Trip Galau di Jogja

Trip Galau di Jogja
Selamat Ulang Tahun ke-257 Jogjakarta
Sebelum bercerita tentang kegalauanku saat trip di Jogja, izinkan aku untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-257 Jogjakarta, 7 Oktober 2013. Aku kurang tau yang benar itu Jogjakarta atau Yogyakarta. Tapi aku sudah terlalu terbiasa menggunakan Jogjakarta. Cerita ini merupakan lanjutan dari cerita nestapaku pada Trip Nestapa Menuju Jogja dan cerita berkolusi yang ternyata Tak Selamanya Kolusi Itu Enak. Setelah capek hari Minggu, 6 Oktober 2013, latihan silat dan kataman BS. Melati aku dan ayah menginap di rumah kakak ayah di Kotagedhe.

Senin pagi, 7 Oktober 2013, setelah bangun tidur kegalauan pertama terjadi. Aku teringan kalo masuk peron stasiun kereta api harus menunjukkan tiket+kartu identitas (KTP/SIM) sementara dompet ayah ntah dimana sekarang ini. Aku mengutarakan kegalauanku itu pada ayah, beliau ikut-ikutan galau pada akhirnya. Untungnya aku membawa Kartu Keluarga (KK) asli keluarga kami untuk keperluan mecari pekerjaan. Lalu saat itu juga kami langsung berinisiatif untuk menuju stasiun Lempuyangan menanyakan apakah ayah bisa masuk KA atau tidak, karena kartu identitas ayah tidak ada. Ternyata boleh, dan kami langsung kembali kerumah untuk siap-siap.

Jam 8.00 kami kembali ke Stasiun Lempuyangan dan sampai sana jam 8.30. Memantapkan rencanaku untuk pulang hari Selasa dan langsung mengambil antrian untuk membeli tiket pulang. Aku kecewa pada Stasiun Lempuyangan yang sistemnya saja bagus tapi eksekusinya buruk. Sistem antriannya rapi seperti di bank pakai nomor antrian, tapi lambat sekali. Bayangkan saja sejak aku pertama kali mengantar ayah ke stasiun nomor antrian masih 50an dan aku dapat nomor 98, tapi baru dapat tiket jam 10.00. Selama menunggu aku mulai galau lagi. Coba-coba baca link yang aku berikan ke adik tentang HUT Jogja ke-257, ternyata selama ini aku salah baca. Terbaca: "puncak acara tanggal 10", ternyata puncak acara adalah tanggal 7 Oktober 2013 (hari itu).
Puncak acara sendiri akan berlangsung pada 7 Oktober 2013 yang akan menggelar pawai budaya dan pisowanan agung pukul 14.00 sampai 17.30 WIB dari Taman Parkir Ngabean sampai ke Alun-alun Utara. (sumber: kompas.com)
Galauku meradang. Pasalnya rencana hari itu aku ingin ke Candi Prambanan, Candi Borobudur, Tamansari, Pantai Parangtritis. Kalau ditambah dengan nonton pawai budaya dan pisowanan agung di Alun-alun Utara, gak mungkin satu hari itu bisa selesai semua. Pengen rasanya aku geser jadwal pulangku satu hari. Tapi bagaimana dengan keadaan di rumah? Bagaimana dengan surat-surat ayah yang hilang? Pertempuran dalam hatiku tak kunjung mereda, sampai perutku sakit. Aku pun ke toilet. Ah damn! Lagi asik-asiknya ditoilet aku dengar ada pawai lewat depan stasiun Lempuyangan. Cuma bisa liat sisa-sisanya doang. Oh ya, FYI: Watku HUT ke-257 hari Senin, 7 Oktober 2013, siswa-siswa dari TK sampai SMA dan pegawai negri diwajibkan untuk menggunakan baju adat (kebaya).

Trip Galau di Jogja
Pawai di Depan Stasiun Lempuyangan
Setelah pawai habis aku kembali ke dalam stasiun. Halah nomor antrianku masih lama. Aku duduk menggalau lagi. Sebenarnya aku pengen banget datang nonton acara itu mumpung di Jogja dan ini diadakan 1 tahun sekali. Tapi letaknya dimana? Google Map mana Google Map? Kok gak Nampil ya?Karena aku pikir aksesnya susah dan ini adalah sebuah karnavalm pengalamanku nonton karnaval, Jember Fashion Carnaval, rame banget, malah yang ada kita nonton orang yang lagi nonton bukan karnavalnya. Jadi aku bulatkan tekat untuk tetap pulang hari Selasa dan melanjutkan rencana awal. Jam 10 aku baru bisa beli tiket pulang. Bingung juga sih, sudah sesiang itu apakah sempat menghabiskan semua tujuanku? Ya sudah kita liat saja nanti, yang penting harus segera bergegas menuju tujuan pertama. Rute terdekat dari Stasiun Lempuyangan sebenarnya adalah Tamansari, tapi aku kurang sreg dan mengganti destinasi pertamaku ke Candi Prambanan (33 km dari sana).

Trip Galau di Jogja
Peta Area Candi Prambanan
Sampai di Prambanan jam 11 lebih. Aku kaget karena biaya masuknya Rp 30.000 bukan harga yang murah bagiku yang serba berkekurangan saat melakukan traveling. Tapi udah jauh-jauh kesini masa gak jadi? Ya sudah masuk aja, nanti gak usah makan siang deh. Pertama aku ke kompleks Candi Roro Jongrang. Dari jauh aja udah keren.

Trip Galau di Jogja
Komplek Candi Roro Jonggrang - Candi Prambanan
Trip Galau di Jogja
Candi Siwa
Untuk memasuki komplek Candi Roro Jonggrang kita harus menggunakan sarung yang telah disediakan petugas disana. Aku iseng bertanya pada mbak-mbak yang membatu memasangkan sarungku (mbaknya cantik loh, kalo gak cantik aku males tanya hehehehe), apa arti dari penggunaan sarung. Dia menjawab hanya untuk melestarikan budaya dan tidak ada maksud lain. Ada tiga candi di komplek itu, Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu. Candi Siwa boleh kita masuki dengan memakai helm yang sudah disediakan oleh petugas.

Trip Galau di Jogja
Harus Memakai Sarung
Trip Galau di Jogja
Memasuki Candi Siwa Harus Memakai Helm
Trip Galau di Jogja
Berfoto Dengan Backpacker Dari Korea
Waktu lagi asyik-asyiknya motret candi-candi dan mengamati beberapa gadis cantik dari luar negri (bule), ada seorang Korea mendekatiku meminta bantuan memfoto dirinya dengan HPnya. Kami pun berkenalan, namanya Juno dan dia backpacker dari Korea sendirian.

Trip Galau di Jogja
Komplek Candi Sewu - Candi Prambanan
Trip Galau di Jogja
Foto Sendirian di Candi Sewu
Jarak dari Candi Roro Jonggrang ke Candi Sewu lumayan jauh. Aku gak itung berapa meter, sekitar 200-500 meter lah. Setelah keluar dari Candi Sewu, aku membaca sebentar sejarah dari Candi Sewu. 100 meter dari sana ada kandang Kijang totol dan seekor burung unta, eh tapi bukan dijadikan 1 kandang loh. Kandangnya berbeda. Lucu deh. Eh itu Kijang atau rusa?
Candi Sewu, yang merupakan candi Buddha, dibangun oleh Sri Maharaja Rakai Panangkaran, raja ketiga kerajaan Mataram Kuno. Sebagai seorang Buddha, iajuga membangun Candi Borobudur, Candi Kalasan, dan Candi Plaosan. Informasi tentang kapan candi ini dibangun dapat diketahui dari Prasasti Manjurigrha yang ditemukan tahun 1960. Prasasti yang ditemukan di dekat Candi Pewara nomor 202 ini menjelaskan tentang perayaan Prasada, Wajrasana Manjusrigrha pada tahun 714 Saka atau 792 Masehi. Candi Sewu selesai ketika Rakai Panangkaran sudah wafat sehingga ia tidak dapat menikmati keagungan Candi Sewu. Marjusrigrha berarti rumah Manjusri yang merupakan salah satu dari Bodhisattya yang memiliki posisi tertinggi dalam sakte Buddha Mahayana. Komplek Candi Sewu teridiri dari 249 candi, yaitu 1 candi induk, 4 pasang candi Apit, dan 240 candi Perwara. Candi induk berada di tengah dan dikelilingi candi Apit dan candi Perwara. Selain itu juga terdapat 4 pasang patung Dwarapala yang berada di keempat sisi pintu masuk halaman kedua. Pada kaki candi terdapat ornamen hias Pumakalasa atau vas bunga. Patung singa terdapat pada setiap sudut di antara struktur kaki candi dan tangga. Pada pipi tangga dihiasi Makara, Yaksa, Kalpawaksa, dan Snakha. dan Snakha.
Kijang Totol di Kawasan Candi Prambanan
Setelah puas berkeliling Candi Prambanan, aku liat jam ternyata sudah 12.30 lumayan capek dan kepanasan. Kemudian aku bersiap menuju tujuan selanjutnya Candi Borobudur, yang menurut Google Map 55 km dari sana. Jauh ye? Coba dulu deh. Aku coba menyusuri jalan yang ditunjukkan oleh Google Map. Sampai ada tulisan "Belok kiri arah Keraton". Aku berhenti sebentar di depan Universitas Teknik Yogyakarta dan melihat jam ternyata sudah 13.30 sementara jarak yang harus aku tempuh masih ada 33 km. Aku pikir belum terlambat kalau mau balik, karena arah keraton juga dekat. Perkiraanku kalo maksa ke Candi Borobudur, setidaknya sampai sana jam 14.30. Lalu mau di Borobudur sampai kapan? Sampai rumah jam berapa? Oke ganti destinasi saja. Pilihannya ada 2, Tamansari (disekitar keraton) atau pantai Parangtritis. Aku pilih yang seger-seger aja deh. Pantai.

Trip Galau di Jogja
Pasar Buku Soping
Ada kesalahan teknis saat menuju pantai Parangtritis yang justru mengarahkanku ke Jalan Malioboro. Mau ngapain aku disini? Duit pas-pasan, gak mungkin juga buat belanja oleh-oleh. Ya sudah dari pada rugi cuma nglewatin aja, mending sekalian jalan-jalan sebentar. Aku ingat didekat Malioboro terdapat Taman Budaya. Disana terdapat pasar buku yang orang sekitarnya menyebutnya soping. Aku memang lagi ada rencana cari buku lama, "The Way I Live Forever". Ternyata buku yang aku cari disetiap toko gak ada. Aku pun balik ke Malioboro dan berencana ke Keraton dari sana. Arahnya? Tanyakan saja pada si Mbah hahahaha. Beruntung belum tanya, sudah ada informasi bagus. Waktu diparkiran motor ada orang yang bertanya pada juru parkir arah menuju Keraton. Ternyata darisana dekat. Tinggal jalan lurus aja. Wah asik pasti Tamansari ada di daerah situ juga.

Trip Galau di Jogja
Malioboro
Monumen 11 Maret
Loh kok keadaan malah rame? Ada apa ada apa!? Wah... ternyata karnaval yang aku cari ada disini. Yippi ka yeay! Yok coba liat. Tapi seperti karnaval pada umumnya, susah buat liat. Aku jalan terus aja melewati lautan manusia.

Trip Galau di Jogja
Karnaval HUT Jogja ke-257
Trip Galau di Jogja
Karnaval HUT Jogja ke-257
Trip Galau di Jogja
Karnaval HUT Jogja ke-257
Ternyata aku sampai di Alun-alun. Disana ada banyak sekali layang-layang besar sedang mengudara. Aku tanya sama orang-orang disitu, ternyata itu bukanlah sebuah lomba atau adu ketangkasan. Mereka adalah Perhimpunan Pekarya Layang-layang Indonesia (Perkalin) yang ingin meramaikan HUT Jogja ke-257. Ada sebuah layang-layang yang sebesar tenda darurat bencana alam berbentuk paus yang coba diterbangkan.

Trip Galau di Jogja
Layang-layang Ikan Paus
Trip Galau di Jogja
Usaha Menerbangkan si Ikan Paus
Trip Galau di Jogja
Ikan Paus Mengudara
Trip Galau di Jogja
Layang-layang Manuver
Setelah si Ikan Paus mengudara, mereka menyiapkan layang-layang yang tak kalah besar, yaitu Naga yang panjangnya tak kurang dari 10 meter. Ternyata susah sekali dalam menerbangkannya. Butuh beberapa kali percobaan gagal. Awalnya bisa terbang sebentar dan tidak tinggi, tapi kemudian turun lagi. Si Naga keok!

Trip Galau di Jogja
Persiapan Layang-layang Naga
Trip Galau di Jogja
Persiapan Layang-layang Naga
Trip Galau di Jogja
Persiapan Menerbangkan Layang-layang Naga
Trip Galau di Jogja
Usaha Menerbangkan Layang-layang Naga - Pertama
Trip Galau di Jogja
Naga Berhasil Mengudara, Tapi Turun Lagi
Trip Galau di Jogja
Usaha Menerbangkan Layang-layang Naga - Kedua
Setelah beberapa kali gagal dan hari mulai gelap, mereka mengusahakan agar si Naga tetap bisa terbang dengan mengaitkannya pada layang-layang lain yang lebih mudah diterbangkan. Ini pun perlu usaha ekstra, karena panjang layang-layang ditambah dengan Alun-alun yang bertambah ramai. Si Naga berhasil terbang walau sebentar, tapi tetap turun lagi. Karena sudah hampir Magrib, mereka menghentikan usaha itu. Selain itu peserta karnaval lain yang telah tampil, memasuki area Alun-alun. Eits ada yang gak boleh dilewatkan diceritakan. Ada seorang pedagang Es Goreng yang asik bin nyentrik. Beliau berjualan dengan bergaya selayaknya penyiar radio dengan menggunakan spiker seadanya. Tapi tetap asyik untuk didengarkan.

Trip Galau di Jogja
Naga Terbang diBantu Layang-layang lain
Trip Galau di Jogja
Naga Terbang diBantu Layang-layang lain
Trip Galau di Jogja
Anak Gadis Ikut Mengendalikan Layang-Layang
Trip Galau di Jogja
Es Goreng
Trip Galau di Jogja
Prajurit Patang-Puluhan
Trip Galau di Jogja
Peserta Karnaval
Trip Galau di Jogja
Peserta Karnaval
Trip Galau di Jogja
Peserta Karnaval
Adzan Magrib berkumandang, semua peserta bergegas menyelesaikan semua barang bawaannya dan menyelesaikan pekerjaannya. Penonton pun pulang ada juga yang menuju Masjid Keraton. Aku memilih untuk sholat Magrib di Masjid Keraton. Ternyata Masjidnya indah, besar. Apa lagi ya kata-kata yang pantas mendeskripsikannya? Subhanallah...

Trip Galau di Jogja
Masjid Keraton
Trip Galau di Jogja
Masjid Keraton
Setelah Shjolat Magrib aku bergegas pulang. Spupuku bertanya apa aku jadi ke Tamansari? Aku cerita kalo di daerah Keraton tadi ramai, jadi tutup semua. Ternyata Tamansari tidak berada dikawasan keraton, tapi perempatan menuju Keraton itu belok kanan, dekat dengan Keraton. Sedikit kecewa dengan planingku. Aku malah pengen spend 1 hari lagi untuk ke Tamansari, Pantai Parangtritis, Candi Borobudur. Aku jadi membulatkan tekat untuk menukar tiket kereta api  jadi hari Rabu.

Trip Galau di Jogja
Stasiun Lempuyangan
Jam 6 pagi aku langsung menuju stasiun Lempuyangan untuk menukarkan tiket. Ternyata untuk menukarkan tiket kita diharuskan membayar uang administrasi sebesar 25% harga tiket. Uang lagi... ahh... Dan loket baru buka jam 7, sementara sepupuku harus mengantarkan suaminya kerja sedangkan sepeda motornya aku bawa. Damn! Sudahlah wurungkan saja niat menambah satu hari. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Di kereta aku mengalami galau berkepanjangan. Aku berfikir kapan lagi bisa ke Jogja? Masih banyak tempat yang belum aku kunjungi. Tapi ke galauanku itu mendadak sirna ketika ada anak kecil yang begitu aktif bersama ibunya. Setiap ada sesuatu pasti dia bertanya pada ibunya, "itu apa bu?", lucu sekali. 1 Gerbong dibuatnya tertawa. Aku pun tertawa sembari mengingat masih banyak PR di Jogja.

Trip Galau di Jogja
Anak Kecil di Kereta
Ini sebuah PR yang harus dipikirkan dengan keras (#mikirkeras). Kemarin di Candi Prambanan aku berkenalan dengan seorang backpacker dari Korea bernama Juno. Meskipun dengan Bahasa Inggris yang berantakan. Tapi dia mengerti apa yag aku maksud, bahkan kami sampai tertawa bersama saat saling bercerita. Entah dia menertawakan betapa berantakannya grammar Inggrisku atau bagaimana. I don't know but I don't care too. Di kreta perjalanan pulang menuju Jember, kebetulan aku duduk dikelilingi oleh bapak-bapak sepuh. Dengan hormat aku mencoba berbasa-basi dengan mereka (kali aja punya anak atau cucuk cewek yang siap merit gitu hehehehehe). Basa-basi standart sebenarnya, bertanya dari mana dan mau kemana. Eh si bapak menjawab dengan Bahasa Jawa Halus. Aku mengerti arti ucapan bapak itu, tapi aku kebingungan dalam menjawabnya. Dengan campuran kromo (baca: sebutan untuk Bahasa Jawa halus) dan ngoko (baca: sebutan untuk Bahasa Jawa kasar). Memang seperti kacang yang lupa akan kulitnya. Aku sendiri berdarah campuran Jawa Tengah (ayahku) dan Madura (ibuku). Tapi aku tak pernah pandai pada dua bahasa itu. Terutama Bahasa Madura. Jangankan Bahasa Madura halus, yang kasar saja aku tidak terlalu paham. Hanya mengerti apa yang orang lain ucapkan, tapi tak jarang gak bisa menjawab dengan lancar bagkan sering campur-campur dengan Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Ini PR yang harus segera aku kerjakan. Gak mungkin kan selamanya berbasa-basi dengan Bahasa Indonesia bukan? Kalau nanti camerku seorang Jawa atau Madura tulen dan aku masih belum fasih menggunakan kedua bahasa tersebut bagaimana? Bisa hancur kewibawaanku broh! (yah mesikipun sebenarnya aku memang terlihat tidak memiliki kewibawaan). Ah calon pacar aja gak ada, kok udah mikirn camer hahahhaha... Ngimpi!

Baca kisahku sebelumnya: Trip Nestapa Menuju Jogja dan Tak Selamanya Kolusi Itu Enak.


Lirik Lagu Jogja Istimewa: Jogja Jogja tetap istimewa. Istimewa negerinya istimewa orangnya. Jogja Jogja tetap istimewa. Jogja istimewa untuk Indonesia. Rungokno iki GATRA seko Ngayogyakarta. Negeri paling penak rasane koyo swargo. Ora peduli dunyo dadi neroko. Ning kene tansah edi peni lan mardiko. Tanah lahirkan tahta, TAHTA UNTUK RAKYAT. Di mana rajanya bersemi di Kalbu rakyat. Demikianlah singgasana bermartabat. Berdiri kokoh untuk mengayomi rakyat. Memayu hayuning bawono. Seko jaman perjuangan nganti merdeko. Jogja istimewa bukan hanya daerahnya. Tapi juga karena orang-orangnya. Tambur wis ditabuh, suling wis muni. Holopis kuntul baris ayo dadi siji. Bareng poro prajurit lan senopati. MUKTI utowo mati manunggal kawulo gusti. Menyerang tanpa pasukan. Menang tanpa merendahkan. Kesaktian tanpa ajian. Kekayaan tanpa kemewahan. Tenang bagai ombak gemuruh laksana merapi. Tradisi hidup di tengah modernisasi. Rakyatnya njajah deso milang kori. Nyebarake seni lan budhi pekerti. Elingo kabare Sri Sultan Hamengku Buwono Kaping IX. Sakduwur-duwure sinau kudune dhewe tetep wong jowo. Diumpamake kacang kang ora ninggalke lanjaran marang bumi sing nglairake dewe tansah kelingan. Ing ngarso sung tulodo. Ing madya mangun karso. Tut wuri handayani. Holopis kuntul baris ayo dadi siji. Sepi ing pamrih rame ing nggawe. Sejarah ning kene wis mbuktikake.
Jogja istimewa bukan hanya tuk dirinya.
Jogja istimewa untuk Indonesia.


2 Responses to "Trip Galau di Jogja"

  1. Menarik sekali Mas cerita edisi berkeliling yogyakarta... Mas boleh kasih saran seumpama sampeyan klu ke Yogyakarta ataupun destinasi lain,,, ceritakan juga keseruan mengenai kuliner yang Mas pernah makan dan juga kendaraan apa yg harus ditempuh untuk ke wisata tersebut bersamaan dana dibutuhkan... oh ya Mas request cerita2 misteri yg pernah dialami
    maternuwon sebelumnya nambah wawasan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya Lih... kalo ngetrip aku jarang berkuliner ria. Berhemat-hemat pokoknya... Setiap trip aku pasti berkendara sepedah motor hahahaha, itu juga selalu aku ceritakan kok. Kalo misteri... Alhamdulillah belum ngalamin.

      Hapus