Tak Selamanya Kolusi Itu Enak

Tak Selamanya Kolusi Itu Enak
Fotoku Saat Kecil Berlatih Silat
Ini lanjutan dari ceritaku Trip Nestapa Menuju Jogja dalam rangka mengirim baju seragam dan jas almamater pelatih BS Melati? Trip kali ini menuju Jogja kurang bergembira. Ada banyak kenestapaan disana. Mulai dari batal naik kereta api sampai dompet ayah hilang dalam perjalanan. Sekedar mengingatkan, kami sampai depan terminal jogja pas adzan Subuh berkumandang. Kami dijemput jam setengah 6 pagi.

Aku dan ayahku ke Jogja mengantar seragam dan jas almamater pelatih BS Melati yang akan digunakan pada acara pengukuhan anggota baru dan kenaikan tingkat hari Minggu, 6 Oktober 2013. Acara ini disebut dengan "Kataman BS. Melati". BS Melati yang didirikan oleh alm. Kakek bersama dengan alm. Pakdheku (kakak ayahku), yang sekarang diteruskan oleh putra Pakdheku (sepupuku, Bung Erik), merupakan organisasi seni bela diri silat di bawah naungan IPSI. BS Melati tersebar di banyak kota besar yang tersebar diseluruh Indonesia dan beberapa kota di Malaysia. BS sendiri merupakan singkatan dari Budi Suci. Memang didalamnya mengajarkan budi luhur yang harus ditaati oleh semua anggotanya.

Tak Selamanya Kolusi itu Enak
Bandara Samsudin Noor Bersama Adik
Ayah dulunya juga seorang pelatih untuk cabang Jember. Tapi karena dirasa perkembangan di Jember kurang baik, ayah pindah ke Banjarmasin - Kalimantan Selatan dan cabang Jember tutup. Awalnya cuma ayah yang pergi kesana, tapi beberapa bulan kemudian mengajak ibu dan adikku, aku ditinggal di Jember bersama kakek dan nenekku. Lalu selang beberapa bulan kemudian aku juga dijemput. Kami menggunakan kapal laut menuju Kalimantan. Naik kapal laut seru,2 hari 2 malam terombang-ambing diatas laut. Bisa jalan-jalan kesana kemari. Ah jadi rindu sama suasana laut di atas kapal laut, aku ingin sekali lagi dalam seumur hidupku ke Kalimantan menaiki kapal laut sekedar untuk bernostalgia. Perkembangan di Banjarmasin baik. Menurut cerita ayah dan ibu, aku dulu hafal semua jurus BS dan aku sangat disayang semua orang di organisasi ini. Kenapa? Dulu aku anak yang lucu, sama siapa saja mau ikut. Tahun 1996 BS diguncang prahara perpecahan sehingga BS di Banjarmasin bubar dan kami sekeluarga pulang ke Jember.

Bali ke cerita di Jogja 2013, di perjalanan dari stasiun Jogja menuju tempat kataman di Kulon Progo, ayah ditelpon Bung Erik dan meminta aku untuk ikut kataman saja. Aku sih mau aja, tapi aku belum latihan jurus dasar sama sekali, aku belum hafal jurusnya. Kata Bung Erik sih gakpapa. Pikirku saat itu, wah kolusi nih, tak apa lah nikmati saja. Enak to? Sampai ditempat tujuan aku kembali ditanyai kesediaanku mengikuti kataman. Aku jawab iya saja, pokoknya budhal tok wes! Untuk itu aku dipanggilkan seorang sabuk coklat untuk melatihku 10 jurus dasar. Satu jam, dua jam, sampai tiga jam, aku gak bisa hapal 10 jurus dasar itu. Karena dirasa sudah agak hafal jurus dan mas sabuk coklat (aku lupa namanya hehehehe) itu juga ada urusan lain, dia pamit undur diri. Aku coba latihan sendiri sebentar, dan ruangan itu sudah dipenuhi beberapa pelatih dan pengurus muda. Aku diajari oleh mereka. Disini ini gak enaknya kolusi:
  1. Aku anak pelatih, sudah seharusnya aku hafal jurus sebelum kataman.
  2. Seakan diistimewakan karena aku masih mempunyai darah keturunan pendiri.
  3. Itu semua menjadi sebuah beban dalam pikiranku, sampai sepertinya menutup pikiranku untuk menghafal.
Akupun dipanggil ayah untuk ikut mengurusi administrasi keanggotaan BS Melati. Ayah sepertinya kemana-mana selalu membanggakankku yang baru lulus menjadi seorang sarjana. Aku sendiri risih sebenarnya, bukan ingin menghentikan betapa bangganya ayahaku karena punya anak sarjana, tapi karena kesarjanaanku tidak setinggi yang dibangkanan oleh ayahku. IPku cuma 2,71 dan aku baru lulus setelah 6 tahun. Dalam mengurusi keperluan masuk BS Melati ayah yang sibuk, aku sampai speachless. Sambil mengurusi administrasi itu ayah bertanya tentang apa saja yang diajarkan tadi, ya aku jawab "sesuai dengan permintaan papa, jurus dasar". Lalu ayah tanya lagi, "Reflek dan lain-lain?". Aku cuma geleng-geleng. Dipanggilah lagi mas sabuk coklat untuk melanjutkan latihanku. Latihan kali ini adalah tentang reflek, yaitu saat pelatih mengatakan "Jurus A", aku harus memperagakan jurus tersebut. Damn! Dari dulu, dari kecil cara hafalanku ya seperti ini, dalam pelajaran apapun pasti seperti itu. Aku harus memaksa otakku untuk memngingat bukan hafalan secara urut. Sebenarnya kalo disuruh memperagakan jurus secara urut aku sudah mahir, tapi kalau reflek!? Sulit... karena sudah telat. Kalau dari awal begitu caranya, ya aku pasti sudah hapal sekarang ini. Akhirnya jam 3 sore kataman pun dimulai.

Tak Selamanya Kulusi itu Enak
Prosesi Kataman
Setelah kataman, seharusnya aku ikut dalam prosesi peragaan jurus bersama seluruh anggota dan dewan guru. Tapi kata ayah dan Bung Erik gak usah, biarkan saja. Latian dulu yang rajin baru ikut peragaan. Sebenarnya aku ingin sekali ikut peragaan, biarpun nanti dihukum atau ditendang pelatih gak masalah. Tapi, yang ayahku dan Bung Erik takutkan saat peragaan aku malah salah reflek jurus yang akan berakibat fatal pada teman yang lain. Dan aku dan ayah harus segera merapat ke Kotagedhe dan segera istirahat karena besok ayah pulang ke Jember. Dalam perjalanan menuju Kotagedhe ayah mengajakku langasung kerumah saudaraku yang lain, untuk meminjam sepedah motor yang akan aku gunakan berkeliling besok. Tapi aneh... jalan yang seharusnya sudah aku hapal, aku lupa begitu saja. Pikiranku seakan tertutup. Sulit sekali menghafal 10 jurus dasar bahkan jalan kerumah Tante Nuning pun aku lupa. Ada apa dengan otakku yang selalu aku banggakan? Cepat sekali menerima pelajaran baru. Ya meskipun tak jarang cepat lupa (inisialku Insinyur Pikun bukan?) Apa ini efek umur? Bukannya ada pepatah mengatakan, "Belajar di waktu muda seperti menulis di atas batu, belajar di waktu tua seperti menulis di atas pasir". Ini maksudnya adalah waktu muda belajar memang sulit (seperti memahat batu), tapi akan selamanya terngiang didalam benak kita, saat tua kita belajar, tapi ketika sudah tua malah yang sering hilang adalah bukti belajarnya, tak ada kata terlambat untuk belajar. Heelllooooo.... C'mon... twenty four my age! Eh kok jadi kayak Vicky ya hehehehe.... I'm 24 years old. Aku masih muda! Tapi ada apa? Apa aku kurang membaca? Kurang melatih konsentrasi? Kurang melatih ingatan? Adakah cara yang tepat?

Baca juga kisahku sebelumnya: Trip Nestapa Menuju Jogja dan kisahku selanjutnya: Trip Galau di Jogja.


0 Response to "Tak Selamanya Kolusi Itu Enak"

Posting Komentar