Masih Tentang Kritik


sedikit intermezzo yang dicopy dari twitt tetangga sebelah:

(just kidding) kalo kata "serius, demi apa dan beneran" ditulis "ciyus? miapah? enelan?" berarti kalimat "sory nggak sengaja" bakal ditulis "coly nga cengaja"

yuk budayakan menulis dengan benar biar gak salah kaprah :)

Bagi yang belum mengerti apa guna blog ini bagiku, posting ini aku tulis bukan untuk curhatan dan galau-galau-an. Tapi untuk mengingatkanku betapa pentingnya masalah ini. Berawal dari status diatas, ide posting ini dimulai. Status Facebookku 19 Desember 2012 Pukul 16:34 ini ternyata dipermasalahkan oleh dua orang dan mungkin banyak orang tapi gak bisa ikut komentar. Status yang sejatinya intermezzo dan bercandaan malah jadi serius. Gak lama setelah status ini dibuat, ada sebuah koment yang menyarankan dan mengkritik bahwa menulis yang benar itu tidak saja menulis tanpa singkatan saja tapi menggunakan tanda baca yang tepat dan penggunaan huruf kapital. Sebenarnya aku gak kenal siapa yang komentar, asal ada di Friend List FB aja, tapi memang komentarnya berbobot dan benar. 

Krisna memang benar menulis dengan benar itu adalah dengan penggunaan tanda baca "." (titik) dan huruf kapital dengan benar . Tapi sebenarnya ada alasan yang tidal bisa saya ucapkan distatus itu, karena memang saya paling tidak suka membawa masalah 'B' ke masalah 'A'. Sama saja seperti saat main game online, sudah bosan pakai karakter level besar, bikin karakter level kecil tapi dirusuh. Karena kalah, muncul lah karakter level besarnya dan si tukang rusuh kalah dan gak terima dia keluarin lah karakter level besarnya juga dan akan terus begini gak bakal kelar.

Alasan kenapa aku menulis seperti itu pada status FB karena gak jarang aku menggunakan status FB sebagai ide penulisan posting dan kujadikan quote (kebanyakan temanku tau dan mengerti soal ini, jika ada respon bagus di statusku maka itu akan menjadi posting di blog). Untu membedakan mana quote yang dari web lain dan mana quote yang dari statusku sendiri, biasanya statusku aku tulis dengan huruf kecil semua dengan tanda koma atau enter sebagai sparator. Tapi jika alasan ini aku gunakan, pasti yang dibahas gak cuma statusku tapi merembet sampai ke blog ini. Terlepas dari alsan kenapa aku menggunakan cara menulis seperti itu dalam FB, Krisna pun mengatakan, "Ga mau pakai huruf kapital dan tanda baca (titik) soalnya itu udah style kamu? Orang-orang yang nulisnya alay atau ga lengkap juga bisa beralasan sama.". Iya memang aku mengerti soal style masing-masing masing tapi yang membuatku terus komentar adalah sebenernya si Krisna ngerti gak si apa alasan aku menulis status ini?

Alasan aku meng-copy tulisan "(just kidding) kalo kata "serius, demi apa dan beneran" ditulis "ciyus? miapah? enelan?" berarti kalimat "sory nggak sengaja" bakal ditulis "coly nga cengaja"" (twit aslinya seperti ini) dari twiter seorang teman adalah pengen sama-sama semua menulis dengan lengkap jadi gak ada yang salah baca, sementara arti "coly nga cengaja" itu jorok. Alasan kedua adalah aku sendiri sering kesulitan baca sms/chat teman dengan tulisan yang aneh-aneh. Solusinya sebenernya aku belajar saja cara membacanya, tapi kenapa aku harus susah? bukankah kita semua waktu kecil ada pelajaran Bahasa Indonesia jadi pasti semua orang mengerti. Oke lah kalo percakapan secara langsung mau ngomong gaya gimana juga bisa ngerti, tapi kalo tulisan gimana? Bukannya menjudge para penulis yang seperti itu tidak CINTA pada BAHASA INDONESIA, tidak sama sekali. Ini lebih ke ajakan bahwa ada yang bisa dimengerti semua orang lalu kenapa menggunakan yang cuma dimengerti beberapa orang saja? Cuma itu saja, tapi aku diminta untuk lebih sempurna.

Kemudian muncul teman Krisna, Revo. Dia juga gak kalah hebohnya komentar. Aku yang sudah kadung mengerti apa yang dipermasalahkan Krisna dan mengerti dimana salahnya malah sedikit bingung dengan komentar Revo. Yang akhirnya aku mengerti bahwa mereka gak suka aku mengajak orang untuk menulis dengan benar versiku, padahal aku juga salah versi mereka, aku tetap ngotot dengan argumenku, diapun juga. Ternyata setelah beberapa saat aku sadar, ini adalah cara menyalahkan orang lain dengan cara menggiring si orang mengaku "saya salah" dengan psikologi dan mental. Aku mengerti apa masalah yang per-salahkan oleh versi mereka dan sebenarnya saat aku juga ngerti bilang "oke aku salah", perdebatan akan cukup disitu. 

Tapi apa boleh dikata, aku masih gak terima dengan kata-kata yang sedikit merendahkanku dan menyombongkan dirinya sendiri dan membalik beberapa fakta aku pun tak terima. Tak terima dengan ucapannya, aku sampai berbohong aku sudah lulus dari S1 Teknik Elektro (aamiiin) padahal skripsinya masih belum selesai dan memang sedikit lagi selsesai. Alih-alih ke anti-klimaks sebelum klimaks, Revo malah pindah ke statusku yang lain dan aku sudah lupa. Dia terus mengkritisi yang sebenarnya saya sendiri bodoh telah menanggapinya, karena apa yang dibicarakan saya mengerti. Tanpa diduga dia menyimpulkan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku gak ngerti itu sengaja atau tidak sengaja, tapi aku langsung sadar
Sekarang kita faham kenapa loe, Adtih Zamrud Pikuun, itu sering disalahartikan kata2nya oleh orang lain terus (sejauh ini udah ada dua contoh, dan potensi kemungkinan terulang di masa depan sangat besar) adalah dari mindset elo yang tidak menganggap pemahaman orang lain atas kata2 loe itu penting.

Aku gak ngerti itu sengaja atau tidak sengaja, tapi aku langsung sadar bahwa ini permasalah peliknya! Cuma ini! Masalah tentang anggapan penghinaanku atas para alay atau kelompok lain atau masalah penggunaan titik dan huruf kapital itu masalah masing-masing personal dan gak bakal ada titik satunya seperti garis lurus yang sejajar.



Ternyata setelah mengerti bagaimana cara mengkritik orang dengan baik dan tidak melukai orang lain dan coba aku terapkan, aku belum pernah mencoba menerima kritikan keras. Selalu aku lawan dengan keras pula. Setelah aku menulis tulisan "Berpikir... berpikir... berpikirlah yang baik, berpikirlah positif"  dan "Aku ini tukang kritik atau tukang sinis?" aku selalu mencoba untuk melihat suatu masalah atau orang lain dengan pandangan ku dan pandangan orang lain pula (bukan dirinya) juga mencoba mengkritik dengan himbauan bukan kritikan pedas. Aku bisa melihat sebuah masalah dengan kaca mata orang lain dan selalu mengerti. Aku bisa menilai orang lain dengan kaca mataku dan orang lain juga. Bahkan hasil tulisanku, "Aku tak pernah dihargai?", aku sadar ketika tidak ada yang menghargaiku, itu berarti memang aku belum pantas dihargai. TAPI AKU TAK PERNAH BISA MENILAI DIRIKU DENGAN KACA MATA ORANG LAIN, KARENA AKU BELUM MENGERTI. Semua kata-kata kasar dan cemo'ohan mendadak sirna dari pikiranku, yang terfikir cuma rasa terima kasih karena telah menjawab permasalahan yang telah lama ada dan sepertinya mengakar pada diriku.


Mari coba kita tela'ah ketika Krisna mengkritik dan memberi saran padaku dan aku terima, pasti semalam gak bakalan panjang dan bisa download RO 2 dengan santai.



Terimakasih pada orang-orang yang tak kukenal ini. Terimakasih banyak.



Barrakallahu minna wa minkum.


0 Response to "Masih Tentang Kritik"

Posting Komentar