisi masyarakat sekarang ini akan terlampiaskan dengan lelucon yang sebenarnya sudah ga lucu sama sekali".
  2. Menurut Om NH18, dalam blognya theordinarytrainer.blogdetik.com, "Concern utama ada di... HOST!!!".
  3. Menurut Bu Ety Abdoel dalam komentar pada post Polemik Bullying Goyang Cesar Yuk Keep Smile di blog ini, "Selera penonton kita tuh disetir sama tv, harus ada aksi untuk memberi tahu bahwa acara pertelevisian harus dikoreksi. Mengenai memutus rejeki orang kan itu bisa dikompromikan, hentikan dulu, boleh tayang lagi dengan syarat"
  4. Menurut Isnuansa dalam komentar pada post Polemik Bullying Goyang Cesar Yuk Keep Smile di blog ini,"Harus ada awal untuk membuat KPI ini menunjukkan taringnya".
  5. Dan favoritku adalah kata-kata Mbak Myra Anastasia, dalam blognya www.kekenaima.com, hiburan murah tak semestinya murahan. Dan terahir beliau menambahkan, "Gak perlu saling nyinyir, tujuan kita kan sama sebetulnya. Sama-sama merasa tayangan tersebut gak layak dan meresahkan. Saling nyinyir malah (mungkin) akan membuat kita ditertawakan oleh pihak lain yang bertentangan tujuannya." (sedangkan tulisanku sendiri bisa dibilang nyinyir).
Terlalu besar bahasan Polemik Pertelevisian Indonesia.



2 Responses to "Polemik Pertelevisian Tak Ubahnya Polemik Rokok"

  1. Pertamax sudah saya amankan mas :)
    Menurut saya sekarang kita harus pintar-pintar memilih acara TV yang lebih bermanfaat untuk diri kita mas, karena saat ini tayangan TV banyak yang kurang bermanfaat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih kalau punya banyak pilihan, sayangnya sebanyak-banyaknya pilihan tapi esensinya tetep sama aja.

      Hapus