Trip Nestapa Menuju Jogja

BS. Melati - Trip Nestapa Menuju Jogja
Pesanan RUDYS Tailor Untuk BS. Melati
Sebenarnya kata ayah aku bisa dituntut jika berfoto dengan menggunakan Jas Almamater Pelatih BS. Melati seperti ini. Karena aku bukan pelatih, anggota saja bukan (meskipun baru dikukuhkan sebenarnya, tapi justru anggota yang sangat gak boleh memakainya). Tapi aku lupa kemarin waktu banyak tumpukkan gak aku foto, cuma pengen numpang narsis aja. Ya sudah dituntut ya dituntut deh, aku bingung mau pake ilustrasi foto yang mana lagi. Mungkin ayah cuma bercanda kan?

Masih ingat kan ceritaku Job Hunter: Tour de Jawa Timur (Lebay). Sepulang dari trip itu, Sabtu 28 September 2013, aku ditawari untuk ikut ke Jogja untuk membatu ayah mengangkut pesanan jahit untuk BS Melati. Langsung deh beli tiket kereta untuk ke Jogja 2 (tertanggal 5 Oktober 2013, KA. Logawa - berangkat jam 5.00 dari Jember) dan satu untuk ayah pulang (tertanggal 7 Oktober2013, KA. Logawa - berangkat jam 9.00 dari Jogja). Rencananya aku menetap disana beberapa hari. Yipi ka yeay! Izinku menetap adalah untuk mencari kerja disana. Sebenarnya aku bingung mau cari kemana. Pengnennya sih cari ke UGM atau coba ke perusahaan tempat sepupuku kerja. Tapi UGM adalah instansi resmi, atas alasan apa aku masuk kesana? Sementara perusahaan sepupuku bukan dalam bidang prinsip kependidikanku. Aku agak enggan karena bisa membahayakan jenjang karirku kedepan. (Meskipun aku sudah diberi wejangan oleh seseorang bahwa mencari kerja jangan terlalu idealis. Yang penting dibayar. Pokoknya mah maju tak gentar membela yang bayar saja.). Tapi seingatku, terakhir aku kejogja dulu aku liat di TV lokal ada banyak iklan lowongan pekerjaan untuk di Jogja. Ya sudahlah apa kata besok.

Trip Nestapa Menuju Jogja
Jumlah Barang Yang Akan Dibawa ke Jogja
Jum'at siang, 4 Oktober 2013, setelah packing semua seragam dan jas pesanan, ternyata jumlahnya ada 3 karung dan 1 kardus. Aku mulai bertanya apakah barang sebanyak ini gak ada biaya tambahan di kereta nanti? Ayahku pun memiliki pertanyaan yang sama, lalu malam harinya beliau ke stasiun untuk menanyakannya. Ternyata barang yang boleh dibawa oleh penumpang adalah tas dan lain-lain, kardus saja dibatasi sebesar kardus mie instan. Selebihnya harus melalu jalur ekspedisi atau kereta barang. Untuk ekspedisi kereta barang PT KAI menyediakan PT Herona untuk mengerjakannya. Tapi, itu tidak terdapat pada KA. Logawa, tapi untuk KA. Sri Tanjung (jam 9 dari Jember) ada. Tapi masalah baru muncul, PT Herona sudah tutup dan buka besok pagi jam 7.30 baru bisa mengurusi barang bawaan tersebut.

Ayahku langsung menukar tiket kereta menjadi tiket KA. Sri Tanjung. Prosedur penukaran tiket kereta cukup gampang kok, asal bawa fotokopi KTP dan biaya adsminitrasi sebesar 25% harga tiket semua beres teratasi. Meskipun kereta berangkat jam 9.00 tapi sejak jam 7.15 ayah sudah pergi ke stasiun untuk memastikan kesediaan PT Herona. Ternyata mereka tidak sanggup kalo dadakan seperti itu, setidaknya kemarin (Jum'at) baru bisa dilayani atau kalau mau ya Senin. Tapi ini barang penting yang akan dipakai hari Minggu, jadi keberangkatan menggunakan kereta dibatalkan. Lalu bagaimana tiket yang sudah dibeli? Tenang bisa dibatalkan kok. Prosedur pembatalan pembelian tiket kereta cukup mudah, (1) paling lambat pembatalan dilakukan satu jam sebelum keberangkatan, (2) membawa fotokopi KTP, (3) mendapat struk pembatalan yang ditukarkan uang sejumlah harga tiket setelah 30 hari.

Jadilah hari itu kami menggunakan bus untuk menuju Jogjakarta. FYI: Bus dari Jember menuju Jogja (langsung tanpa melewati Surabaya/ganti bus di Surabaya melanjutkan ke Jogja) ada pada pukul 16.00, 17.00, 18.00, 19.00, dan 20.00. Ayahku sebenarnya malas menggunakan bus karena tempat duduknya kurang nyaman, tapi ya mau bagaimana lagi? Mau lewat jalur ekspedisi tapi waktunya sudah gak banyak lagi dan ini demi keprofesionalan RUDYS Tailor. Sebelum berangkat aku mempersiapkan keamanan barang bawaanku terutapa dompet, uang dan handphone. Berikut tips aman saat perjalanan jauh ala Insinyur Pikun.
  1. Berdo'a.
  2. Selalu menggunakan celana jeans dan jaket bersaku "ekstra" saat bepergian jauh.
  3. Taruh dompet dan handphone disaku celana depan karena pasti aman.
  4. Jika tidak suka menggunakan jeans, taruh dompet dan handphone di saku "ekstra" (saku dalam) jaket.
  5. Cari informasi biaya angkutan yang akan kita tuju.
  6. Jangan taruh semua uang di dompet, taruh sebagian di tas, dan beberapa lagi (uang kecil) tersebar disaku celana, jaket, depan maupun belakang dengan jumlah yang harus diingat dan pastikan kita sudah mempersiapkan uang sejumlah biaya angkutan umum (seperti bus dan angkot). Jadi saat kondektur menagihnya atau kita ingin ngemil (beli mamiri), kita tinggal mengambil sejumlah uang pas dari kantong tanpa mengeluarkan dompet.
  7. Usahakan tetap fokus terjaga (tidak tidur).
Karena dalam pikiranku ayahku sudah kenyang dengan asinnya asam dan kecutnya garam, aku pikir beliau paham dengan hal ini. Ayahku juga sering melakukan perjalanan jauh seperti ini. Jadi aku tidak mengingatkan beliau. Bus sepi saat itu, ayahku menyarankan kami duduk dibelakang supir karena tempatnya luar. Ini pengalaman pertamaku duduk dibelakang supir, karena biasanya aku naik bus, tempat itu sudah ditempati orang. Ternyata memang enak, tempatnya luas dan viewnya juga menarik. Perjalanan cukup lancar sebenarnya namun penumpang tak banyak, aku hitung cuma 5 orang saja termasuk aku dan ayahku. Di Leces lalu-lintas padat merayap dan sampai Probolinggo jam 19.30. Kami makan malam disana. Ternyata sudah ada banyak penumpang yang menunggu bus. Akhirnya ramai dan kursi disebelahku ditempati orang. Aku liat jam sudah jam 11.00 aku pun udah gak kuat untuk terus terjaga. Aku cek kembali barang bawaanku, aku rasa aman aku coba memejamkan mata sebentar. Tak lama aku tertidur akupun bermimpi aku kecopetan! Seakan jantungku ditarik, aku terkejut dan terbangun aku memeriksa kembali seluruh barang disakuku tanpa sepengetahuan orang disebelahku. Ternyata semua masih lengkap. Aku gak coba memeriksa barang ayah, karena beliau sedang tidur, gak enak ganggu. Dan secara logika, tempat duduk beliau ada dipojok, jadi gak mungkin kecopetan tanpa melalui aku. Aku gak ingat saat itu jam berapa, tapi yang jelas perjalanan memasuki kota Nganjuk. Aku gak berani untuk tidur setelah itu.

Hampir jam 3 pagi kami sampai di pinggiran kota Solo. Sopir menepikan bus dan mengajak penumpang untuk buang air kecil. Ayahku ikut tapi gak jadi, yang dituju bukan toilet tapi di pinggiran got kecil. Setelahnya ayah kaget bukan main, dompet yang seharusnya ada di saku belakang tidak ada. Aku pun ikut kaget, bukan masalah kehilangan. Hah!? Saku belakang!? Aku gak kaget kalo dompet hilang, dompet di saku belakang rawan jatuh dan rawan copet. Aku coba menenangkan ayah yang sedang panik. Dari dulu aku memang hanya pendengar yang baik, bukan penghibur yang baik. Aku coba cari dibawah-bawah kursi, mungkin jatuh tapi tidak ada. Bukan perkara uang yang dibingungkan, meskipun bukan jumlah yang sedikit juga Rp 250.000 ditambah dengan struk pengembalian tiket KA senilai Rp 100.000, tapi surat-surat yang hilang ada SIM, 2 KTP (punyaku dan ayah), 2 ATM, STNK dan lain-lain.

Trip Nestapa Menuju Jogja
Sampai Jogja
Sampai depan terminal jogja adzan Subuh berkumandang. Supir menyarankan jika dijemput dengan barang bawaan sebanyak itu sebaiknya turun didepan gerbang terminal, biar nanti bawanya gak susah. Kamipun setuju. Aku dan ayah bergantian untuk sholat subuh. Setelah sholat ayah bercerita, kalo tadi memang terasa dompet agak muncul sedikit dari saku, tapi dia benerkan lagi. Beliau sudah merasa ada gak enak sejak perjalanan kami gagal menggunakan KA. Logawa. Beliau kepikiran apa lagi yang akan terjadi, dan selalu berdo'a untuk meminta perlindungan dari Allah. Ayahku lalu menyimpulkan kejadian ini, beliau berkata "Mungkin ini adalah peringatan dari Allah karena aku kurang beramal, mungkin ini ujian dari Allah, tapi semoga saja ini bukan adzab". Kemudian beliau melanjutkan, "Kalau urusannya udah selesai cepat pulang ya le, bantu papa ngurus surat-surat yang hilang". Yang awalnya aku merencanakan pulang Jum'at atau Sabtu (13 Oktotber), seketika itu juga aku memutuskan untuk pulang Selasa, 8 Oktober 2013.

Baca kisahku selanjutnya: Tak Selamanya Kolusi Itu Enak dan Trip Galau di Jogja. Jangan lupa baca juga Cara Mengurus Surat-Surat di Dompet Yang Hilang.


0 Response to "Trip Nestapa Menuju Jogja"

Posting Komentar