(Seperti Game) Semakin meningkat sesuai kemampuanku


Sudah lama aku sadar dan mengambil kesimpulan bahwa kesulitan hidup akan selalu meningkat sesuai dengan kemampuan manusia. Dan sekali lagi aku merasakannya.

Ketika masuk SD tak ada yang namanya MOS alias Masa Orientasi Siswa, tapi waktu SMP ada. Dengan  semua aturan-aturan yang gak ada gunanya pikir seorang siswa yang beranjak remaja (ya sampe sekarang juga aku pikir gak ada gunanya, tapi kalo tujuannya buat bentuk mental siswa sih OKE). Tapi MOS SMP gak ada apa-apanya kalo dibanding MOS SMA. MOS di SMA lebih kejam dari pada MOS SMP. MOS di SMAN 2 Jember sangat berat, ada panitia MOS, ada OSIS, ada TATIB yang setiap hari marah-marah gak jelas. Setelah masuk kuliah, ada yang namanya OSPEK. OSPEK lebih gila lagi, aturan-aturannya lebih berat. Masuk halaman kampus harus jam 5 pagi, pulang jam 3 sore. Untuk makan siang, mahasiswa baru diwajibkan membawa Nasi+Telor ceplok, yang biasa disebut nasi teknik. Belum lagi tugas mencari tanda tangan yang banyak dan gak gampang (harus dikerjain dulu sama senior).


Perjalanan setelah OSPEK ternyata mirip seperti OSPEK. Kuliah juga beberapa kali ada jadwal jam 5 pagi. Bahkan lebih miris daripada OSPEK, kalo OSPEK kita bawa nasi buat bekal, tapi kalo kuliah ngga bawa. hahahaha. Belum lagi kalo ada tugas, praktikum, laporan praktikum, minta tanda tangan DOSEN lebih susah dari pada minta tanda tangan ke panitia OSPEK. Apa lagi kalo dah tugas akhir alias skripsi, lebih susah lagi...


Tapi... MOS, OSPEK, tugas kuliah, dan skripsi itu semua gak ada apa-apanya kalo kita sudah kerja. Karena kerja jauh lebih sulit dan menantang.


Kesimpulanku.
  1. Menghadapi Panitia MOS itu lebih mudah dari pada menghadapi Panitia OSPEK.
  2. Menghadapi Panitia OSPEK itu lebih mudah dari pada menghadapi DOSEN Penguji dan Pembimbing saat Skripsi
  3. Menghadapi DOSEN Penguji dan Pembimbing saat Skripsi itu lebih mudah dari pada menghadapi BOS dikantor.
  4. Saat kita menjadi karyawan, menghadapi MANAGER itu lebih mudah dari pada menghadapi DIREKTUR dan menghadapi DIREKTUR itu lebih mudah dari pada menghadapi klient/pelanggan/konsumen langsung. Karena kata-kata pelanggan kita lebih pedas dari pada bos kita. 
  5. Hidup seperti game, dalam game kita menghadapi musuh yang setingkat dengan kemampuan kita, dalam hidup kita akan menghadapi masalah setingkat dengan kemampuan kita. 
(Kesimpulan ini ku dapat dari pengalamanku kerja wirausaha bareng papaku di RUDYS TAILOR, kerja sebagai OP di warnet COIN, bekerja sebagai troubleshooter PT ICON+ SERVPO V, dan pengalaman pertamaku meeting bareng orang-orang PT ICON+ di ketintang Surabaya, Jum'at 13 April 2012 atau bisa juga baca disini pengalaman lainnya http://kerikilberlumut.blogspot.com/2012/04/pengalaman-adalah-guru-yang-berharga.html).

Intinya adalah gak usah lah banyak mengeluh atas kerjaan yang berat, karena didepan masih ada kerjaan yang jauh lebih berat yang menunggu. Kalo gak mampu ya lepasin, kalo merasa mampu ya ambil.

Semoga aku dan kita semua juga mampu untuk tidak banyak mengeluh dan menghadapi  kerjaan yang sekarang kita hadapi.

Barrakallahu minna wa minkum.



1 Response to "(Seperti Game) Semakin meningkat sesuai kemampuanku"