Diinfus Kali Ke-3 Seumur Hidup, Semoga Terakhir

Diinfus
Gak ada yang tau, karena memang aku sangat membatasi info ketika aku sedang kesusahan. Setelah berkhawatir-khawatir ria dengan "kualat" (baca cerita: Kualat Dengan Cerita ABG?) ternyata aku malah ngamar di Puskesmas, sebuah jarum infus menancap rapi di tangan kiriku.

Sesaat Sebelum Job Fair
Sebenarnya hari Senin, 25 November 2013 kemarin aku sudah mulai fit, mulai mampu duduk didepan komputer dan menulis diblog lagi. Sehingga merencanakan untuk mendatangi Job Fair di Gedung Soetardjo pada hari Selasa. 26 dan 27 November 2013 ada Job Fair di Gedung Soetardjo Universistas Jember. Dengan semgangat penuh (meski badan masih kurang fit) aku berniat mengunjungi Job Fair hari pertama saja. Setelah berdandan rapi, Selasa 26 November 2013 jam 8.00 aku berangkat untuk berkumpul dengan para Job Hunter yang lain. Ternyata untuk memasuki Job Fair, aku harus membayar tiket seharga Rp 20.000. Tapi aku tidak membawa uang waktu itu, cuma selembar Rp 2.000 itupun ku gunakan untuk membayar parkir. Aku putuskan untuk pulang dan beristirahat saja daripada kembali lagi, toh keadaan sangat ramai waktu itu.

Rabu, 27 November 2013 dengan baju yang sama aku berangkat menuju Job Fair jam 9.00. Ternyata Job Fair dengan tiket seharga Rp 20.000 itu ramai, tapi cuma 2 perusahaan yang membuatku tertarik, karena ada lowongan untuk engineer sepertiku. Sedangkan sisanya adalah perusahaan finance, bank, dan asuransi. Meskipun perusahaan-perusahaan itu memampang lowongan untuk semua jurusan, tapi idealismeku terlalu tinggi. Aku masih mencari pekerjaan yang cocok dengan latar belakang ilmuku. Asik mengobrol dengan teman-teman Job Hunter yang lain, aku baru pulang jam 14.00.

Sampai rumah nafsu makanku hilang entah kemana, dan karena kecapaian aku langsung tertidur. Dibangunkan oleh Adzan Magrib, kepalaku pusing sekali. Ku paksakan badanku untuk bangun dari tempat tidur dan makan malam sekaligus siang. Makanku gagal, aku hanya mengambil nasi setengah piring, itu pun harus ku bagi dengan kucing (a.k.a. gak habis). Setelah usaha makan yang gagal, karena kepalaku yang masih pusing, setelah sholat Magrib aku coba untuk tidur lagi. Apa daya pusing yang sangat mengganggu membuatku sulit tidur.

Adzan Subuh hari Kamis, 28 November 2013, menyadarkanku dari lamunan panjangku. Malam itu aku hampir tidak tidur. Jam 2 pagi, setelah usahaku memejamkan mata akhirnya berhasil, HPku berbunyi, telpon dari Paklikku yang menyuruhku untuk membangunkan Ibuku (HP Ibu saat itu mati). Ibu diminta untuk melihat Mbah Kung di rumah depan, karena keadaan Mbah Kung yang memburuk. Dengan badan lemas, aku ikut Ibu kerumah depan. Keadaan Mbah Kung memprihatinkan, nafasnya tersengal-sengal, beliau sesak nafas. Ibu mulai membisikkan dan menuntun Mbah Kung membaca tahlil, Lailahailallahu. Selang satu jam, keadaan mulai tenang. Nafas Mbah Kung mulai lancar kembali. Aku pulang dan melanjutkan kembali usaha tidurku, tapi sampai Adzan Subuh hanya lamunan yang menemaniku, bukan tidur. Aku coba untuk bangun tapi badan terasa lemas, baju basah karena keringat dingin. Setelah mengganti baju aku merebahkan badanku lagi. Tak ada yang spesial hari itu, badanku lemas, kurang nafsu makan, dan kepala serasa mau pecah karena pusing.

Jum'at, 29 November 2013, seperti malam sebelumnya, aku sulit tidur karena kepala ku seperti diikat dengan sepasang dumble 15 kilogram. Dalam pikiranku saat itu adalah "seharusnya sekarang aku sudah ada diatas Kereta Api Logawa menuju Jogja untuk mengikuti Kopdar Blogger Nusantara 2013". Ayah dan Ibu memutuskan untuk membawaku periksa di Puskesmas Kecamatan Sumbersari. Aku diminta untuk periksa darah di laboratorium terdekat dan itu wajib aku lakukan karena sakitku saudah lebih dari 1 minggu. Hasil tes darah tertulis bahwa Demam Berdarah negatip, dan Paratyphi A positip 1/20. Kata dokter saat itu, tipesnya rendah jadi cukup jaga pola makan dan minum obat teratur pasti sembuh. Tapi sepulang dari puskesmas, kesehatanku terus menurun. Nafsu makan terus menghilang dan meski sudah meminum parasetamol, tapi pusing dan demam  masih sering muncul.

Sampai akhirnya sabtu pagi, aku muntah-muntah hebat. Ayah menanyakan padaku, "Periksa ke dokter lagi ya le?". Aku cuma menganggu saja, dan Ayah bertanya lagi, "Dokter mana?". Aku hanya bisa menjawab "Mana aja yang penting gratis", karena waktu itu untuk duduk saja rasanya gak kuat pusing bukan main. Ayah kembali membawaku ke Puskesmas Sumbersari, dan disana aku diminta untuk rawat inap dan tangan kiriku diinfus. Ini merupakan kali ke-3 dalam hidupku aku diinfus dengan penyakit yang sama yaitu tipes. Pertama dulu waktu awal naik kelas 6 SD, kemudian awal naik kelas 3 SMA dan terakhir kemarin. Dokter menyimpulkan bahwa tipesku kembali naik, untuk memastikan harus periksa darah sebenarnya, tapi hari itu sabtu dan sudah menjelang malam, laboratorium yang buka hanya laboratorium mahal ditengah kota. Dokter memutuskan untuk menunda pemeriksaan darah sampai hari senin dengan catatan jika kesehatanku masih belum membaik.

Setelah diinfus kesehatanku mulai membaik tapi nafsu makan masih susah untuk muncul. Aku diwajibkan memakan bubur, sedangkan aku paling benci makan bubur. Perawat disana menyarankan aku untuk memaksakan makan, kalau tidak aku malah susah sembuh. Aku jadi teringat cara yang paling ampuh memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang pernah diajarkan guruku waktu SMA dulu, sebenarnya ini adalah cara memaksakan diri untuk sholat malam, tapi tak ada salahnya untuk dicoba bukan? Akhirnya do'a sebelum makan yang sedianya berbunyi "Allahumma baarik llanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar", aku rubah menjadi "Allahumma paksain!!". Ya itulah yang diajarkan oleh guruku sewaktu SMA, "Allahumma paksain!!". Dan berhasil, aku bisa makan meskipun cuma ½ piring saja.

Sore keesokan harinya, Minggu 1 Desember 2013, keluarga kami dirundung duka. Mbah Kung meninggal dunia. Aku pun ditinggal sendirian. Aku ingin ikut pulang, tapi tak mungkin karena badanku sendiri masih lemas. Aku hanya bisa ikut berdo'a dari puskesmas. Suasana saat itu sedikit horor, kamar yang seharusnya diisi 2 pasien hanya ada aku sendiri waktu itu. Yang aku takutkan bukan hantu atau jin dan lain-lain tapi manusia yang memiliki otak iblis dan hati binatang.

Sampai hari selasa aku diperbolehkan pulang oleh dokter karena dirasa kesehatanku sudah sangat baik. Dirumahpun aku hanya tidur dan makan, masih belum berani menghidupkan komputer dan berlama-lama duduk didepan komputer. Baru hari ini aku berani menghidupkan komputer dan berani duduk lama menceritakan pengalaman diinfusku yang ke-3 ini.

Infus Dilepas



6 Responses to "Diinfus Kali Ke-3 Seumur Hidup, Semoga Terakhir"

  1. Dengan begini, semoga akan menjadi pelajaran kepada kita semua bahwa mencegah memang legih baik dari pada mengobati.. :)

    Salam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih bingung cara mencegah tipes mas heheheh sementara kegiatan emang padat banget.

      Hapus
  2. Info aja, saya bisa loh nginfus, tapi belum nyoba ke orang beneran mah sih.
    Jangan lupa perbanyak minum juga. Syafakallah ya bang. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amppuunn jangan jadikan saya kelinci percobaan hehehehe..
      Iya ini juga lagi banyak-banyak minum kok...
      Syukran...

      Hapus
  3. sehat itu memang indah, pas sakit nggak enak. -_-
    salam kenal kak ;D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya gak ada sakit yang enak...
      Salam kenal juga :D

      Hapus